Mengenal Rumah Bagonjong Minangkabau

25

SABTU, 18 MARET 2017

PADANG — Rumah Gadang yang disebut juga rumah bagonjong, merupakan rumah adat yang ada di Provinsi Sumatera Barat, dan masyarakatnya dikenal sebagai orang minang. Bentuk Rumah Gadang itu mempunyai ciri yang sangat khas, sehingga tidak ada satupun tempat di bumi ini yang mempunyai rumah adat yang sama dengan rumah adat Minangkabau.

Rumah Adat Minangkabau yang ada di Kota Bukittinggi

Pengamat Seni dan Budaya di Minangkabau, B. Andoeska, menjelaskan, bentuk atap Rumah Gadang yang seperti tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita Tambo Alam Minangkabau, yakni tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Ia menyebutkan, untuk atap Rumah Gadang sendiri menggunakan ijuk. Namun, saat ini banyak bangunan rumah bagonjong tidak menggunakan ijuk, tapi menggunakan seng atau sejenisnya. Hal ini mengingat Sumatra Barat merupakan salah-satu daerah yang rentan diguncang gempa.

Sedangkan untuk bentuk atap yang meruncing yang menyerupai tanduk kerbau, sangat umum digunakan orang Minangkabau, salah-satunya pada pakaian adat, yaitu tingkuluak tanduak (tengkuluk tanduk) untuk Bundo Kanduang.

Sementara untuk bagian dalamnya, kata pria yang akrab disapa Mak Etek ini, mengingat rumah adat Minangkabau dinamakan rumah gadang, maka rumah tersebut memiliki ukuran rumah yang besar, dan bagian dalam rumah gadang merupakan ruangan lepas, kecuali kamar tidur. “Ruangan lepas itu bukan seperti ruang lepas di rumah kebanyakan, tapi memiliki makna, karena ruang lepas di dalam rumah gadang merupakan ruang utama yang terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang,” jelasnya, Sabtu (18/3/2017).

Sedangkan untuk dinding rumah gadang, terbuat dari kayu, kecuali bagian belakang yang dari bambu. Dinding papan dipasang vertikal pada setiap sambungan papan diberi bingkai. Semua papan tersebut dipenuhi dengan ukiran. “Ukiran yang dibuat itu bukan sekedar ukiran saja, ada nilai seninya,” tegasnya.

Ukiran dinding Rumah Adat Minangkabau

Menurut Mak Etek, keberadaan Rumah Gadang juga memiliki fungsi dan mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Misalnya, untuk jumlah kamar yang ada, bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Selain itu, kata Mak Etek, di halaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang yang digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung. “Ruang anjung itu bukan sekedar dibangun saja, tetapi juga sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai Rumah Banjuang,” pungkasnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar