Perairan Buruk, Danau Maninjau Berpotensi Jadi Danau Mati

45
RABU, 22 MARET 2017

PADANG — Peringatan Hari Air Sedunia (HAS) 2017 yang dipusatkan di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menjadi sorotan keberlangsungan Danau Maninjau di masa mendatang. Bupati Agam, Indra Catri, mengatakan, saat ini kualitas air di Danau Maninjau berada di level terburuk. Kondisi itu, akan mengancam keberlangsungan Danau Maninjau di masa mendatang.

Bupati Agam, Indra Catri.

Ia menyebutkan, jika melihat dulu, Danau Maninjau merupakan danau terindah di dunia. Namun, kini telah mengalami kerusakan akibat banyaknya aktivitas pembangunan sektor ekonomi. Kondisi ini semakin diperparah, karena saat ini perairan Danau Maninjau berada pada level eutropik dan tinggal satu level lagi menuju danau mati.

“Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam 2016, aktivitas perikanan keramba merupakan penyumbang terbesar beban pencemaran di Danau Maninjau,” jelasnya, Rabu (22/3/2017).

Ia melanjutkan, keramba penyumbang terbesar pencemaran danau, dengan persentase mencapai 95% dari total beban pencemaran. Jumlah KJA (Keramba Jaring Apung) di Danau Maninjau saat ini mencapai 17.226 petak KJA. Indra menyatakan, jumlah KJA tersebut, melebihi daya tampung Danau Maninjau yang hanya mampu menampung sebanyak 6000 petak KJA.

Indra memaparkan, pengendapan pakan dan bangkai ikan yang membusuk berada di Danau Mininjau membuat sedimentasi di dasar Danau Maninjau mencapai 50 juta kubik sehingga berpengaruh pada waktu tinggal air danau yang diproyeksikan hanya berumur paling lama 23 tahun lagi.

“Cara yang pemerintah lakukan ialah mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menjaga danau ini agar keindahan Danau Mininjau bisa dilihat ratusan tahun ke depan,” ujarnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Agam juga telah mengeluarkan aturan terkait membatasi jumlah KJA di Danau Maninjau tersebut. Cara itu, juga merupakan cara untuk menyelamatkan Danau Maninjau dari danau mati dan sekaligus menjaga keindahan danau.

Kondisi itu, sebelumnya juga telah disikapi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri, yang menyarankan pembudidaya ikan di Danau Maninjau menempatkan posisi keramba di tengah danau mencegah terjadinya kematian ikan akibat kekurangan oksigen.

Yosmeri menilai, jika posisi keramba di tengah danau akan mengurangi risiko kematian pada ikan karena jarak permukaan dengan dasar cukup jauh. Menurut Yosmeri, kematian ikan di Danau Maninjau disebabkan tubo belerang dan lingkungan danau yang tercemar karena sisa makanan ikan.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar