Penggerak Posdaya, Tanpa Pamrih Memajukan Warga

49

MINGGU, 26 MARET 2017

YOGYAKARTA —  Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Berbagai prestasi yang telah ditorehkan oleh PAUD Dacclia Posdaya Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul, tidak lepas dari peran penggerak dan kader yang berjuang tanpa pamrih. Adalah Sudiati (67), sosok sentral dalam pengembangan PAUD Dacclia Posdaya Ngijo, yang hingga kini di usianya yang tak lagi muda, masih tetap aktif memberdayakan masyarakat setempat.

Suasana belajar-mengajar di PAUD Posdaya Ngijo

Mulai merintis pendirian PAUD sejak 2006, Sudiati menjadi Pengajar atau Guru PAUD secara sukarela. Dengan latar belakang pekerjaannya sebagai Guru TK, ia juga aktif memberdayakan dan mendidik warga sekitar, yakni kader-kader PKK dan Posyandu, untuk ikut menjadi Guru PAUD. Sebagai penggerak sekaligus pengajar PAUD selama bertahun-tahun, suka duka telah banyak dialaminya. Selama 2 tahun lebih mengajar, Sudiati rela tak dibayar sedikitpun. Ia juga tetap bersyukur, meski kemudian mendapat bayaran puluhan ribu saja setiap bulannya sebagai Guru PAUD. “Sebagai kader penggerak masyarakat, tidak dibayar itu sudah biasa. Bukan sebuah hal luarbiasa. Kerena memang niat kita adalah ibadah dan bersodaqoh, sehingga kita tetap ikhas menjalaninya,” katanya, saat ditemui belum lama ini.

Sebagai pengajar, Sudiati tak hanya dituntut sabar dalam mengajar anak-anak usia 2-4 tahun di dusunnya. Ia juga harus selalu membuat proses pembelajaran dalam suasana penuh kegembiraan dan keceriaan, meski dalam kondisi apapun setiap harinya. Ia sendiri tergerak aktif dalam kegiatan Posdaya, khususnya di bidang pendidikan, karena melihat kondisi anak-anak di desanya yang kurang mendapat pendidikan di usia dini. Padahal, pendidikan usia dini merupakan pendikan penting bagi anak yang tengah dalam masa usia emas (golden age).

“Motivasinya karena kita peduli pada pendidikan anak-anak. Sebelum ada PAUD, banyak anak-anak di dusun ini yang kurang diperhatikan orangtuanya. Setiap pagi, anak-anak dibiarkan bermain dan tidak mandi. Tapi setelah ada PAUD, anak-anak lalu diajarkan untuk rapi sejak pagi dan berangkat ke PAUD,” katanya.

Wahyuni 

Hal senada juga diungkapkan pendidik atau Guru PAUD lainnya, Wahyuni (51). Mulai mengajar sejak 2009, Wahyuni juga merasakan tak dibayar sedikitpun selama beberapa tahun. Namun, ia tetap ikhlas mendidik anak-anak di dusunnya tanpa mengeluh. “Saat ada kunjungan dari Gorontalo itu, juga banyak yang heran. Kenapa di desa kita ini warga mau mendidik anak-anak, padahal tidak dibayar. Sementara, di sana saja walaupun dibayar Rp600.000 banyak yang tidak mau,” tuturnya.

Selain terus berupaya meningkatkan kualitasnya sebagai pendidik dengan mengikuti diklat maupun pelatihan rutin, Wahyuni juga harus selalu menyediakan waktu untuk mengajar setiap hari. Dalam kondisi apapun, baik panas ataupun hujan, baik ada murid ataupun tanpa murid, Wahyuni akan selalu datang ke PAUD untuk mengajar.

Berkait dengan tantangan, Wahyuni mengatakan, jika mungkin salah satu tantangan itu adalah saat memberikan pemahaman kepada orangtua, agar tidak melarang anak-anaknya. Itu yang susah. Karena belum tentu semua menerima. Misalnya, ketika meminta orangtua agar tidak menunggui anaknya di sekolah dengan tujuan melatih mandiri. Atau juga ketika memberikan pemahaman pada orangtua, agar tidak melarang anaknya melakukan sesuatu, misalnya memakai gunting atau hujan-hujanan. “Padahal, sebenarnya memakai gunting di rumah itu perlu untuk melatih motorik halus. Hujan-hujanan sekali-kali juga perlu, agar anak-anak tidak menjadi takut air ketika dewasa. Walaupun memang harus dengan diawasi. Untuk memahamkan hal ini memang kita harus pelan-pelan dan sabar,” jelasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar