Melasti di Pura Segara Batu Putih, Jadi Berkah Para Pedagang

78

SABTU, 25 MARET 2017

LAMPUNG — Padatnya  halaman luas Pura Segara Batu Putih, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, oleh masyarakat yang melakukan upacara Melasti dari berbagai wilayah di Kecamatan Ketapang, Sragi dan kabupaten lain, membawa berkah bagi para pedagang.

Sejumlah pedagang memanfaatkan ramainya upacara melasti

Pedagang yang biasanya berjualan di rumah dan keliling kampung, berpindah lapak menjajakan dagangannya di halaman luas Pura Segara Batu Putih. Aneka makanan dan minuman pun dijual oleh para pedagang tersebut. Seperti lumpia, bakso, siomay, air mineral, kelapa muda dan ketupat tahu, mie ayam, makanan tradisional berbagai jenis untuk sarapan terutama bagi umat Hindu yang datang sejak pagi dengan lokasi yang sangat jauh hingga puluhan kilometer dari lokasi penyelenggaraan Melasti.

Pedagang makanan tradisional berupa pecel, soto ayam, bakso, gado-gado, Ni Ketut Dharmi (50), adalah salah satu dari sekian banyak pedagang tersebut. Wanita asal Desa Sumbernadi, Ketapang, ini berjualan makanan tradisional sejak pagi sebelum ribuan umat Hindu datang ke Pura Segara Batu Putih. Hari-hari biasa wanita ini berjualan di rumahnya. Namun karena Melasti, wanita ini mencoba peruntungan berjualan di sela upacara Melasti.

“Saat hari biasa, di lokasi ini tidak ada pengunjung bahkan ada pengunjung saat ada acara-acara khusus dan letaknya yang berada di dekat perkebunan dan pantai membuat tempat ini tidak terlalu banyak pengunjung. Namun, karena ada melasti saya berjualan di sini” ungkap Ni Ketut Darmi, saat ditemui di dekat lapangan khusus yang tak jauh dari Pura Segara Batu Putih, Sabtu (25/3/2017).

Ni Ketut mengaku, barang dagangannya cukup laris, terutama makanan kecil berupa gorengan, minuman ringan, serta sejumlah makanan tradisional lainnya. Ia yang berjualan bersama sang suami, Kadek Subagio, bahkan sempat kewalahan akibat banyaknya pembeli yang memilih makanan sebelum upacara Melasti berlangsung. Beberapa termos nasi, lontong dan racikan soto ayam yang disiapkan pun hampir habis sebelum upacara Melasti dilangsungkan. “Banyak warga yang datang hampir tiga jam sebelum Melasti dimulai, dan terutama warga yang membawa serta anak-anak menyempatkan sarapan terlebih dulu di warung dadakan yang saya buat,” ungkapnya.

Ni Ketut berjualan hingga selesainya acara Melasti, sehingga ia yang juga akan mengikuti upacara Melasti tersebut harus bergantian dengan sang suami untuk berjualan. Omzet sekitar ratusan ribu diakuinya diperoleh selama berjualan, terutama untuk memberikan keperluan warga yang tak sempat sarapan di rumah masing-masing dan terpaksa makan di tempat upacara Melasti berlangsung.

Hal sama juga dirasakan oleh pedagang mainan anak-anak. Salah satunya,  Suroso (30), yang sejak pagi bersama puluhan pedagang lain telah menyiapkan dagangan khususnya untuk dijual kepada anak-anak yang ikut bersama orangtuanya mengikuti Melasti. Ia mengaku, berjualan keliling dengan menggunakan kendaraan roda dua dan membawa berbagai mainan yang dijualnya. “Kita memang selalu berjualan keliling dan setiap ada acara selalu membawa dagangan untuk anak-anak yang berminat untuk membeli mainan, ya lumayan banyak yang membelinya,” terang  Suroso.

Ia mengaku mendapat omzet cukup lumayan dibanding tidak ada kegiatan seperti Melasti yang melibatkan ribuan orang, meski ia kerap berjualan keliling di sekolah-sekolah, acara-acara besar lain. Setelah kegiatan Melasti, Suroso mengaku akan berjualan di lokasi lain yang lebih ramai.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar