Perkembangan Film di Semarang, Naik Turun

97

KAMIS, 30 MARET 2017

SEMARANG — Majunya teknologi berimbas kepada kemajuan dunia perfilman di Semarang, Jawa Tengah. Sarana penyebaran film yang tidak lagi hanya mengandalkan televisi, memberi harapan muculnya sineas berbakat, apalagi dengan munculnya komunitas-komunitas film indie. Hal ini setidaknya menjaga asa, agar di masa depan muncul sineas-sineas berbakat dari Kota Lumpia.

Aditya Kukuh Wicaksono

Menurut Sineas muda dari Winart Studio Semarang, Aditya Kukuh Wicaksono, film dianggap sebagai salah satu media yang mampu menerjemahkan kebudayaan lokal, karena di dalamnya terdapat gambar bergerak yang mampu membingkai sebuah peristiwa menjadi suatu tayangan yang menarik, sehingga film mempunyai peran penyambung rantai sejarah untuk generasi penerus, agar menjadi generasi yang menolak lupa terhadap sejarah lokal.

Pria yang telah terlibat dalam proses produksi Sigro Milir, TLE, 3265mdpl, Daun, Milana, Al Quds Miyos, Sampur Usang dan Misterius Zone, ini berharap peran komunitas film Indie bisa terus berkarya menghasilkan film berkualitas di Kota Semarang. “Walaupun dalam setahun ini, belum ada perubahan signifikan, tetapi saya melihat potensi komunitas film indie semakin membaik,” terangnya, saat ditemui, Kamis (30/3/2017).

Aditya menambahkan, secara eksplisit tidak ada perbedaan mencolok proses pembuatan film yang diproduksi di Semarang, karena alur film ditentukan oleh directornya. Karena itu, tinggal arah pandangan produksi perfilman ditentukan sendiri oleh komunitasnya, apakah mau mandiri atau bergantung kepada Pemerintah, karena membuat film adalah panggilan hati, jadi jika dilakukan dengan tulus, Sineas Semarang akan bisa mengeliminir suka dan duka. “Pemkot Semarang sudah memberi ruang dengan adanya Gedung Pelayanan Informasi Publik, tinggal konsep pergerakan komunitasnya mau tergantung Pemerintah atau tetap mandiri,” katanya.

Sementara itu, Yulia Hesti, dari Komunitas Ruang Film Semarang, mengaku masih belum melihat ciri khas film di Semarang, karena alur ceritanya terkesan stereotype. Karena itul, Semarang biasanya sering dilewati dalam sejarah perkembangan perfilman di Indonesia. Kondisi sineas-sineas yang cenderung naik-turun juga mempengaruhi proses perkembangan film di Semarang, dan menerbitkan kesan yang kuat sineas di Kota Lawang Sewu bisa menimba ilmu terlebih dahulu. “Sineas Kota Semarang diharapkan bisa membandingkan produksi film Semarang dengan kota lainnya, untuk menjaga mutu film,” terang gadis yang saat ini terlibat dalam proses pembuatan film layar lebar tersebut.

Yulia Hesti

Berbeda dengan Adit, Yulia menyoroti kurangnya peran Pemerintah dalam mengakomodir sineas, karena lebih berkonsentrasi ke pembangunan infrastruktur dan bidang kesenian hanya mendapatkan porsi sedikit. Dirinya pesimis, jika sikap pemerintah masih seperti ini, perkembangan film akan kembali terhambat.

Terlepas dari perkembangan komunitas indie, animo masyarakat dalam mendukung film di Kota Semarang juga dirasa masih kurang. Untuk media hiburan, mereka cenderung lebih senang menonton televisi atau jika ada waktu luang pergi ke Bandungan.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar