Menengok Kiprah Kader ‘Aisyiyah Berantas TB di Lampung Selatan

0
14

JUMAT, 24 MARET 2017

LAMPUNG — Penyakit Tuberculosis yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis atau dikenal masyarakat dengan penyakit TBC dikenal masyarakat sebagai penyakit yang menyerang paru-paru. Namun dengan perkembangan penjelasan medis dan peran para kader/relawan, masyarakat akhirnya tahu bahwa TB juga menyerang organ tubuh lain seperti selaput otak, kulit dan tulang. 

Kegiatan penyuluhan tentang TB di beberapa desa

Memberikan pemahaman di bidang kesehatan masyarakat serta meningkakan kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu aktifitas yang dilakukan oleh para kader ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan.

“Para kader ikut berpartisipasi aktif dalam pemberantasan TB-HIV di sebanyak 17 kecamatan ,” sebut Koordinator Program Community TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan, Rudi Hartono kepada Cendana News, Jumat (23/3/2017).

Rudi menyebutkan, dari awal terbentuknya sejak bulan Januari 2014, dari 72 kader yang dilatih untuk menjadi relawan, 48 kader dipastikan aktif. Sementara 20 kader dari tokoh agama yang dilatih, 10 orang di antaranya masih aktif.

Rudi Hartono menerangkan, langkah ikut mewujudkan Gerakan Indonesia Bebas Tuberculosis (TB), ‘Aisyiyah Lampung Selatan bahkan telah menerjunkan kadernya untuk melakukan penjaringan suspect baru melalui gerakan ketuk 17.000 pintu yang dilakukan pada Rabu (15/3).

Program ketuk 17.000 pintu mensosialisasikan bahaya penyakit TB yang ada di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Lampung Selatan pada khususnya. Program tersebut selain mendata, melakukan pemasangan stiker juga memberikan brosur tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit TB.

Rudi Hartono (kanan lengan pendek)

Selain melakukan proses mengetuk pintu, pendataan pun dilakukan untuk rumah yang memiliki anggota keluarga terkena TB, suspect TB dan tidak lupa kader melakukan proses pemasangan sticker berwarna merah dengan tulisan “Gerakan Masyarakat Indonesia Bebas TB” dengan simbol batuk, periksa, obati sembuh sekaligus mengingat dan mempraktekkan Salam “TOSS” yaitu “Temukan-Obati-Sampai Sembuh).

Perjuangan para kader tersebut bukan tanpa kendala, meski sejumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) memiliki tanggapan yang positif namun di tingkat Kabupaten Lampung Selatan masih belum cukup serius.

Kekurangseriusan pemerintah daerah dalam memberantas penyakit menular khususnya TB karena anggaran untuk pemberantasan TB pada tahun 2016 mencapai Rp222.815.000 pada tahun 2017 hanya dianggarkan sekitar Rp72.257.000 meski berdasarkan data kasus TB di Lampung Selatan yang tercatat didata capaian suspek dan CNR-SSR Lampung Selatan dari Januari 2015-November 2016 mengalami kenaikan.

“Istilah CNR merupakan keterangan dari semua tipe penyakit TB diantaranya BTA+, RO+, ekstra paru dan TB Anak+ sementara untuk istilah suspek untuk orang yang diduga terkena TB lalu diperiksakan ke Puskesmas terdekat,”terang Rudi Hartono.

Berdasarkan kalkulasi data yang dikumpulkan per kuartal bahkan tercatat sejak tahun 2015 hingga tahun 2016 terus mengalami kenaikan untuk capaian suspek dan CNR. Dimana capaian suspek pada tahun 2015 mencapai 835 orang sementara pada tahun 2016 mencapai 1.629 orang. Sementara CNR pada tahun 2015 mencapai 174 orang dan pada tahun 2016 mencapai 351 orang.

“Total capaian keseluruhan selama dua tahun tersebut untuk total capaian suspek mencapai 2.464 orang dan total CNR mencapai 525 orang,” sebutnya.

Stiker yang dipasang di pintu warga yang telah didata

Meski minimnya perhatian pemerintah daerah, kurang responnya berbagai organisasi kemasyarakatan dalam upaya penanganan penyakit TB, namun Rudi Hartono menyebut kader TB-HIV ‘Aisyiyah terus memberikan pemahaman bahaya TB kepada sejumlah kalangan. Beberapa langkah dilakukan di antaranya memberikan sosialiasi, pemahaman bahaya, cara penanggulangan, penyembuhan penyakit TB dari tingkat anak anak usia dini, orangtua/wali murid.

Rudi Hartono menyebut salah satu tugas para kader termasuk dirinya dan beberapa pengurus program Community TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan khususnya dalam bidang penanganan TB diantaranya pola pikir (mindset) salah tentang TB. Pola pikir tersebut di antaranya terkait permasalahan kesehatan yang sering diabaikan dan stigma bahwa penyakit TB merupakan penyakit keturunan sehingga beberapa penderita merasa malu.

“Perlu cara-cara bijaksana dan pendekatan yang lebih baik agar para kader’Aisyiyah betul betul bisa melakukan tugasnya sebagai implementasi gerakan Al-Ma’un ‘Aisyiyah di era sekarang ini,”ungkapnya.

Ia tetap berharap kepada para kader TB ‘Aisyiyah selalu aktif dalam pendampingan di masyarakat dan dapat meningkatkan penemuan dan kesembuhan kasus TB di wilayah masing masing dan di wilayah Lampung Selatan pada umumnya. Menurunkan angka pasien yang mangkir dan putus berobat (drop out), serta membantu dalam meminimalisir anggapan dan sikap masyarakat yang menghambat program pemberantasan penyakit TB.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Istimewa

Komentar