Lewat Puisi, Cara Kreatif Ajak Anak Cinta Baca

0
15

SELASA, 21 MARET 2017

LAMPUNG — Aktivitas menularkan budaya literasi yang dilakukan oleh penggagas armada Pustaka Bergerak di Lampung, Sugeng Hariyono, selalu ditunggu oleh anak-anak usia sekolah di beberapa desa dan kecamatan serta kabupaten.

Vanka Anjani mengajari anak membaca.

Sugeng Hariyono (31) yang juga merupakan fasilitator Perpustakaan Seru (Perpuseru) Kabupaten Lampung Selatan, mengaku, saat ini terus melakukan aktivitas berkeliling ke desa- desa membawa buku bacaan serta memberikan donasi buku dan alat tulis secara cuma-cuma kepada anak-anak kurang mampu terutama di pelosok yang mengalami kesulitan akses pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan oleh Sugeng Hariyono dalam menumbuhkan minat baca, kecintaan akan buku, serta mengajak menyukai dunia buku salah satunya dengan puisi.

Sugeng Hariyono menegaskan, penggunaan puisi yang dilakukannya merupakan cara para relawan Pustaka Bergerak khususnya dirinya sebagai penggagas armada Pustaka Bergerak mengajarkan anak-anak mencintai menulis dan membaca. Aktivitas harian Sugeng Hariyono berkeliling kampung tersebut bahkan mulai diikuti relawan lain meskipun di Lampung ia dikenal sebagai penggagas Motor Pustaka, Cethul Pustaka, Onthel Pustaka serta diikuti oleh relawan lain di antaranya dengan program Perahu Pustaka, Saung Belajar, Konter Pustaka, dan Motor Gede Pustaka dengan mendatangi anak-anak usia sekolah di pedesaan.

“Hari ini rencananya kami akan melakukan kegiatan di beberapa desa yang berada di sekitar bantaran Sungai Way Pisang di Kecamatan Penengahan yang mana anak-anaknya harus berjalan kaki sekitar lima kilometer untuk sekolah dan melewati sungai,” terang relawan armada Pustaka Bergerak sekaligus fasilitator Perpuseru Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (21/3/2017).

Mengemban amanat untuk memberikan donasi alat-alat tulis di antaranya buku, tas, bolpoin, ia selalu menggelar buku-buku di tempat anak-anak berkumpul. Setiap kali keliling kampung, Sugeng Hariyono mengaku, membawa sekitar 300 jenis buku yang dipinjamkan dan diberi waktu peminjaman sekitar 1 minggu dengan satu orang diberi tanggungjawab untuk mengumpulkan buku tersebut saat peminjaman tahap selanjutnya akan dilakukan. Di sela-sela meminjamkan buku, ia juga membawa beberapa lembar kertas kosong dan juga bolpoin yang digunakan untuk memberi kesempatan anak-anak menuliskan ide, harapan dan juga kesan dalam sebuah kertas.

“Kertas polos saya siapkan lalu bolpoin yang saya berikan gratis digunakan untuk menulis puisi, temanya macam-macam terkadang cinta tanah air, orang tua, alam atau harapan anak-anak,” ungkap Sugeng Hariyono.

Sugeng yang terkadang dibantu oleh relawan lain di antaranya Depfa (23) sebagai relawan Ransel Pustaka dan sang isteri Asih Kurnia (29). mengarahkan anak-anak untuk menulis puisi. Baginya, menulis puisi hanyalah satu cara untuk memberi rasa nyaman kepada anak-anak yang didatangi, terutama setelah jeda membaca buku. Selain itu, beberapa permainan juga diberikan sebelum anak-anak diberi kesempatan membaca buku-buku yang dibawa. Puisi-puisi dengan beragam tema, dengan tulisan beragam cara tersebut, ungkap Sugeng Hariyono, di antaranya diwajibkan sekitar dua hingga lima bait.

Setelah puisi-puisi tersebut selesai dibuat, Sugeng Hariyono dibantu relawan lain memajang karya anak-anak tersebut dengan cara menggantungkan pada sebuah tali rafia yang distraples. Beberapa puisi yang dipilih diberi kesempatan untuk dibacakan di depan umum untuk memberi keberanian anak-anak tampil di depan umum. Selain bisa dibaca oleh rekan-rekan yang lain, puisi puisi tersebut akan dikumpulkan bersama dengan ratusan puisi yang juga telah ditulis oleh beragam anak-anak usia sekolah dari berbagai kecamatan di antaranya Kecamatan Ketapang, Kecamatan Sragi, Kecamatan Penengahan, Kecamatan Kalianda, serta sebagian dari Kabupaten Lampung Timur.

“Puisi-puisi yang kini jumlahnya mencapai ratusan tersebut masih kami kumpulkan, nanti rencananya saat jumlahnya mencapai seribu puisi akan dibukukan dan sedang kami pilah-pilah sesuai tema,” ungkap Sugeng Hariyono.

Selain memberi kesempatan menulis puisi, kesempatan untuk mengembangkan kreativitas juga dilakukan oleh Sugeng Hariyono dengan mewajibkan anak-anak memiliki buku kendali bacaan. Buku kendali bacaan tersebut dimiliki anak-anak yang didatangi sebagai catatan buku-buku yang telah dibaca agar saat dirinya datang anak-anak bisa mengingat buku bacaan apa saja yang belum dibaca.

Sugeng Hariyono mengungkapkan, dari sekitar 3600 lebih buku yang menjadi koleksi armada Pustaka Bergerak, ia mengaku, merupakan donasi dari berbagai pihak yang peduli tentang pendidikan anak di pedesaan. Namun, diakuinya, dari sekitar 3600 buku lebih tersebut terdiri dari beragam jenis buku mulai dari buku ilmu pengetahuan, cerita bergambar, fiksi, komik, buku keagamaan, buku pertanian, buku kelautan, buku perkebunan serta berbagai jenis buku untuk anak-anak.

Ia mengaku, saat ini porsi buku sastra, puisi di antara jenis buku lain masih kalah jumlah jika dikalkulasi ia menyebut hanya sekitar 3 persen. Ia bahkan masih berusaha untuk membeli buku-buku bertema sastra dengan pesan moral yang baik melalui cerita rakyat, peribahasa rakyat yang digambarkan dalam cerita dongeng, fabel (cerita binatang) yang sarat akan pesan moral dan nilai positif. Meski sekarang, buku-buku puisi dan sastra jumlahnya mencapai ratusan namun jumlah tersebut masih sangat dirasa kurang, terlebih buku yang menyasar anak.

“Saya terlebih dahulu menyortir buku bacaan yang diberi oleh para donatur karena sebagian besar komik dan buku ilmu pengetahuan, buku puisi beberapa saja lengkap dengan gambarnya,” ujar Sugeng Hariyono.

Buku-buku yang dibawa Sugeng diminati anak-anak.

Saat ini, ia mengaku, sebagai fasilitator masih berusaha mencari donatur buku sastra agar anak-anak lebih menyukai membaca buku dibandingkan menonton televisi dan aktivitas lain. Meski sebagian belum bisa membaca ratusan buku namun cukup dengan cerita bergambar. Sekitar 3600 buku koleksi milik armada Pustaka Bergerak diakuinya tersebar di sejumlah relawan literasi dan mulai dipinjamkan oleh para relawan untuk menjangkau anak-anak di pedesaan.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar