Perpaduan Kelembutan dan Kekerasan dalam Olahraga Street Work Arts

57

SENIN, 27 MARET 2017

SEMARANG — Sekelompok pemuda berbadan kekar mengerubungi deretan tiang yang berjejer, tak lama kemudian tampak satu orang mengambil ancang-ancang, setengah berlari dirinya melompat menggapai tiang, seperti karet, dengan gerakan tubuh yang ‘gemulai’ badan pria tersebut memutar tiang dengan sempurna, terkadang dengan memnggunakan tumpuan sikut sebagai pijakan, tubuhnya diayunkan melenting keatas. Itulah gerakan pull up bagian Street Work Art (SWA) yang mulai digandrungi masyarakat Semarang.

Aksi Street Work Arts

Saat ditemui CDN (27/03/2017), Founder SWA, Atlas dan Bendahara SWA Jateng-DIY mengatakan bahwa olahraga tersebut mulai popular di masyarakat karena kebosanan masyarakat untuk datang ke GYM yang memakan waktu dan biaya member setiap bulan, oleh karena itu SWA dirancang khusus sebagai bentuk olahraga gratis yang bisa dimainkan kapan saja, cukup dengan membawa alat sederhana yaitu tiang dan tempat pull up. Biasanya bagi orang yang ingin belajar SWA ditentukan oleh berat badan dabn variasi gerakan.

“Karena Street Work Art pada dasarnya mengandalkan berat badan tubuh dan variasi gerakan jadi bagi yang beratnya ideal satu minggu sudah bisa menguasai dasar-dasar,” terangnya.

Selain itu walaupun gerakannya cenderung bervariasi dan mengandalkan daya tahan tubuh tetapi bagi yang ingn mencoba juga dijamin keselamatannya karena untuk latihan SWA sudah disediakan alat yang komplit dan instruktur berpengalaman di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dirinya meyakini jika latihan rutin selama enam bulan akan bisa menguasai gerakan freestyle.

Sementara itu, Ega Prima Nurista dari Komunitas Barstand menerangkan pada dasarnya SWA mempunyai gerakan dasar kaliteknik yang terdiri dari push up, pull up dan sit up dengan menggunakan berat badan sendiri, sedangkan untuk pengembangan teknik gerakan dibagi menjadi dua macam gerakan dasar, yaitu yang bersifat basic yaitu menggunakan lantai seperti push ap, sit up dan expert yang menggunakan tiang seperti pull up dan free style. Karena itulah SWA bisa dimainkan di mana saja, bahkan terkadang bisa memanfaatkan benda-benda di sekitar seperti kusen pintu untuk menggantung.

Founder Komunitas Atlas Muhammad Guntur Ramadhan

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa masyarakat Semarang cukup antusias untuk belajar SWA terutama bagi yang senang berolahraga, tetapi ada juga masyarakat yang menganggapnya sebagi gerakan ekstrim karena perputaran otot yang cenderung tiba-tiba, oleh karena itu dirinya menyarankan bagi yang ingin memainkan SWA harus menjalani pemanasan yang cukup.

Ke depannya Ega optimis masyarakat akan lebih mengenal SWA sebagai olahraga yang fleksibel untuk dimainkan di mana saja, hal ini dikarenakan kesibukan dalam pekerjaan sehingga terkadang mereka tidak mempunyai waktu ke GYM.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Komentar