Penyair Papua Masih Kurang Diminati

249

SELASA, 21 MARET 2017

JAYAPURA — Papua tak mengetahui apa itu Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada setiap 21 Maret. Penyair di Papua masih kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat, hanya segelintir orang saja. Ini ditegaskan Igir Al-Qatiri, satu-satunya Sastrawan di Papua yang telah mengeluarkan 23 buku itu.

Igir Al-Qatiri

“Kalau berbicara karya sastra, puisi adalah karya sastra yang paling tua. Karena sejak dulu orang menuangkan sebuah imajinasi ke dalam puisi itu cepat. Berbeda ketika kita menulis cerita pendek (cerpen), prosa dan lainnya,” kata Igir Al-Qatiri,  saat ditemui Cendana News.

Menurut Igir, orang-orang dari luar Papua datang dan menulis serta berbicara soal Bumi Cenderwasih tercinta ini, sedangkan  orang-orang lokal di sini (Papua) tak ada yang benar-benar menjadi sastrawan. “Sampai akhirnya, muncullah nama-nama baru seperti Vonny Aronggear, dan ada juga Aprilia Wayar, namun dia bukan penyair, melainkan hanya penulis sekalipun dia menulis karya sastra. Tapi, dia penulis, karena dia tak menulis dengan syair,” tuturnya.

Igir juga mengatakan, di Papua sangat banyak penulis, bahkan juga penulis kritik terhadap Pemerintah dan lainnya. Pada umumnya, orang-orang Papua kalau menulis sebagian besar identik dengan politik, terkadang berbicara hal politik, tapi tak berbicara soal pendidikan, kesehatan dan lainnya yang dipoles dengan syair. “Terkadang kalau saudara-saudara kita di Papua yang menulis, sangat jarang dibeli oleh masyarakat perantau maupun kaum pendatang yang sudah lama di Papua. Buku itu jarang dibeli, hanya pajangan di toko buku,” katanya.

Menurut Igir, sebuah karya sastra di Papua seringkali menjadi sebuah bahan cerita semata di warung-warung kopi dan tempat berkumpul lainnya. Padahal, seharusnya sebuah karya sastra dinyatakan tak benar dapat dipatahkan dengan memunculkan sebuah karya sastra yang mematahkan sastra sebelumnya.

Vonny Aronggear

“Sangat tak bisa dipertanggungjawabkan, bila sebuah karya mau dipatahkan argumennya tidak dengan karya sastra. Tapi, ini tidak, mereka bicara di warung kopi, jalan-jalan, yang terkesan diskusi-diskusi angin lalu dan lalu masuk angin,” ujarnya.

Senada dengan itu, Vonny Aronggear, perempuan lokal penyair pertama di Papua, mengaku terpanggil menulis syair lantaran ia seorang guru dan melihat tak semua guru dapat menulis syair. “Belum tentu seorang guru bahasa Indonesia atau guru apapun itu punya buku syairnya. Dan, ingat bahwa ketika punya buku nama kita akan tercatat selama-lamanya, sepanjang negeri ini berdiri,” kata Vonny.

Hal itulah yang menjadi motivasinya untuk membuat syair dan menuangkannya dalam sebuah buku, notabene sebagai guru georgrafi pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Jayapura itu. Vonny yang telah menuangkan syairnya ke dalam 7 buku, diperuntukkan agar anak-anak Papua dapat mencontohnya agar terus berkarya.

“Saya ingin berkarya dan menjadi inspirasi bagi murid-murid saya, untuk juga berkarya. Apalagi anak-anak Papua yang suka malu, suka minder, ketika bergaul dengan orang pendatang dan merasa orang tersebut pintar, maka anak Papua ini mundur. Nah, di sini saya sering mengajak mereka jangan minder, “ tuturnya.

Sementara itu, Edmon Pattipeilohy, lulusan Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat, tahun 2012, jurusan sastra Inggris, mengakui sastra di Papua belum ada bentuk lisan. Dari dulu hingga saat ini yang ada hanya sastra oral atau sastra lisan, seperti orangtua menceritakan kisahnya kepada anaknya. “Biarlah anak-anak muda yang ada di Papua yang mencintai dunia sastra dapat menekuni sastra. Semoga ke depan anak-anak lokal dapat memperkenalkan Papua ke nasional, bahkan dunia melalui syair-syairnya,” kata Edmon, yang kini menggeluti seni musik di Kota Jayapura.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar