Penghobi Bonsai, Tak Sekadar Kerdilkan Tanaman, Lestarikan Pohon Langka

730

KAMIS, 16 MARET 2017

LAMPUNG — Menekuni membuat tanaman menjadi bonsai merupakan salah satu hobi yang ditekuni oleh Made Pastika (29), warga Desa Sumbernadi, Desa Ketapang, Kecamatan Lampung Selatan, sejak belasan tahun silam.

Perawatan bonsai.

Hobi menanam pohon yang dikerdilkan dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas, ditekuni oleh Made. Selain karena belajar dari sesama penghobi bonsai juga karena dirinya sering melakukan pekerjaan di tepi pantai dan tambak. Melihat banyak pohon pantai di antaranya cemara udang dan setigi yang tumbuh dengan bagus di antara batu-batu karang. Meski seni merangkai bonsai dikenalnya dari membaca buku dan rajin berbagi ilmu dengan para penghobi bonsai, namun seiring berjalannya waktu, Made mengaku, juga terus membuat bonsai untuk mempercantik taman di depan rumahnya. Total sekitar 150 batang bonsai dari berbagai jenis dimilikinya hingga kini dan terus bertambah dengan jenis yang baru.

Pekerjaan membuat bonsai ditekuni Made di samping pekerjaannya sebagai pekebun dan terkadang menjadi tenaga lepas harian saat masa panen tambak udang di wilayah pesisir pantai Kecamatan Ketapang. Beberapa jenis tanaman yang dibuatnya menjadi bonsai di antaranya kelapa, serut, maja, setigi, beringin serta beberapa jenis pohon yang memiliki karakteristik unik dan memiliki estetika.  Ia bahkan menyebut, seni membuat bonsai sebetulnya bukan hanya mengerdilkan pohon. Melainkan melestarikan berbagai jenis pohon yang saat ini sudah mulai langka keberadaannya di alam karena beberapa faktor. Selain karena sudah tidak memiliki nilai ekonomis, beberapa pohon yang dianggap sebagai pengganggu tanaman lain keberadaannya juga semakin langka dan nyaris punah.

“Beberapa jenis pohon di antaranya serut berduri sudah sangat langka karena selain tidak memiliki nilai manfaat bagi petani, tanaman tersebut berduri dan justru mengganggu. Saya tertarik berburu tanaman tersebut terkadang menemukannya di lahan yang sulit dijangkau,” ungkap Made Pastika, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (16/3/2017).

Salah satu filosofi bonsai, menurut Made Pastika, merupakan keselarasan antara manusia dengan alam sehingga baginya membuat bonsai menjadi sebuah cara untuk menyeimbangkan antara keadaan alam yang sudah semakin rusak dengan cara menanam beberapa jenis pohon yang susah ditemui. Ia bahkan menyebut, untuk jenis pohon setigi (pemphis acidula) yang merupakan jenis pohon tepi laut, kini semakin habis dibabat karena sebagian lahan digunakan untuk areal pertambakan, dermaga serta perkampungan penduduk. Jika pun ada pohon jenis tersebut berada di pulau-pulau kecil yang tumbuh di antara batu-batu karang. Saat ini ia menyebut harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah karena sulit dicari.

Tanaman setigi, ungkap Made, merupakan bakalan bonsai yang sangat cantik karena daunnya kecil, kayu ulet dan keras berliuk-liuk. Secara alami tahan terhadap kekurangan makanan karena biasa hidup di batu karang yang keras dan tandus. Made bahkan kerap mencari setigi di pulau-pulau kecil di sekitar Kecamatan Ketapang dengan menggunakan perahu untuk berburu tanaman bakalan bonsai tersebut. Selain digunakan untuk bahan bonsai kayu setigi juga memiliki khasiat untuk kesehatan beberapa penyakit tertentu. Akibat punahnya dan sulitnya mencari pohon setigi, Made bahkan kini mengaku mulai mengembangkan teknik setigi dengan menggunakan biji.

Ia  berburu pohon setigi yang mulai berbuah dan mengambil buah setigi untuk disemai dan selanjutnya dibuat bakalan bonsai. Baginya, membuat bonsai kini memberi kesadaran untuk tidak selalu mengambil dari alam pohon-pohon yang akan dijadikan bonsai. Melainkan bisa menggunakan teknik penyemaian biji agar pohon asli di alam masih terjaga dan tidak rusak. Filosofi tidak merusak habitat di tempat aslinya tersebut bahkan selanjutnya ditularkan ke para penghobi bonsai lain agar para penghobi bonsai tidak dicap sebagai perusak alam.

“Saat booming tanaman bonsai beberapa tahun silam, perburuan terhadap berbagai tanaman terkadang ikut merusak alam bahkan penggalian dilakukan dengan cara merusak sampai-sampai pebonsai dicap negatif dan seni bonsai mulai meredup, namun kini mulai bergairah lagi,” terang Made Pastika.

Sesuai dengan tujuan membuat bonsai untuk membuat tanaman hias yang indah bagi Made tidak terlepas dari upaya melestarikan. Ia bahkan kini memiliki persemaian khusus untuk jenis tanaman bakalan bonsai yang bisa dibudidayakan sehingga tidak perlu merusak alam meski proses penyemaian, pembibitan tersebut, membutuhkan cara yang sulit dan membutuhkan waktu lama. Setelah biji setigi mulai tumbuh ia memisahkannya dalam beberapa polybag untuk selanjutnya dipindah dalam pot-pot khusus. Selain setigi ia mengaku beberapa jenis tanaman yang favorit untuk dijadikan bonsai di antaranya asam Jawa, pinus, siantho, ulmus, asam Belanda, beringin, cemara, jeruk, kelapa, dan sawo.

Salah satu penghobi bonsai lain, Herwanto (40), mengungkapkan, penghobi bonsai yang ada di Lampung Selatan awalnya hanya merupakan penghobi perseorangan. Namun, seiring dengan banyaknya penghobi tanaman bonsai yang ada di wilayah Lampung Selatan, beberapa bertemu saat ada kontes atau perlombaan bonsai di Lampung, beberapa waktu silam. Komunitas pebonsai Lampung Selatan, menurut Herwanto, menjadi tempat untuk menyalurkan hobi sekaligus berbagi ilmu di antara penghobi bonsai serta menjadi ajang untuk mencari pembeli jika ada peminat.

“Kalau nama komunitasnya memang secara resmi belum ada, hanya kami para pecinta bonsai memiliki grup di aplikasi Whatsap untuk saling bersilaturahmi dan berbagi ilmu,” terang Herwanto.

Herwanto yang sudah memiliki sekitar 300 tanaman bonsai berbagai jenis dengan kisaran usia pohon antara 20-30 tahun mengaku, saat ini bonsai yang ditanamnya diletakkan di pekarangan dan di dalam rumah. Sebagai salah satu pegawai negeri sipil, ia mengaku, hobi merawat dan menanam bonsai menjadi pengisi waktu luang dan bisa menjadi peluang untuk investasi. Karena dari beberapa bonsai yang ia miliki, ia pernah menjual bonsai dengan kisaran harga Rp5 juta-Rp50 juta. Sementara untuk jenis bonsai lain koleksinya, tidak pernah dijual dan hanya diikutkan dalam beberapa kontes bonsai.

Herwanto (topi hitam) melatih penghobi bonsai lainnya.

Ia menyebut, seni merawat bonsai bukan hanya sekadar mengerdilkan tanaman, menggunakan sebagai bisnis melainkan, memiliki tujuannya juga untuk melatih kesabaran pemilik. Sebab, jenis tanaman tertentu ditanam dari bibit tidak serta-merta menjadi bonsai yang bagus. Melainkan membutuhkan perawatan dan ketelatenan tinggi untuk menjadikan tanaman bonsai menjadi indah dan memiliki karakter yang cukup menarik. Proses merawat bonsai juga diakuinya tidak menyita pekerjaan utamanya sebagai pegawai negeri sipil. Bagi para pecinta bonsai yang sengaja memiliki tujuan untuk bisnis, beberapa di antaranya bisa sukses dengan menjual bonsai yang dimiliki dan menjadi sumber tambahan ekonomi.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar