Pinjaman Tabur Puja Kembangkan Usaha Karupuak Laweh Ni Yus

97

SENIN, 27 MARET 2017
 
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Membesarkan anak seorang diri bukan menjadi alasan buat Yus Susanti (32) patah arang dalam menghadapi kehidupan. Dorongan dari orang tua, anak, dan sokongan modal dari Tabur Puja di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri membuat usaha yang ditekuninya terus menggeliat.

Yus Susanti

Bersama orang tua laki-laki dan dibantu anaknya yang saat ini menempuh pendidikan di SMK di kabupaten Solok, ia menekuni usaha pembuatan karupuak laweh (kerupuk lebar yang menjadi cemilan khas daerah tersebut) yang sudah sejak kecil dijalani. Usaha tersebut juga menjadi satu-satunya sumber pemasukan yang dapat membantu perekonomian keluarga hingga biaya anak sekolah.

Sebelumnya, usaha yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga agak sulit berkembang. Keterbatasan modal hingga peralatan yang masih sedikit menjadi kendala. Upaya meminjam pun belum membuahkan hasil karena keterbatasan persyaratan.

“Sudah ke mana-mana mencoba meminjam, namun tidak ada yang mengasih,” kenang Ni Yus, demikian ia akrab disapa, saat disambangi Tim Cendana News di Posdaya Gerakan Membangun Masyarakat (Gerbang Mas) Muaro Paneh.

Sebelumnya, ia terbiasa menggunakan piring loyang sebagai cetakan. Namun, sesuai perkembangan zaman, ia juga beralih menggunakan plat dari seng meskipun jumlahnya masih sedikit. Pindah menggunakan seng plat dinilai ideal, karena untuk satu piring loyang harganya termasuk mahal jika dibeli dalam jumlah banyak.

Saat merasa kebingungan tersebut, ia bertemu dengan salah satu pengurus Posdaya. Melalui dialog dan melihat keseriusan, proposal peminjaman disetujui Tabur Puja Gerbang Mas Muaro Paneh, Kecamatan Bukik Sundi, Kabupaten Solok.

“Alhamdulillah, pinjaman awal saya mendapatkan dana Rp2 juta dan mengurus pinjaman juga mudah, syaratnya mudah, dan tidak butuh agunan,” jelasnya menyebutkan kemudahan dalam mendapatkan tambahan modal usaha.

Dana pinjaman awal yang diterimanya dipergunakan untuk membeli peralatan mencetak, yakni tiga helai seng plat yang setiap helainya dapat menghasilkan 43 cetakan. Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk membeli dandang besar (yang digunakan untuk merebus bahan baku) dan ubi (singkong) sebagai bahan baku utama pembuatan kerupuk.

“Ditambah dengan seng plat yang lama, saat ini tempat mencetak karupuak laweh yang sudah saya miliki mencapai 250 cetakan,” katanya.

Dengan adanya aliran dana tersebut, dalam membentuk kerupuk jadi lebih mudah, ditambah dengan jumlahnya banyak sehingga dalam pengerjaan bisa menghasilkan karupuak laweh mentah juga menjadi lebih banyak.

Meningkatnya produksi juga membuatnya harus mencari lebih banyak bahan baku. Dalam pencarian, memang ditemui kendala, di antaranya harga yang tidak stabil dan bahan baku harus didatangkan dari luar daerah.

“Mungkin ini sedikit kendala yang dihadapi dalam berusaha, karena kebun daerah ini belum panen,” terangnya.

Sementara untuk pemasaran, ia tidak menemui kendala, karena sudah ada toke (pembeli dalam jumlah banyak) yang selalu setia menunggu hasil produksinya di pasar-pasar yang ada di daerah tersebut.

Yus Susanti sedang sibuk membuat kerupuk laweh.

Mulai stabilnya usaha yang ditekuni saat ini, ia berencana untuk menggunakan dana pinjaman tahap kedua untuk meningkatkan ragam usaha, yakni karambia cukia (kelapa cungkil: Minangkabau). Direncanakan usaha barunya, pengelolaan daging kelapa (kopra) juga dapat lebih meningkatkan kualitas hidupnya ke depan.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar