Lulusan UMB Dibekali Sertifikat Kompetensi

64

KAMIS, 30 MARET 2017
 
JAKARTA — Melalui sistem pembelajaran berbasis kompetensi dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), Universitas Mercu Buana memberikan garansi kualitas lulusannya. Melalui SKPI itu, track record mahasiswa sejak Semester I hingga VIII, bisa dilacak, sehingga tidak hanya modal ijazah yang berisi transkip nilai semata.

Rektor UMB, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM.

Sebagai perguruan tinggi terakreditasi unggulan, UMB terus berkomitmen membentuk lulusannya menjadi calon profesional berdaya saing yang tidak hanya mengandalkan nilai hasil ujian, melainkan juga sertifikasi kompetensi (SKPI), yang menunjukkan integritas mahasiswa selama menempuh pendidikan dari Semester I hingga lulus. SKPI ini menjadi salah satu unggulan dari UMB, yang kini tengah bersiap meraih akreditasi kelas internasional.

UMB tidak lagi menekankan Sistem Kredit Semester (SKS), Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Sistem tersebut dinilai membuat mahasiswa malas masuk kuliah, karena berprinsip yang penting nilai UTS dan UAS-nya bagus, bisa lulus. UMB yang fokus membangun daya saing, lebih menekankan pentingnya konsistensi dan komitmen yang tidak bisa instan.

“Maka, keikutsertaan mahasiswa dalam perkuliahan itu menjadi penting, dan pada prinsipnya, kuliah itu memang membangun konsistensi serta komitmen. Tidak mentang-mentang pintar, lalu tidak masuk kuliah dan hanya masuk ketika ujian saja,” ujar Rektor UMB, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM.

SKPI mencatat detil riwayat belajar mahasiswa sejak awal semester hingga diwisuda. Dunia employer akan mengetahui integritas mahasiswa dari SKPI itu, bahkan mengetahui tingkat kedisiplinan mahasiswa mengikuti perkuliahan. Misalnya, jam masuk dan keluar mahasiswa, berapa kali tidak masuk kuliah, bisa diketahui melalui SKPI.

Menurut Aris, UMB tidak hanya mengandalkan hasil pengajaran semata. Namun juga mengajarkan Tri Darma, yaitu penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengajaran yang harus seimbang. Dengan demikian, output-nya tidak hanya mahasiswa yang lulus, atau buku-buku buatan dosen, namun juga hak paten dan hak cipta yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

“Kita tidak akan puas hanya sampai pada Akreditasi A. Berikutnya kita akan mencoba eksis di dunia internasional. Jadi, selalu ada satu langkah ke depan untuk peningkatan. Salah satunya yang sudah berjalan setahun ini adalah kelas berbahasa Inggris untuk bidang manajemen dan sistem informasi,” pungkas Aris.

 Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Cendana News

Komentar