Petani Bantul Kelola Irigasi dengan Kearifan Lokal

0
17

RABU, 22 MARET 2017

BANTUL — Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, ternyata masyarakat Bantul, Yogyakarta, hingga kini masih tetap menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun dalam hal pengelolaan air. Hal itu terlihat dari kebiasaan para petani yang secara bijak memanfaatkan air dari aliran irigasi sungai untuk keperluan pengairan sawah.

Ponidi

Hal semacam itu salah-satunya masih terlihat di Dusun Grojokan, Desa Tamanan, Kecamatan, Bantul, Yogyakarta. Di tengah kondisi semakin menipisnya lahan pertanian di wilayah tersebut, sebagian warga masyarakat di desa ini tetap menggeluti profesi sebagai petani. Tak seperti musim hujan yang debit airnya melimpah, pada musim kemarau debit air di desa ini akan menyusut drastis.

Pada musim kemarau seperti itulah para petani biasanya menerapkan peraturan yang telah disepakati bersama sejak lama. Meski tanpa ada peraturan tertulis, mereka tetap patuh pada peraturan adat desa tersebut demi kebaikan bersama. Peraturan itu sendiri mengatur bagaimana para petani membagi jatah air dari saluran irigasi untuk semua lahan sawah garapan di beberapa desa.

Salah seorang petani warga Dusun Grojogan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Ponidi (68), menuturkan semua petani di desanya secara sadar hanya akan mengaliri sawah pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Penetuan pengairan sawah atau biasa disebut ‘ngelepi’ itu biasanya diatur berdasarkan hari pasaran Jawa, yakni Pahing, Pon, Legi, Wage, dan Kliwon. “Setiap hari itu ada jatuhnya masing-masing. Misalnya, setiap Pon dan Wage untuk Dusun Grojokan, nanti Pahing dan Legi untuk Dusun Glagah dan seterusnya. Jadi, sudah ada pembagian sendiri, tidak boleh rebutan,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Ponidi menuturkan, memang tak ada sangsi yang diberikan pada petani yang melangar peraturan adat tersebut. Meski demikian, hampir semua petani di desanya selalu memiliki kesadaran untuk patuh pada peraturan itu. Kalaupun ada petani yang melanggar sangsi, lebih pada sangsi sosial yakni dikucilkan dari pergaulan masyarakat. “Kalau sampai ada yang melanggar atau merebut jatah air petani lain, biasanya akan dikucilkan dari kegiatan,”  katanya.

Saat ini, kearifan lokal warga Desa Tamanan dalam mengelola air tersebut masih tetap berjalan dan berlaku. Mesk hal itu sudah semakin longgar, mengingat semakin banyak lahan pertanian berganti menjadi perumahan, sehingga semakin sedikit pula jumlah sawah yang harus diairi saat kondisi debit air surut pada musim kemarau.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar