Makassar Kategori Krisis Air

57
RABU, 22 MARET 2017

MAKASSAR — Hari Air Sedunia. Banyak permasalahan yang masih belum terselesaikan tentang air. Di Makassar sendiri masuk dalam kategori krisis. Termasuk juga sistem tata kelola air seperti di hillir dan hulu. Ada juga daerah resapan air seperti hutan juga sangat krisis. Daerah ekosistem kars juga sudah banyak yang butuh penanganan.

Asmar Exwar, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel.

Menurut Asmar Exwar, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel, 2,1 juta hektar hutan di Makassar sudah krisis dan daerah kars juga sudah rusak dan menjadi daerah pertambangan marmer. Seperti di Maros, Pangkep dan Barru malah baru mau dieksploitasi.

“Padahal untuk kars tersebut tidak hanya berguna di daerah itu saja. Tapi juga berguna untuk daerah sekitarnya. Penggunaan air tanah tapi tidak disertai dengan adanya tindakan konservasi ini juga salah satu alasan air di daerah Makassar menjadi krisis,” demikian ungkap Asmar Exwar kepada Cendana News di kantor Walhi, Rabu (22/3/2017).

Tidak hanya itu, menurut Asmar, Pemerintah juga harus bertindak tegas dengan adanya perusahaan yang tidak sesuai dengan amdal. Hal itu akan membuat sungai dan air tanah menjadi tercemar.

Selain itu  juga, tata kelola air, terkait jumlah perusahaan, penggunaan air perlu dibatasi. Jangan sampai air dijadikan korporasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak air yang diproduksi oleh perusahaan air minum, padahal itu merupakan hak semua orang dan itu tidak bisa diperjualbelikan. Pemerintah semestinya bisa membatasi itu,” tutup Asmar.

Di Makassar, peringatan hari air juga dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompeng. Balai ini melakukan pembersihan air kanal. Kegiatan dilakukan di Kelurahan Pampang.

Menurut Ir. Agus Setiawan, Kepala Dinas BBWS, hal ini dilakukan sebagai pemacu kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan kanal.

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah  / Editor: Satmoko / Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Komentar