Peribahasa Lampung Jadi Acuan dalam Berbagai Aktivitas

206

SELASA, 21 MARET 2017
LAMPUNG — Salah satu peribahasa atau kata-kata bijak (proverb) dalam Bahasa Lampung yang diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan baik kehidupan bermasyarakat, bernegara maupun dalam kehidupan religius adalah peribahasa, “Mak Ganta Kapan Lagi Mak Kham Sapa Lagi!”

Hariri (paling depan) dan personil kelompok musik gambus Lampung.

Makna kata-kata bijak yang jika dicerna mengandung filosofi dalam itu berarti, “Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi, Kalau Bukan Kita Siapa Lagi!” Cendana News secara khusus mengambil penerapan peribahasa tersebut sebagai acuan positif dalam dunia pendidikan dan kesenian tradisional.

Salah satunya, menurut Kepala Sekolah SDN 3 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Herianto (53). Herianto mengungkapkan, sejak kecil sering mendengar peribahasa tersebut dari orang tua, guru dan dari masyarakat.  Peribahasa Lampung itu pun telah lama menjadi peribahasa atau ungkapan khas.

“Dalam konteks pendidikan, ia mengaku, peribahasa Lampung tersebut selalu menjadi pesan moral yang  digaungkan kepada para dewan guru, para guru, dan para orang tua,” tegasnya, saat diwawancarai  Cendana News di SDN 3 Pasuruan Kecamatan Penengahan, Selasa (21/3/2017).

Herianto menyebut, dengan jumlah siswa sebanyak 217 siswa yang terdiri dari sebanyak 9 ruangan belajar atau kelas dan diajar oleh sebanyak 9 guru pegawai negeri sipil (PNS) serta guru honorer sebanyak 5 orang, situasi belajar di sekolah tersebut sangat nyaman. Ia menyebutkan, penerapan peribahasa terkenal Lampung itu bahkan memiliki makna luas dalam berbagai bidang termasuk pendidikan.

Spirit peribahasa yang bisa digunakan untuk mengajarkan anak-anak mencintai lingkungan.

“Saya lahir dan besar di Lampung dan sebagai orang Lampung, penjabaran dalam dunia pendidikan atas peribahasa Mak Ganta Kapan Lagi, Mak Kham Sapa Lagi selalu saya terapkan,” terang Herianto.

Ia menyebut, berbagai prestasi akademik dan bidang keilmuan lain dalam perlombaan FL2SN dan OSN merupakan wujud pembinaan sekolah untuk mendidik siswan sejak dini. Guru yang memiliki peranan untuk mengusahakan anak-anak didik lebih baik. “Kalau bukan saat siswa ini dalam masa pertumbuhan dididik dengan baik, dan kalau bukan kita sebagai guru yang diberi tanggung jawab membuat pintar anak, lantas siapa lagi!” itulah makna peribahasa Lampung tersebut, yang diakuinya, bisa diterapkan dalam dunia pendidikan.

Peribahasa sarat makna yang sebagian ditulis di sekolah tersebut, termasuk upaya sekolah mengajarkan siswa dan guru merasa memiliki sekolah. Jika bukan siswa yang menjaga kebersihan lingkungan sekolah, menanam bunga-bunga dan pepohonan, maka sekolah tersebut tidak lagi menjadi sekolah nyaman. Bahkan ia mengaku, siswa sebagian diwajibkan membawa bunga-bunga dalam pot dari rumah untuk semakin memberi kesejukan di sekolah karena sebagian bunga dan pohon akan menjadi kenangan bagi para siswa.

“Kalau bukan sekarang kapan lagi karena tidak harus menunggu saat lulus dan kalau bukan siswa kan tidak mungkin masyarakat yang memperhatikan keindahan sekolah,” ungkap Herianto menjabarkan peribahasa tersebut.

Herianto bahkan kerap mengajak siswa yang selesai melakukan kegiatan olahraga agar bisa memperhatikan kebersihan lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga tanaman bunga-bunga, pohon yang ada di sekolah. Beberapa tempat sampah organik dan nonorganik serta tempat cuci tangan yang ada di sekolah pun dipersiapkan untuk memberi kesempatan bagi siswa menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Jaya

Pelajaran Bahasa Lampung yang masih diajarkan di sekolah dengan aksara dan berbagai bacaan bahasa Lampung, diakui Herianto, menjadi salah satu muatan lokal yang membuat para siswa masih mengerti budaya Lampung. Beberapa puisi atau membuat puisi bahasa Indonesia menjadi bahasa Lampung merupakan salah satu tugas yang diwajibkan untuk semakin mencintai Bahasa Lampung yang sebagian menjadi bahasa ibu bagi muridnya. Ia kembali berujar, “Mak Ganta Kapan Lagi, Mak Kham Sapa Lagi.” Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan saya siapa lagi menggambarkan upayanya sebagai guru dan kepala sekolah, mendidik anak didiknya dan melestarikan budaya Lampung serta kesenian lain termasuk puisi Lampung yang tetap dilatih di SDN 3 Pasuruan tersebut.

Berbagai prestasi berupa trophy juara umum yang jumlahnya mencapai ratusan pun tersusun rapi di lemari. Bahkan sebagian sudah tidak muat karena banyaknya prestasi siswa di sekolah tersebut dipajang di beberapa meja guru sebagai bentuk prestasi sekolah dalam mendidik anak-anaknya untuk terus mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam berbagai bidang.

Penerapan peribahasa Mak Ganta Kapan Lagi Mak Kham Sapa Lagi! juga menjadi acuan bagi salah satu anggota kelompok seni Orkes Gambus Tunggal Lampung “Mulang Muakhi”. Salah satunya oleh Jaya (46) sebagai seniman rampak gendang. Laki-laki yang terbilang sudah tak muda lagi tersebut, mengungkapkan, peribahasa tersebut memiliki makna sangat dalam terutama saat diterapkan dalam bidang kesenian yang ia tekuni, yakni Orkes Gambus Tunggal Lampung. Sebagai sebuah kesenian tradisional Lampung yang kini sulit ditemui, beberapa warga yang masih peduli mulai menghidupkan kembali kesenian tersebut. Sebab, Jaya menyadari, tidak akan ada masyarakat yang peduli dengan kesenian tradisional di negerinya sendiri jika bukan orang-orang di daerah tersebut yang melestarikannya.

“Kami meski sudah tua tapi memiliki semangat muda sekaligus menjadi contoh, kalau bukan kami siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi? Melestarikan kesenian tradisional ini,” ungkap Jaya.

Peribahasa tersebut, diakuinya, tepat menggambarkan bagaimana upaya generasi tua tetap melestarikan adat dalam hal bermusik. Meski, ia berharap, masyarakat generasi muda masih bisa meneruskan kesenian tradisional orkes gambus tunggal Lampung dan bisa didengarkan hingga generasi mendatang.

Jaya menyebut, gambus bahkan telah dimodifikasi dengan alat musik lain yang lebih beragam dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman serta lagu-lagu Lampung yang bertransformasi menjadi orkes Lampung. Saat tampil, beberapa pemain di antaranya pemegang alat musik Takdut dipegang oleh Lukman (42), Gambus dipegang oleh Hariri (43), alat musik Parkis dipegang oeh Samsudin (40) dan Sirap (34), alat musik Biola dimainkan oleh Asiari (40), Rytem dimainkan oleh Tarmizi (40) alat musik gendang Rampak oleh Jaya (46) dan Keyboard oleh Saifi (45).

Penampilan grup musik tradisional di panggung-panggung tradisional, hajatan dan iven daerah tersebut, sekaligus upaya melestarikan kesenian yang hampir punah itu. Diamini Hariri, sang pemetik gambus dan pemain musik lain, Jaya memastikan akan tetap melestarikan budaya tersebut sembari mengingat-ingat pesan nenek moyang masyarakat Lampung yang selalu memiliki semboyan positif  sebagaimana peribahasa itu.

“Kalau bukan kami yang melestarikan musik peninggalan leluhur dan generasi penerus, siapa lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi melestarikannya,” ungkap Jaya.

Herianto

Ia bahkan menyebut, peribahasa yang sarat makna tersebut juga bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dan menjadi acuan masyarakat Lampung hingga kini.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar