Plosokuning, Bangkitkan Literasi Arab Pegon

139

SENIN, 27 MARET 2017
YOGYAKARTA — Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di Nusantara, terutama Jawa-Islam, menggunakan huruf Arab Pegon dalam berkomunikasi secara tertulis. Huruf atau yang kemudian juga sering disebut Bahasa Pegon, menjadi bahasa persatuan di zaman penjajahan. Kini, bahasa Pegon nyaris tersisihkan. Padahal, banyak naskah kuno berisi sejarah yang dituliskan dengan huruf Pegon.

Yudian Wahyudi (pegang mikropon).

Jauh sebelum zaman kemerdekaan, Pegon menjadi bahasa sehari-hari di semua lini kehidupan. Baik untuk berdagang maupun sebagai bahasa tertulis resmi di antara tokoh pada zaman itu, terutama para ulama dan kiai yang berjuang melawan penjajah. Bahkan, karena Pegon merupakan bahasa khas Islam di Jawa yang tidak dipahami oleh bangsa Belanda, Pegon menjadi semacam bahasa sandi.

Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta, Prof. Kiai Yudian Wahyudi, mengatakan, Pegon menjadi bahasa pemersatu ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan. Waktu itu, bahasa Indonesia belum ada, dan Islam menjadi penyangga dalam melawan penjajahan.

Yudian menjelaskan, ketika perang Pangeran Diponegoro berakhir pada 1830, banyak para pengikut Pangeran Diponegoro yang terdiri dari para umaro dan ulama, bersembunyi di Pondok Pesantren Tremas. Mereka membangun benteng pertahanan budaya (pesantren) dan mengharamkan apa pun yang berbau penjajahan. Karenanya, pada saat itu mempelajari bahasa asing, terutama bahasa Belanda, dianggap haram.

“Pada saat-saat itulah, bahasa Pegon menjadi satu-satunya bahasa komunikasi yang mempersatukan Nusantara,” beber Yudian, saat menjadi pembicara dalam Seminar dan Kajian Literasi Arab Pegon dalam Budaya Literasi Khasanah Sastra dan Pengetahuan Keislaman, di serambi Masjid Sulthoni Pathok Negoro Plosokuning, Sleman, pada Senin (27/3/2017), sore.

Lebih jauh, Yudian mengatakan, Islam menjadi kekuatan utama, bahkan super power dalam memerangi penjajahan pada waktu itu. Namun, bahasa Pegon kemudian tersisih, seiring dengan bangkitnya semangat nasionalisme yang pada puncaknya kemudian diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928. Dalam perspektif lebih luas, di awal-awal abad ke-20, itu terjadi perubahan besar di dunia, dengan munculnya kekuatan baru, yaitu komunis.

“Pada awal abad kedua puluh itu, Islam tidak lagi menjadi kekuatan super power. Di Indonesia, perjuangan menjadi tidak hanya dilakukan oleh Islam, tetapi nasionalisme,” katanya.

Seiring dengan perkembangan, setelah negara merdeka, Bung Karno yang ingin memperkuat nasionalisme menghapus bahasa Pegon dan menggantinya dengan bahasa Latin. Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional dan persatuan, juga menjadi bahasa ilmiah. Maka, terjadilah perubahan besar di kalangan masyarakat Jawa-Islam. Karenanya pula, pada waktu itu banyak masyarakat dianggap buta huruf yang sebenarnya hanya buta huruf Latin.

Kini, setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, bahasa Pegon nyaris terlupakan. Generasi sekarang, tidak kecuali umat Islam, tak lagi mengenal bahasa Pegon. Karena itu, Seminar dan Kajian Literasi Arab Pegon, dalam Budaya Literasi Khasanah Sastra dan Pengetahuan Keislaman, diadakan, sebagai upaya membangkitkan lagi bahasa Pegon yang menyimpan banyak nilai ajaran luhur dari nenek moyang, sekaligus nilai sejarah perjuangan bangsa.

Seminar dan kajian bahasa Pegon tersebut, diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Qashrul Arifin Plosokuning, Sleman, Yogyakarta, bekerjasama dengan Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Dinas Kebudayaan DIY, dan Kraton Yogyakarta.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar