Menikmati Kera Berdansa di Goa Kreo Bukit Kerincing

59

MINGGU, 19 MARET 2017

SEMARANG — Segerombolan kera mendekati sepasang lelaki dan perempuan yang sedang duduk santai menikmati keindahan alam, lalu berhenti beberapa saat, dan mendapati isyarat dari sang perempuan yang merogoh tas untuk mengambil makanan. Tak lama kemudian, perempuan itu mengulurkan tangan dan memberikan makanan kepada kera paling besar. Seolah mengucapkan terima kasih, kera-kera itu berdansa kegirangan sambil mengeluarkan suara mendecit.

Suasana GOa Kreo yang dipenuhi kera ekor panjang

Gambaran seperti itu sering dijumpai ketika berwisata ke Goa Kreo Bukit Kerincing Desa Kandri, Kota Semarang, Jawa Tengah. Menurut Guide Tour, Kasno, kera-kera yang berkeliaran di Goa Kreo adalah hewan penjaga Sunan Kalijaga saat melakukan meditasi.

Pada sekitar abad ke-13, kata Kasno, Sunan yang mempunyai nama asli Raden Umar Said itu berpergian ke barat untuk mencari soko guru Masjid Agung Demak. Sesampai di Desa Kandri, Sunan Kalijaga bersemedi untuk meminta petunjuk. Agar semedinya berjalan khusyuk, maka ditugaskanlah kera-kera di bukit Kerincing untuk menjaganya. Itulah mengapa sampai saat ini di daerah tersebut banyak sekali dijumpai kera berekor panjang.

Lebih lanjut, Kasno mengatakan, di Bukit Kerincing itu terdapat dua goa yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata. Pertama, Goa Kreo yang panjangnya mencapai 15 M. Di dalamnya ditinggali banyak kawanan kera, sementara yang kedua adalah Goa Landak dengan panjang 20 meter. Dinamakan Goa Landak, karena di beberapa sudut goa merupakan tempat tinggal hewan pemakan serangga dan semut. “Untuk kenyamanan pengunjung, kami menyediakan jembatan cantik tempat berfoto serta sentra PKL yang menjual souvenir serta makanan,” terang Kasno, Minggu (19/3/2017).

Sementara itu, Kepala UPTD Goa Kreo, Mamit Sumitro, menjelaskan, kera yang ada di Goa Kreo saat ini berjumlah 600 ekor. Mereka berjenis ekor panjang yang ramah kepada manusia. Kera tersebut menganggap manusia datang untuk membawakan makanan, walaupun demikian Mamit  menyarankan jika membawa makanan atau minuman yang berwarna harap dimasukkan ke dalam tas, karena bisa membuat tingkah laku kera menjadi agresif. “Anak-anak harap diperhatikan juga jika membawa makanan dan minuman yang berwarna,” kata Mamit.

Kepala UPTD, Mamit Sumitra

Data yang dimiliki UPTD menyebut jumlah pengunjung menjadi ramai tiap akhir pekan dengan puncaknya musim liburan yang mencapai 5.000 orang. Karena itu, Pemerintah juga berupaya untuk menambah sarana dan kegiatan, agar pegunjung lebih banyak datang ke desa yang juga terkenal dengan waduknya yang bernama Waduk Jatibarang tersebut. “Untuk akses ke Goa Kreo, rencananya kita akan menambah akses jalan ke atas bukit, karena DED-nya sudah rampung,” ujarnya.

Pada 2017, Pemerintah Kota Semarang menargetkan bisa memperoleh pendapatan Rp480 juta dari wisata Goa Kreo Bukit Kerincing. Karena itu, setiap tahun selalu diadakan berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah Sedekah Rewondo, di mana masyarakat setempat berkumpul untuk memberi sesaji buah-buahan kepada kera yang ada di sana. Goa Kreo selalu buka setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar