Meski Sudah Tua, Mbah Wahono Masih Semangat Bekerja

50

KAMIS, 30 MARET 2017

LAMPUNG — Mbah Wahono, warga Desa Bakauheni, terlihat sibuk menyiapkan berbagai jenis kantong plastik yang akan disetorkan ke sejumlah warung, rumah makan dan pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, Jalan Lintas Timur Sumatera dan Jalan Pesisir Kalianda. Meski usia sudah senja, ia masih tekun bekerja demi masa depan enam orang cucunya. 

Mbah Wahono dan plastik dagangannya.

Laki-laki kelahiran Pingkuk, Kecamatan Bendo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, sekitar 66 tahun, lalu, itu setiap hari menggunakan kendaraan mobil pick up yang dikemudikannya sendiri, membawa kwintalan plastik beragam jenis. Berbagai jenis plastik tersebut dibelinya di salah satu toko grosiran di Ki Maja Bandarlampung.

Beragam jenis plastik itu antara lain, kantong plastik ukuran 14 centimeter hingga 20 centimeter, dan plastik air (PE) mulai ukuran 6 x 20 centimeter hingga lima kilogram. Selain itu, juga kertas nasi, gelas plastik, karet, sendok plastik, sedotan, kotak nasi, kotak nasi mika, tisu serta berbagai jenis kebutuhan rumah makan lainnya. Berbagai plastik tersebut dibelinya seharga Rp11-13.000 per bengket atau ikat, tergantung ukuran dan jenisnya, dengan mengambil keuntungan sekitar Rp2.000 per bengket atau ikat. Sementara jenis plastik lain di antaranya gelas plastik satu kardus isi 2.000 piece dibelinya seharga Rp33.000, yang dijualnya seharga Rp36.000.

Menurut Wahono, permintaan setiap pelanggannya berbeda-beda, dengan nilai permintaan mulai dari Rp600.000 hingga Rp1,2 juta, yang didominasi plastik air, karet, kertas nasi, kantong kecil, sedang, jumbo, dan kotak nasi yang selalu habis dalam seminggu. Setelah satu minggu, Mbah Wahono berkeliling ke sejumlah toko langganannya sembari menagih uang pembayaran dari plastik yang telah disetorkannya itu. “Saya bermodal kepercayaan, karena saya mengirim barang terlebih dahulu sementara uang dari pelanggan sebagian ada yang belum dibayar,” terang Mbah Wahono, saat ditemui di Bakauheni, Kamis (30/3/2017).

Setelah beberapa tahun ini, usaha laki-laki dengan 1 orang anak dan 6 orang cucu tersebut memiliki 50 pelanggan di Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur, baik rumah makan kecil, sedang maupun besar. Konsumen terbanyak ada di Bakauheni, yang mayoritas merupakan pemilik rumah makan dan usaha kuliner, dengan jumlah barang yang dijual mencapai sekitar Rp4 juta. Sedangkan saat belanja. Mbah Wahono menghabiskan modal sekitar Rp7 juta, dan total belanja modal sekitar Rp36 juta. “Uang yang saya gunakan berputar, sehingga harus ada kepercayaan dari pelanggan, namun beruntung banyak yang lancar,” ungkapnya.

Setiap stok habis, Mbah Wahono akan berangkat belanja ke Ibukota Provinsi Lampung yang berjarak sekitar 100 kilometer setiap pekan selama dua kali. Sementara untuk keliling ke pelanggan, dilakukannya setiap hari seorang diri. Mbah Wahono mengaku, meski sudah menginjak usia senja, tetap semangat bekerja demi membahagiakan cucu-cucunya. Mbah Wahono setiap hari keliling ke sejumlah pelanggannya sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.

Mbah Wahoni, tekun melayani pelanggannya

Mbah Wahono, semula berwiraswasta di bidang pemecahan dan jual beli batu di Dusun Way Baka, Desa Kelawi, dengan hasil batu mencapai ratusan kubik. Namun, usaha itu terhenti sejak adanya proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), yang berimbas banyaknya buangan batu dari proses pembersihan. Alhasil, lahan batu seluas 1 hektare miliknya pun terpaksa dibiarkan mangkrak. “Lalu, saya banting stir usaha dagang plastik ini,” ungkapnya.

Dengan terus semangat bekerja meski sudah tua, Mbah Wahono ingin mengajarkan kepada cucu-cucunya, dan generasi muda pada umumnya, agar bisa mandiri dan berusaha. Peluang usaha saat ini sangat terbuka dan selagi masih kuat, ia pun akan terus keliling menjajakan plastik.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar