Maryaeni, Puisi adalah Bekal Membentuk Karakter Seseorang

97

RABU, 22 MARET 2017

MALANG — Melalui puisi seseorang bisa mengekspresikan apa yang ia pikirkan.  Melalui puisi seseorang bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan. Melalui puisi seseorang  bisa mengeksplor kemampuannya. Melalui puisi seseorang  bisa menjadi lebih sopan. Melalui puisi seseorang bisa menjadi lemah lembut dan melalui puisi pula karakter seseorang bisa dibentuk dengan lebih baik.

Maryaeni.

Itulah beberapa kehebatan puisi yang disampaikan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd kepada Cendana News, Selasa (21/3/2017).

“Kalau seseorang  tidak punya perasaan yang halus, tidak memiliki kepekaan, maka orang tersebut hanya bisa membaca puisi sama seperti membaca koran, tanpa mengetahui pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya di Kafe Pustaka UM.

Saat ini pemerintah sedang giat-giatnya melakukan penguatan karakter. Padahal, menurut Maryaeni, seharusnya yang perlu dibenahi dulu adalah akar masalahnya. Akar budaya Indonesia yang adiluhung sekarang  ini pelan-pelan sudah mulai tercerabut, padahal itu sebenarnya pondasi bangsa kita untuk menjadi bangsa yang berkarakter. Melalui puisi inilah bisa digunakan sebagai media untuk mendidik dan membekali generasi muda agar berakal budi yang baik, berakal budi yang halus dan sopan, inilah hebatnya puisi.

Untuk membuat sebuah puisi, menurut Maryaeni, tidak harus selalu bergantung pada teori. Karena menulis puisi merupakan wadah seseorang untuk mengeksplor kemampuan  dan mengekspresikan suatu keadaan atau jiwanya. Ekspresi jiwa ini yang biasanya muncul dalam karya-karya tersebut karena seseorang dalam membuat puisi lebih cenderung melihat alam dan kondisi lingkungan sekitar.

Kalau seseorang hanya berkutat pada teori, maka bisa jadi seseorang  tidak akan jadi menulis karena takut salah. Mau menulis puisi yang panjang atau pendek itu tidak masalah, karena itu adalah ekspresi kejiawaan, psikologis seseorang.

“Apa yang ditangkap oleh penulis, itu akan diolah berdasarkan rasa sehingga menjadi indah. Jadi mengajarkan anak-anak untuk berkarakter sopan santun dan halus, seharusnya bisa melalui berpuisi, bermusik, berteater, menari,” ucapnya.

Lebih lanjut Maryaeni mengatakan, saat ini lomba puisi dari tingkat SD sampai perguruan tinggi itu sudah seringkali diadakan, tentunya dengan mengangkat tema yang beragam. Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya harus tetap dipertahankan supaya berpuisi itu tetap sebagai suatu kegiatan sekaligus mengasah psikologis, mengasah akal budi dan  mengasah karakter diri seseorang.

“Oleh karena itu saya sangat mengapresiasi kepada guru-guru yang mengarahkan anak-anak didiknya untuk menulis puisi, cerpen. Kalau hal ini bisa diteruskan, yang namanya pendidikan karakter, lemah lembut, sopan santu, bisa jalan dengan sendirinya. Tapi kalau semuanya harus berorientasi pada ilmu pengetahuan dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya rasa, akal budi, ya akan susah,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

Komentar