Minimalisir Kasus Pedofil, Siswa SD Dilatih Bela Diri

107

KAMIS, 23 MARET 2017

SOLO — Kasus pedofil yang menelan 16 korban anak di bawah umur di Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi koreksi semua pihak. Termasuk lingkup keluarga agar memberikan perhatian yang lebih kepada anak sehingga tidak mudah terbujuk oleh predator anak.

Siswa SD yang dilatih bela diri.

Di Karanganyar, ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) diberikan penyuluhan khusus pentingnya menjaga diri dari ancaman predator anak. Salah satunya membekali bela diri aktif sebagai upaya meminimalisir adanya ancaman terhadap orang lain yang berniat jahat kepada anak. Latihan bela diri untuk anak-anak ini diberikan sejumlah anggota polisi Polres Karanganyar.

“Melihat kasus pedofil ini tentu kita harus lebih waspada lagi, jangan sampai kejadian itu terulang kembali. Dan untuk anak-anak kami beri latihan bela diri dasar, untuk jaga-jaga,” papar Kasubbag Dalops Polres Karanganyar, AKP Suwarsi, kepada awak media, Kamis (23/3/2017).

Penyuluhan yang diberikan Polres Karanganyar seperti mengenali bagian tubuh yang boleh maupun tidak boleh disentuh orang lain. Selain itu, anak-anak diberikan pemahaman untuk membedakan sentuhan kasih sayang dengan pelecehan seksual. “Apa saja yang tidak boleh disentuh seperti semua bagian yang ada di dalam baju,” terang AKP Suwarsi.

Didampingi guru, ratusan siswa dari SDN 01 Jungke, Karanganyar, terlihat antusias memperhatikan penjelasan diikuti peragaan self defense. Para siswa ini diajari oleh pelatih bela diri, sukarelawan Satbinmas dan Dalops Polres Karanganyar.  Para siswa kelas III dan IV juga memperagakan cara menghindar dan menyelamatkan diri dari serangan.  “Kita ajarkan juga jurus-jurus praktis melawan pelaku kekerasan seksual. Misalnya menginjak, menendang, menggigit dan berteriak kencang,” ungkap dia. 

Ditambahkan, selain meningkatkan kemampuan fisik, siswa ditekankan tidak diam jika diperlakukan tidak senonoh oleh orang asing atau orang yang baru dikenal. Jika tidak mampu melawan, anak harus berteriak kencang dan berusaha meminta tolong kepada orang lain. “Yang tak kalah penting, anak-anak harus terbuka dengan orang tua. Itu dapat memudahkan penanganan jika ada anak yang mengalami kekerasan fisik maupun seksual,”  imbuhnya.

Berkaca dari kasus Fajrudin alias Udin, tersangka kasus sodomi dengan korban 16 anak, harus sedini mungkin untuk dicegah. Salah satunya para siswa diminta untuk tidak menyendiri atau bepergian sendiri. Sebab, jika bersama-sama, kemungkinan terjadi tindak kekerasan fisik dan seksual terhadap anak kecil.

“Termasuk saat pulang sekolah, kalau memang tidak dijemput orang tua, harus bersama dengan teman-temannya,” tandasnya. 

Sementara itu, salah satu siswa, Farel, menyebutkan, dirinya belum pernah diajari bela diri untuk melindungi. Siswa kelas III itu mengaku, memilih lari daripada harus menghadapi orang yang akan berbuat jahat kepada dirinya.

Aparat mendampingi siswa SD putri dalam pelatihan bela diri.

“Kalau saya pilih lari kencang sambil berteriak kalau ada yang ingin berbuat jahat,” kata Farel.

Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid

Komentar