Mahasiswa Tuntut Akper Tegal Segera Dimerger

67

SABTU, 25 MARET 2017

TEGAL — Ratusan mahasiswa berunjukrasa menuntut Akademi Perawat (Akper) Pemkot Tegal, Jawa Tengah, segera dimerger dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, menyusul kebijakan Walikota Kota Tegal yang hendak menutup Akper Pemkot terkait Peraturan Menteri Dalam Negeri, yang melarang Pemerintah Daerah atau Kota melaksanakan kegiatan pendidikan.

Unjukrasa menuntut merger Akper Tegal dengan Kemenkes di DPRD Tegal

Unjukrasa digelar saat DPRD Kota Tegal menggelar rapat dengar pendapat bersama Walikota Kota Tegal membahas persoalan tersebut. Aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen mahasiswa lingkup Kota Tegal ini, sempat berlangsung ricuh, karena tidak satupun perwakilan dari dosen dan mahasiswa yang ikut masuk mengikuti jalannya rapat. Alhasil aksi saling dorong pun terjadi dengan aparat.

Mantan Ketua Umum HMI Cabang Tegal, Subheki Prawirodijoyo mengatakan, ia mengikuti aksi ini karena sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap kondisi pendidikan di Kota Tegal. “Meski saya bukan mahasiswa Akper Pemkot, tapi saya punya rasa kepedulian terhadap jalannya pendidikan yang kental dengan ilmu pengetahuan bukan sebaliknya,” katanya.

Sementara itu pengamat pendidikan di Kota Tegal, Dr. Yayat Hidayat, mengatakan, jika seharusnya Pemerintah Kota Tegal pro aktif saat mendengar Peraturan Mendagri yang tidak memperbolehkan Pemerintah Daerah menyelenggarakan kegiatan pendidikan tinggi. Sebab, meski Pemerintah Kota melayangkan surat permohonan merger ke Kemenkes, tapi tidak serta merta akan terlaksana. “Proses ini masih cukup panjang, dari mulai penyerahan aset, dan proses administrasi lainnya. Namun selama proses merger ini berlangsung, hendaknya aktivitas pendidikan harus tetap berjalan. Jangan sampai mengorbankan mahasiswa,” ujarnya.

Suasana aksi semakin memanas, manakala massa mahasiswa mendengar rapat dengar pendapat telah selesai, tapi Walikota enggan untuk bertemu mahasiswa. Mereka bertekad tidak akan memperbolehkan Walikota keluar dari lingkungan DPRD Kota Tegal, sebelum menandatangani surat merger ke Kemenkes. Mobil Walikota pun dihadang massa, hingga bentrok dengan aparat polisi pun terjadi. Mahasiswa Akper yang sebagian besar perempuan berteriak histeris dan menangis karena kejadian tersebut.

Sesaat setelah Walikota keluar, Ketua DPRD Kota Tegal Edi Suripno, SH. MH., menyampaikan kepada mahasiswa, bahwa Walikota telah melayangkan surat ke permohonan merger ke Kemenkes tertanggal 20 Maret 2017, dan menunjukkan bukti tanda terima surat dari Kemenkes. Tapi, ini menjadi awal, proses masih panjang, kita harus mengawal proses ini sampai tuntas, hingga Akper Pemkot berhasil merger dengan Kemenkes. Perjuangan dalam pendidikan merupakan perjuangan ideologi sehingga harus tetap diperjuangkan,” kata Edi di hadapan masaa yang menggelar aksi pada Jumat (24/3/2017), petang tersebut.  

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Komentar