Lusia Yuli Hastuti, Gigih Kenalkan Puisi pada Anak di Pelosok Lampung

130

SELASA, 21 MARET 2017

LAMPUNG — Bagi Lusia Yuli Hastiti (28), kegiatan menulis puisi merupakan aktivitas yang tak lepas dari kesehariannya. Sebagai salah satu guru di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Desa Girimulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, ia mengaku, kerap mencurahkan isi hati atau kegelisahan hatinya dalam bentuk puisi.

Lusia Yuli Hastuti mengajarkan perihal puisi di rumah belajar Suluh Harapan Insani di pelosok Lampung Timur.

Ia mengaku, menyukai puisi karena membuat puisi berarti mengasah otak dengan penggunaan kata-kata pilihan yang mengandung arti sama tetapi lebih indah, mengasah kemampuan berpikir menuangkan ide, menggali informasi dan menambah perbendaharaan kata serta mengerti maknanya. Karenanya, ia menyebut, menulis atau menciptakan puisi berarti harus mengerti keindahan bahasa atau tata bahasa yang tepat.

Bagi wanita yang mengajar di sekolah dan mendirikan rumah belajar Suluh Harapan Insani di desanya tersebut, membuat puisi juga tak hanya melihat unsur keindahan (estetika), namun juga bisa menyalurkan ide-ide atau gagasan yang tidak bisa diucapkan secara langsung. Berbagai media yang kerap digunakan untuk menuangkan puisi, diakuinya, saat ini masih sebatas jejaring sosial Facebook, buku harian serta sebagian sudah dikirimkan ke majalah yang membahas rubrik sastra di Lampung.

“Kalau puisi yang saya buat jumlahnya puluhan dalam arti puisi yang betul-betul sudah dipublikasikan namun sebagian masih tersimpan di buku khusus yang saya buat sejak kuliah.  Saya juga berencana membuat buku puisi,” ungkap Lusia Yuli Hastiti, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (21/3/2017).

Ia mengaku, sesuai dengan pengalamannya dalam membuat puisi, rata-rata merupakan puisi bertemakan religi sesuai dengan ajaran Katolik yang dipeluknya. Beberapa puisi yang telah diterbitkan, menurut Lusia Yuli Hastiti, di antaranya “Harapan”, “Tanpa Surat Izin”, “Syukur kepada Tuhan”. Kekhasan puisi-puisi Lusia Yuli Hastiti, berdasarkan pantauan Cendana News, menggunakan model sajak rata-rata empat bait yang menggambarkan perasaan dan harapannya sebagai seorang manusia di tengah alam semesta sehingga penggunaan alam, majas-majas dan personifikasi terlihat dominan di puisi-puisinya.

Puisi Lusia Yuli Hastuti di sebuah majalah.

Selain menjadi konsumsi untuk capaian estetika personal dan puisi yang dimuat dalam majalah, beberapa puisi yang diciptakan oleh Lusia Yuli Hastiti di antaranya menjadi pembahasan dalam rubrik sastra. Salah satu penyair Lampung Ch. Dwi Yuli Nugrahani yang menuliskan artikel tentang unsur-unsur puisi bahkan menjadikan puisi-puisi Lusia Yuli Hastiti sebagai bahan kajian. Misalnya puisi berjudul “Namanya Manusia” dalam terbitan majalah Nuntius yang merupakan majalah intern Keuskupan Tanjungkarang, edisi September 2016.

Dalam bahasan puisi tersebut, CH. Dwi Yuli Nugrahani menggunakan puisi milik Lusia Yuli Hastiti berjudul “Namanya Manusia” untuk membahas unsur-unsur puisi. Unsur puisi yang dimaksud di antaranya tema (pokok pikiran), rasa, nada dan pesan. Selain itu, unsur puisi lain yang dijabarkan di antaranya unsur luar/kemasan di antaranya diksi, imaji, dan ritme. Selanjutnya, adalah majas atau gaya bahasa yang merupakan ungkapan khas yang muncul karena hendak mengkonkretkan imajinasi.

Beberapa majas atau gaya bahasa yang kerap digunakan, tulis Ch. Dwi Lusi Nugrahani, di antaranya majas metafora, personifikasi, hiperbola, dan sebagainya. Selanjutnya, ritme atau irama yaitu kesan bunyi yang teratur dan melodius karena permainan kata dalam puisi. Meski puisi modern tidak ketat mengatur hal tersebut, tapi penyair harus memperhatikannya dengan cermat.

Sayang sekali saat Cendana News hendak mewawancarai Ch. Dwi Yuli Nugrahani yang dikenal sebagai penyair Lampung tersebut, tidak bisa dihubungi karena sedang berada di Manila Filipina. Wanita yang juga bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang tersebut, saat dikirimi pesan melalui messenger di jejaring sosial Facebook juga belum ditanggapi.

“Kalau Mba Dwi Yuli Nugrahani menjadi guru sekaligus tutor bagi saya mempelajari puisi dan mendukung saya untuk menjadi penyair wanita,” ungkap Lusia Yuli Hastiti.

Menyukai puisi secara pribadi, tidak lantas membuatnya berpuas diri. Maraknya berbagai gelaran lomba atau kompetisi cipta dan baca puisi di sekolah, membuat Lusia Yuli Hastiti sebagai pengajar sebuah SMP swasta di Lampung Timur pun ikut mengajarkan puisi kepada murid-muridnya di rumah belajar Suluh Harapan Insani. Beberapa pelajaran tentang puisi dari mulai teknik menulis, memilih tema hingga menampilkan juga diajarkan oleh Lusia Yuli Hastiti. Sebagai penyuka puisi, Lusia mengaku, ingin mengikuti jejak sang senior Ch. Dwi Yuli Nugrahani yang dikenal sebagai penyair wanita Lampung.

Puisi karya Lusia Yuli Hastuti dibahas di sebuah majalah.

Memiliki puluhan siswa di rumah belajar dengan ribuan koleksi buku, diakuinya, sebagian merupakan buku-buku bacaan untuk anak-anak usia sekolah. Namun, ia secara khusus memisahkan koleksi buku sastra termasuk puisi di rak-rak sederhana yang ada di bangunan berdinding papan yang dikenal dengan rumah belajar Suluh Harapan Insani di pelosok Lampung Timur tersebut.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar