Mugiono, Rindu Kekompakan Petani Jaga Irigasi Seperti Zaman Pak Harto

61

RABU, 22 MARET 2017
 
BANTUL — Areal persawahan di Pedukuhan Ponogaran, Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, dikenal memiliki sumber air melimpah yang dialirkan lewat sejumlah saluran irigasi hasil bendungan Sungai Opak yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Mugiono.

Namun sayang, kurang maksimalnya pengelolaan saluran air irigasi sejak beberapa tahun terakhir, membuat sejumlah petani di pedukuhan tersebut justru merugi karena hasil panen mimim akibat tanaman padi banyak yang rusak dan mati.

Mampatnya sejumlah saluran air irigasi karena sampah yang pada akhirnya meluber masuk ke areal persawanan warga, menjadi penyebab utama rusaknya tanaman padi milik petani. Banyaknya air yang menggenangi areal persawahan khususnya di musim penghujan bahkan selalu menjadi persoalan di sekitar wilayah pedukuhan itu setiap tahunnya.

Jika luberan itu menggenangi sawah dengan usia padi yang masih muda, maka akan langsung mematikannya. Namun jika padi yang tergenangi berusia tua, akan membuat tanaman rusak hingga hasil panenan menyusut drastis.

Menurut Mugiono (75), salah seorang petani warga Dusun Demangan, Ponogaran, Jambidan, Banguntapan, Bantul, jebol atau terpampatnya saluran irigasi, hingga meluber ke areal persawahan itu, sebagai akibat kurangnya kepedulian petani saat ini dalam mengelola saluran irigasi. Ia pun menceritakan bagaimana perbedaan pengelolaan di masa sekarang dan masa Orde Baru dulu.

“Dulu saat zaman Pak Harto, semua petani itu kompak untuk bergotong-royong bersama-sama menjaga dan mengelola saluran irigasi. Semua petani dari berbagai pedukuhan selalu rutin bersama-sama membersihkan saluran irigasi dan membenahi tanggul irigasi yang rusak. Tidak hanya di satu pedukuhan saja, tapi sampai ke pedukuhan lain yang jauh jaraknya. Sehingga air tidak meluber masuk ke sawah seperti saat ini, ” ujarnya dalam bahasa Jawa saat ditemui Cendana News, Rabu (22/3/2017).

Bagi kakek dengan 3 buyut dan 19 cucu ini, hal semacam itu sudah tidak ada lagi saat ini. Para petani sekarang dikatakan hampir tidak memiliki kekompokan, kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, khususnya dalam mengelola dan menjaga saluran-saluran irigasi, yang menjadi tumpuan semua petani. “Sejak reformasi semua kan semaunya sendiri. Tidak mau susah dan memikirkan kepentingan bersama. Yang dipikirkan hanya kebutuhannya sendiri,” katanya.

Berpuluh-puluh tahun hidup sebagai petani secara turun-temurun, Mugiyono tahu betul bagaimana kebijakan penguasa terhadap para petani. Sebelum dipimpin Presiden Soeharto, tak banyak saluran-saluran irigasi terdapat di areal persawahan di desanya. Baru sejak masa Orde Baru, sejumlah saluran irigasi dibuat secara massif dengan membendung Sungai Opak. Yakni dengan membuat sejumlah dam baik di sebelah kiri maupun kanan sungai, hingga bisa mengaliri areal persawahan warga di banyak desa.

“Beda lagi saat zaman penjajahan. Dulu itu belum ada banyak saluran irigasi. Jadi satu aliran irigasi itu dimanfaatkan untuk beberapa desa. Tapi dulu aturannya ketat. Siapa yang berani buang sampah misalnya bangkai anjing di saluran irigasi akan langsung ditangkap dan diinterogasi,” katanya.

Meski pada saat itu saluran irigasi masih minim, namun dikatakan, ada petugas khusus yang disebut Kuli Kenceng. Dia bertugas mengurusi soal pembendungan sungai, membuat saluran irigasi, sesek atau membersihkan saluran irigasi, hingga menyiapkan lahan untuk areal penanaman tebu pabrik gula. Petugas Kuli Kenceng ini tidak dibayar dalam bentuk uang namun dengan diberikan lahan garapan berupa areal persawahan seluas satu hektar.

Saluran irigasi menjadi tumpuan hidup para petani.

“Tapi setelah Indonesia merdeka Kuli Kenceng sudah tidak ada lagi. Semuanya dirombak. Karena simbok saya dulu adalah Kuli Kenceng,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto:  Jatmika H Kusmargana

Komentar