Pemkot Semarang Kembalikan Pasar Kobong Jadi RTH

0
16

RABU, 22 MARET 2017

SEMARANG — Rencana Pemkot Semarang untuk mengubah Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) akan terus dilakukan, meski ada gugatan dari para pedagang. Menurut Walikota Kota Semarang, Hendrar Prihadi, tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan Detail Engineering Design (DED) tentang pemanfaatan ruang.

Hendrar Prihadi

Hendi menjelaskan, daerah Rejomulyo memang peruntukannya sebagai RTH, sehingga ketika ada pedagang yang mempermasalahkan pengembalian fungsi tersebut ia siap menghadapi. Jika dengan sosialisasi saja dianggap tidak cukup, maka Walikota juga mempersilahkan para pedagang untuk membawa masalah ini ke ranah hukum. “Kita akan membuktikan nanti di PTUN tentang fungsi daerah Rejomulyo,” terang Hendi, Rabu (22/3/2017).

Meski siap untuk menyelesaikan di pengadilan, Hendi masih akan tetap memikirkan nasib para pedagang ikan yang selama ini menempati kawasan tersebut. Karenanya, Pemkot akan segera menyiapkan tempat untuk relokasi. Hendi mengakui, bahwa selama ini para pedagang juga sering mempertanyakan tanah di Rejomulyo merupakan milik Pemkot atau pribadi, karena itu ia akan berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang, untuk membawa berkas-berkas yang dibutuhkan agar masalah ini cepat terselesaikan. “Atas nama Pemerintah, kami akan melakukan apa saja untuk mempercepat pembangunan di kota ini,” papar Hendi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, menegaskan, rencana DED sebenarnya sudah mulai disosialisasikan pada awal 2016, sehingga saat ini aneh jika sampai terjadi perbedaan pendapat. Apalagi, penyusunan DED juga melibatkan para pedagang. Pihaknya mencurigai ada oknum yang tidak bertanggungjawab mencoba mengambil keuntungan dari kegelisahan pedagang ikan di Pasar Kobong, karena selama 36 tahun sejak pasar tersebut dibuka, memang mengalami peningkatan pesat hingga menjadi pasar grosir terbesar kedua se-Indonesia.

Selama ini, pihaknya selalu melayani pedagang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tetapi untuk pembangunan pasar yang baru tidak bisa dilaksanakan seketika, karena harus dianggarkan secara bertahap di anggaran perubahan. Karena itu, ia meminta para pedagang untuk tidak seenaknya membuat isu yang tidak jelas, termasuk menghasut pedagang yang sepakat untuk pindah. “Pedagang lain hanya sungkan, sehingga ikut-ikutan demo, sebenarnya mereka siap pindah. Hanya karena sungkan dengan beberapa orang ini yang notabene orang-orang itu tidak punya kios,” tutur Fajar.

Padahal, di tempat relokasi yang baru Pemerintah sudah menyiapkan tambahan fasilitas yang lebih layak, di antaranya tempat bongkar muat ikan yang mampu menampung 40 mobil secara bersamaan. Termasuk fasilitas tempat mobil bongkar muat ikan. Di tempat sekarang, kata Fajar, mampu menampung 40 mobil melakukan bongkar muat secara bersamaan. “Sedangkan di tempat bangunan baru hanya cukup untuk 10 mobil bongkar muat. Itupun harus antre. Satu mobil membutuhkan waktu antara 30-60 menit. Kalau total per malam 300 mobil, kondisi antre bisa loading sampai dua hari tidak selesai,” pungkasnya.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar