Mengais Rejeki dari Pengendara Jalan Negara Trans Flores

0
22

MINGGU, 19 MARET 2017

MAUMERE — Penjual hasil kebun dan buah-buahan, selalu menggelar dagangan di beberapa titik jalan negara Trans Flores dari ujung timur Pulau Flores di Kota Larantuka, hingga ujung barat Pulau Flores di Labuan Bajo.

Penjual sayur dan buah-buahan di pinggir jalan negara Trans Flores Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende.

Sejak dari Larantuka, akan mudah dijumpai para penjual yang membangun pondok seadanya, baik di tanjakan Lewolaga, Hokeng dan Boru di Kabupaten Flores Timur serta di Desa Kringa, Hikong, Boganatar dan Lustiada di Kabupaten Sikka, serta Nduaria, Wolowaru dan Detusoko di Kabupaten Ende.

Para penjual membangun tenda seadanya dari kayu dan membuat bale-bale dari bambu untuk meletakkan dagangan. Atap bangunan pun beragam, baik dari alang-alang, daun kelapa hingga beratap seng. “Hampir setiap hari, ada saja yang membeli ubi jalar, singkong, nanas dan pisang yang kami jual sehingga lumayan untuk menambah pendapatan kami,” ujar Monika Lewar.

Saat ditemui Cendana News di Desa Kringa, Monika terlihat sibuk melayani pengendara mobil pribadi yang memborong ubi jalar dan pisang kepok yang dijualnya seharga Rp100.000. Pisang Kepok dijualnya setandan Rp25.000, sementara ubi jalar dijual satu kumpul berisi 10 buah sebesar kepalan tangan orang dewasa seharga Rp10.000, sedangkan nanas dijualnya Rp10-15.000 sebuah. “Lumayanlah, kadang sehari bisa laku Rp200-300 ribu, dan banyak pengendara yang suka membeli pisang kepok dan pisang ambon, sementara singkong jarang yang beli,” tuturnya.

Terkadang, lanjut Monika, ia juga menjual jambu biji dan jambu air berwarna merah, serta bengkoang dan rambutan, bila sedang musim berbuah. Tapi, kalau pisang dan singkong hampir setiap hari selalu tersedia.

Hal yang sama juga ditemui Cendana News, Minggu (19/3/2017), di jalan negara Desa Lusitada, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, di mana terdapat 4 pondok yang menjual buah-buahan dan hasil kebun lainnya sedang dikerumuni pembeli.

Lasarus Kise, salah seorang pembeli yang disambangi Cendana News mengaku membeli setandan pisang kepok untuk digoreng, sebab harga yang ditawarkan lebih murah Rp10.000 dibandingkan dengan membeli di Pasar Alok Maumere. “Kebetulan saya baru pulang dari Pantai Koka, jadi sekalian beli buat digoreng dan dimakan bersama keluarga serta dibagi ke tetangga rumah,” ungkapnya.

Pemandangan berbeda ditemui di Pasar Nduaria, Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Los kios pedangang yang berada di sepanjang jalan ini terlihat lebih banyak dan hampir semua barang jualannya sayur-sayuran. Terdapat sawi, kol, tomat, ketimun, wortel, terung, labu, buncis dan kacang panjang. Juga terdapat buah-buahan seperti jeruk Moni yang manisnya khas dan berbentuk bulat dan berukuran kecil serta kadang juga buah naga dan strawbery.

Para penjual hasil kebun di pinggir jalan negara Trans Flores desa Lusitada Kabupaten Sikka

“Kalau jual di sini lebih laku, soalnya tempat ini sudah dikenal pembeli dan kami tidak repot lagi membawa hasil kebun kami ke Pasar Moni dan Detusoko,” tutur Sely, salah seorang pedagang.

Perempuan remaja ini mengaku, sudah berjualan sejak 3 tahun belakangan setiap Sabtu dan Minggu, sementara hari lainnya digantikan oleh ibunya, karena ia harus kuliah di Kota Ende. “Kalau ada waktu libur, saya selalu menunggui kios dan sekalian berjualan dengan kacang rebus serta rokok dan lumayan buat menambah uang saku,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar