Perawat: Tak Digaji Tak Apa, Asalkan Ilmu Dipergunakan

32

JUMAT, 17 MARET 2017

PADANG — Jika dihitung-hitung biaya pendidikan selama mempelajari kesehatan di perguruan tinggi, maka sangat tak sebanding dengan penghasilan yang diterima seorang perawat dalam menjalani profesinya, terutama yang bekerja sukarela di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Yonia Mustika Suci (tengah) bersama dua orang perawat di Puskesmas Surantih

Yonia Mustika Suci, seorang perawat di Puskesmas Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), memiliki cerita selama dua tahun menjalani profesi sebagai perawat di Puskesmas Surantih, yang patut menjadi inspirasi bagi para-para sarjana di tanah air.

Iyon, begitu nama sapaannya, merupakan seorang perawat lulusan dari Poltekkes Kemenkes RI Padang, salah seorang dari 100 perawat yang menjadi sukarelawan di Puskesmas Surantih dan hingga kini rutinitas yang dijalaninya sudah dua tahun lamanya. Ingin mendapatkan penghasilan yang lebih dari profesinya, bukanlah hal utama yang ada di dalam pikirannya. Tapi ini tentang pengabdian secara sukarela untuk kesehatan masyarakat di daerahnya.

Tak jarang Iyon menerima sindiran dari banyak orang yang menyebutkan bekerja secara sukarela mau makan apa. Namun, ia pun tak menghiraukan persoalan tersebut. Meski saat ini Iyon telah menjadi ibu dari satu orang anak perempuan, keteguhan hatinya tetap membuatnya bertahan bekerja secara sukarela di Puskesmas yang berjarak sekira 3 km dari rumahnya tersebut.

“Saya merupakan lulusan kesehatan, dan saya juga seorang ibu yang mempunyai anak. Jika saya sibuk dengan rumah tangga saja, sementara ijazah yang saya peroleh sejauh ini dibiarkan tersimpan malah tidak ada manfaatnya. Lebih baik, saya pergunakan ilmu yang saya dapat untuk membantu masyarakat,” ujarnya, Jumat (17/3/2017).

Selama bekerja, anak Iyon pun diasuh oleh ibunya yang berada di rumah. Sementara suaminya bekerja sebagai seorang buruh, dan dari penghasilan suaminyalah bisa memenuhi kebutuhan hidup.

“Bekerja sebagai sukarela juga mendapat dukungan dari sang suami,”sebutnya.

Ia mengakui, bekerja secara sukarela di Puskesmas merupakan keinginan dirinya yang diajukan ke pihak Puskesmas, karena tidak ingin ijazah miliknya tidur di rumah. Meskipun ingin mencari pekerjaan lain, perusahaan mana yang akan menerima ijazah kesehatan, jika tidak ada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk rumah sakit pemerintah, ataupun menjadi karyawan kontrak di rumah sakit swasta.

Iyon pun mengatakan tak jarang mendapat kritikan dari pihak Puskesmas apabila ada pekerjaan yang kurang memuaskan dikerjakan, meskipun ia tak menerima imbalan dari usaha kerjanya itu. Namun, hal tersebut tidak membuat ia surut untuk mengabdi.

“Saat ini yang saya perlukan ialah kesempatan untuk bekerja seiring mencari pengalaman. Tentunya, saya sangat berharap ada penerimaan CPNS bagi perawat yang telah lama menjadi sukarelawan ini,” katanya.

Menurutnya, meski tak meminta banyak kepada pemerintah soal nasib perawat sukarelawan, namun setidaknya memberikan peluang bagi perawat yang telah lama mengabdi bagi tanah air ini, untuk bekerja di tempat yang bisa memberikan penghasilan yang bisa membeli kebutuhan hidup.

“Tak apa jika saat ini saya tidak digaji, setidaknya ilmu yang saya pelajari selama di jenjang pendidikan bisa saya pergunakan, ketimbang ijazah tidur di rumah saja,” tutupnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar