Manfaatkan Drum Bekas, Warga Solo Ekspor Kursi ke Eropa

161

SELASA, 28 MARET 2017
 
SOLO — Melalui tangan kreatif, barang bekas rupaya bisa disulap menjadi kerajinan yang bernilai tinggi. Seperti halnya yang dilakukan Warga Solo, Jawa Tengah, yang mampu mengubah drum bekas menjadi funitur yang mampu dipasarkan ke luar negeri.

Meja dan kursi kreasi Hendra berbasis drum.

Ya, dialah Hendra, pria yang setiap hari bekerja di Pasar Kabangan,  sebuah pasar yang menjadi pusat barang bekas aluminium dan plastik, di Solo, Jawa Tengah. Dengan bermodal kreativitas, pria 42 tahun ini mampu membuat berbagai kerajinan dari drum bekas.  Mulai dari kursi, dudukan lampu, berbagai aksesoris rumah tangga hingga robot.

 “Usaha ini sudah berjalan 4 tahun. Bermula dari pesenan teman yang meminta membuat kursi dari drum bekas. Setelah itu ternyata peminatnya cukup banyak,” ucap Hendra saat ditemui Cendana News, Selasa (28/3/2017).

Semula, warga asli Klaten itu hanya membuat kursi dari tong bekas. Itu hanya untuk sambilan kesibukannya di pasar. Namun setelah banyak peminatnya, ia pun mulai menekuni usaha yang bergerak di bidang kerajinan tersebut.  Dalam sebulan, Hendra mampu memproduksi kursi dari drum bekas  4-5 unit kursi. “Itu ada yang ukuran kecil dan besar. Tergantung pesanan saja kita buat,” aku pria yang memiliki 4 pekerja itu.

Harga yang dibandrol untuk kursi dari tong bekas itu tidak terlalu mahal, yakni kisaran Rp 400.000– Rp 1.000.000, tergantung besar kecil kursi dan tingkat kesulitan pembuatannya.  Pasar kursi milik Hendra ini bahkan lebih besar untuk ekspor dibanding memenuhi pesanan dalam negeri. “Kalau dipersentase 70 pesen untuk luar negeri dan sisanya pesanan dalam negeri,”  ungkap dia.

Kreasi kursi berbasis drum.

Untuk memenuhi pesanan luar negeri, lanjut Hendra, ada kriteria khusus untuk kursi yang dibuatnya. Yakni, drum bekas yang akan dibuat kursi harus ada tulisan, seperti merek drum bekas ataupun lainnya. Sedangkan untuk pelanggan dalam negeri,  kursi dari drum bekas itu lebih memilih untuk dicat ulang. “Kalau untuk yang ekspor tidak mau dicat. Pokoknya minta yang ada tulisan asli dari drum bekasnya,” jelasnya.

Sebagian besar pasar kerajinan kursi dari drum bekas miliknya merambah ke pasar Eropa. Seperti Inggris, Spanyol, Itali, Belgia dan Amirika.  Selian kerajinan kursi bekas, selama ini Hendra mengaku mendapat pesanan perabotan rumah tangga lainnya. “Ada yang minta dibuatkan lampu duduk dari barang bekas, ada juga yang tengah dikerjakan robot dari drum bekas,” imbuh pria yang menetap di daerah Laweyan tersebut.

Dalam sebulan, wirausahawan muda ini mampu mengekspor kerajinan dari drum bekas itu 3-4 kali. Menurut Hendra, setelah proses pembuatan kerajinan dengan memanfaatkan barang bekas itu jadi sudah langsung diambil dan dikirim ke luar negeri.  Proses pengiriman kerajinan miliknya, selama ini juga tidak ada kendala. “Ada kendala, kadang bahan bakunya yang agak sulit. Tapi saya cari sendiri, pilih yang bagus yang ada tulisannya,” ungkap Hendra.

Hendra, ubah barang bekas jadi bernilai kreatif tinggi.

Di tengah kreativitas membuat kerajinan dari drum bekas itu, Hendra berharap pengusaha-penguasa lainnya mampu berkreativitas sehingga dapat memaksimalkan potensi yang ada di sekitar kita. Dari usaha yang digelutinya itu, bapak 2 anak itu mendapatkan untung yang cukup membanggakan. “Alhamdulillah hasilnya lumayan. Omzet per bulan bisa mencapai Rp20 juta,” pungkasnya.

Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto:  Harun Alrosid 

Komentar