Mahmudi, Setia Lestarikan Kesenian Hadroh

191

KAMIS, 23 MARET 2017
 
LAMPUNG — Alunan musik yang dikenal dengan nama darbuka atau sejenis kendang dari mika yang merupakan alat musik perkusi atau tabuh dengan lihai dimainkan Mahmudi (32), warga Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Diiringi dengan syair sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang secara indah dilantunkan dengan iringan darbuka, kedua tangannya terlihat lihai memainkan alat musik tersebut. Ritme yang mendayu-dayu serasa di Timur Tengah.

Mahmudi, warga Desa Pematang Pasir pelestari kesenian Islami Hadroh.

Namun, alat musik darbuka, menurut Mahmudi, hanyalah satu dari beberapa bagian alat musik untuk iringan mengumandangkan sholawat dengan kesenian yang disebut dengan hadroh atau dikenal pula dengan marawis. Beberapa alat musik untuk kesenian hadroh lengkap, di antaranya rebana/terbang, keplak, calty/kendang tumbuk, bas, serta beberapa alat tambahan lain.

Mahmudi menuturkan, hadroh berdasarkan pemahaman umum di masyarakat Ketapang merupakan kesenian Islami yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menuturkan, kisah kesenian tersebut diketahuinya dari tradisi lisan. Bermula  pada saat baginda nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Baginda nabi disambut gembira oleh orang-orang anshor dengan nyanyian/syair yang dikenal dengan sholawat thola’al badru ‘alaina dengan diiringi tabuhan terbang.

Laki-laki yang sejak kecil dididik di salah satu pesantren di Jawa Tengah tersebut menjelaskan, makna hadroh dari segi bahasa diambil dari kalimat bahasa Arab, yakni hadhoro atau yuhdhiru atau hadhron atau hadhrotan yang berarti kehadiran. Namun, kebanyakan hadroh diartikan sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Dari segi istilah atau definisi, hadroh menurut tasawuf adalah suatu metode yang bermanfaat untuk membuka jalan masuk ke hati. Karena orang yang melakukan hadroh dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah dan Rasul-Nya.

Syair-syair Islami yang dibawakan saat bermain hadroh mengandung ungkapan pujian dan keteladanan sifat Allah dan Rasul yang agung. Dengan demikian, akan membawa dampak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Para sufi yang biasanya melibatkan seruan atas sifat-sifat Allah yang Maha Hidup (Al-Hayyu), melakukannya sambil berdiri, berirama dan melantunkan bait-bait pujian atas baginda Nabi Muhammad.

“Saya pertama kali mengetahui saat di pesantren dan kesenian tersebut bisa membawa kita sebagai seorang Muslim yang mampu menghayati kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad dan tentunya bisa semakin meningkatkan ketaqwaan melalui kesenian,” ungkap Mahmudi, saat ditemui Cendana News di rumahnya di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kamis sore (23/3/2017).

Hadroh/hadrah, ungkapnya, selalu menyemarakkan acara-acara Islam seperti peringatan maulid nabi, tabligh akbar, perayaan tahun baru hijriyah, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya. Sampai saat ini, hadroh cukup berkembang di wilayah Kabupaten Lampung Selatan khususnya di Kecamatan Ketapang sebagai musik yang mengiringi pesta pernikahan, sunatan, kelahiran bayi, acara festival seni musik Islami dan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahan, pesantren, remaja masjid dan majelis taklim.

Laki-laki suami dari Mahmudah (28) tersebut mengisahkan, awal mula menekuni musik Hadroh  saat dirinya pulang dari pesantren Saidatul Maarif di Parakan Jawa Tengah dan sudah menekuni hadroh di pesantren. Ketika ia pulang, ternyata di kampungnya kesenian hadroh sudah cukup dikenal, dan bak gayung bersambut ia melihat kesenian tersebut cukup dikenal dan disukai masyarakat.

Selanjutnya, ia mulai berkumpul bersama rekan-rekan sesama peminat dan pecinta kesenian hadroh yang saat ini menjadi grup musik dan selanjutnya Mahmudi membentuk grup kesenian hadroh bernama Grup ”Nurul Musthofa“ yang berdiri sejak 2001 dengan sebanyak 15 orang anggota aktif pada awalnya.

Antusiasme masyarakat dan penerimaan masyarakat akan kesenian hadroh tersebut, diakui Mahmudi terlihat dengan banyaknya grup, perkumpulan atau dikenal dengan “jamaah” hadroh. Bahkan khusus di Desa Pematangpasir hingga saat ini ada sekitar 10 jamaah shalawat hadroh di antaranya grup Shoutu Dhomir, Al Falah, Barikli, Mohabatain, A Salikin termasuk grup Hadroh Nurul Musthofa di mana dirinya sebagai pengurus dengan tugas sebagai bendahara.

Kini, seiring perkembangan zaman dan dengan berminatnya umat Muslim khususnya di Kecamatan Ketapang, di beberapa desa lainnya pun mulai berkembang grup kesenian hadroh. Dalam satu grup rata-rata berisi 40 orang yang merupakan perkumpulan sholawat hadroh.

Beberapa kegiatan yang selalu menampilkan kesenian hadroh di wilayah Desa Pematang Pasir di antaranya kegiatan resepsi pernikahan, khitanan, pengajian, acara-acara nasional, pemberian nama anak serta acara lain.

“Kalau saiful hajat menghendaki kita tampil, biasanya kita diundang seperti halnya grup musik lain yang ditanggap dan ini menjadi salah satu cara kesenian hadroh dikenal luas,” ungkapnya.

Selain memiliki grup-grup kecil pertemuan antar grup hadroh selanjutnya secara rutin mengadakan pertemuan atau komunitas atau jemaah setiap 36 hari sekali (selapanan). Perkumpulan grup hadroh dikenal pula dengan Majelis Sholawat Al Madad yang terdiri dari sekitar 17 grup berasal dari beberapa desa. Di antaranya Desa Sidoasih, Desa Pematang Pasir dan Desa Sumberagung yang merupakan desa-desa di wilayah Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Sragi.

Lokasi yang dipilih biasanya grup atau komunitas serta pesantren yang merayakan milad atau hari jadi dan menjadi ajang silaturahmi serta belajar antar anggota kesenian hadroh. Kesenian hadroh, diakuinya, masih didominasi kaum laki-laki namun kini mulai banyak ditekuni dan dipelajari oleh para wanita terutama siswa- siswa atau santri di beberapa pesantren yang ada di Kecamatan Ketapang. Sang istri pun ikut terlibat dalam pembinaan kesenian hadroh di wilayah tersebut khusus untuk grup hadroh wanita.

Sang Istri Ikut Bina Generasi Muda Lestarikan Hadroh
Dominasi kaum laki-laki dalam kesenian hadroh di wilayah Kecamatan Ketapang, diakui Mahmudi, mulai terpatahkan setelah beberapa grup hadroh perempuan mulai eksis. Bahkan sebuah grup dengan nama “Nurul Muhibah” dengan diketuai sang isteri, Mahmudah, hingga kini mulai semakin dikenal. Awal mula anggota hadroh Nurul Muhibah pimpinan Mahmudah beranggotakan 15 dan tetap dilatih sang suami.

Mahmudah mengungkapkan, minat generasi muda pada kesenian Islami tersebut ditunjukkan dengan banyaknya anak usia sekolah mendaftar dan ingin belajar kesenian hadroh di antaranya para santriwati. Sebagian anak usia SMP dari anak sekolah MTS Muhajirin pun mulai membentuk grup kesenian hadroh.

Ketua grup hadroh Nurul Muhibah, Mahmudah, yang juga istri dari Mahmudi mengaku, bersama sang suami merasa memiliki kepedulian untuk melatih kesenian hadroh bagi generasi muda karena dirinya  juga sama dengan sang suami merupakan lulusan pesantren. Bahkan kini telah menikah dan dikarunia putri berumur 7 tahun serta tetap berdedikasi membina anak muda dalam kesenian hadroh.

“Ini merupakan kesenian Islami dan menjadi kegiatan positif sehingga perlu dilestarikan karena lingkungan kami kerap ditampilkan hadroh maka sebagian cukup mengenal syair dan alat  musiknya,” ungkap Mahmudah.

Ia menyebut kegiatan positif kesenian hadroh bahkan menjadikan wilayah Kecamatan Ketapang yang menjadi pusat kesenian hadroh di Lampung Selatan cukup dikenal seiring dengan banyaknya pesantren yang berdiri di wilayah tersebut.

Diamini sang istri, Mahmudi yang sehari-hari bekerja sebagai penjual dan pembeli kayu bahan bangunan di panglong miliknya tersebut mengaku, selama tampil sejak awal berkomitmen untuk mensyiarkan sholawat sehingga dalam penampilan tidak pernah meminta atau mematok untuk penampilan kesenian hadroh yang dibinanya. Bahkan jika penanggap atau yang mengundang memberikan dalam bentuk uang maka akan digunakan sebagai uang kas untuk pemeliharaan alat musik kelompok hadroh binaannya. Sementara untuk sound system selama ini masih menyewa. Direncanakan akan bisa dipenuhi dengan membeli peralatan tersebut dari uang iuran.

Penampilan hadroh grup Nurul Musthofa.

Suami-istri yang sama sama lulusan pesantren dan menyukai kesenian hadroh tersebut mengaku, meski kesenian yang ada kini harus bersaing dengan jenis kesenian modern namun hadroh dipastikan akan tetap lestari di Kecamatan Ketapang. Mahmudi dan Mahmudah bahkan optimis hadroh merupakan sarana untuk syiar Islam dalam bentuk kesenian dan membawa umat Islam untuk lebih khusuk dalam bersholawat sembari berharap generasi muda bisa semakin mencintai kesenian tersebut.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar