Posdaya Bantu Pasarkan Hasil Kebun Petani di Koto Hilalang

0
17

RABU, 29 MARET 2017
 
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Menempuh jalan yang berbukit, berliku dengan jarak belasan kilometer dari jalan utama menjadi kendala tersendiri bagi petani di Koto Hilalang, Kabupaten Solok untuk menjual hasil kebunnya. Menjual dalam jumlah sedikit keuntungan yang diraih tidak seimbang dengan ongkos yang dikeluarkan. Menjual dalam jumlah banyak, harus butuh waktu lama untuk mengumpulkan. Perlu ada solusi untuk masalah tersebut, salah satunya pengepul yang bertugas untuk dapat memasarkannya.

Nasabah baru Tabur Puja Posdaya Koto Hilalang.

Kendala lain muncul, meski pemasaran menjadi ladang usaha, namun permasalahan utamanya modal untuk membeli hasil kebun warga menjadi hal yang cukup menyulitkan. Hal inilah yang benyak menyebabkan warga mengurungkan niat untuk menjadi pengepul.

Namun, sejak hadirnya Posdaya Koto Hilalang, satu-persatu pengepul dari warga sekitar bermunculan bak jamur di musim hujan. Hal tersebut dikarenakan, modal yang selama ini susah didapatkan terbantu dengan adanya Tabur Puja (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera) yang merupakan salah satu unit dari Pos Pemberdayaan (Posdaya). Salah seorang warga yang mengambil kesempatan tersebut, yakni Ruskawi (45) yang akrab disapa Buk Rus.

Sehari-hari ia berkeliling daerah tersebut untuk mencari petani yang ingin menjual hasil kebunnya, seperti alpukat, pinang, kelapa, kakao dan sebagainya. Semuanya ditampung dan akan dijual lagi ke pengepul besar di pasar pusat kota atau kabupaten.

Ruskawi mengakui, dengan adanya aliran dana pinjaman dari Tabur Puja, usahanya lebih berkembang. Bahkan dari hasil berdagangnya sudah dapat membantu suami, bahkan ikut membantu biaya pendidikan.

“Alhamdulillah, mambantu bana pinjaman dari Posdaya ko,” sebut Buk Yus dalam dialek Minang yang ia menyebutkan bahwa Posdaya sangat membantu.

Pencairan dana di Tabur Puja.

Setelah merasakan langsung manfaatnya, hingga kini ia termasuk salah satu nasabah yang aktif. Bahkan saat ini, ia sudah memasuki pinjaman ketiga dengan jumlah dana yang didapatkan sebesar Rp3 juta yang diputarnya untuk membeli hasil kebun petani.

“Betah saya minjam di sini, karena bermodalkan KTP dan Kartu Keluarga sudah dapat meminjam, dan cepat,” katanya sambil tersenyum simpul.

Hal serupa juga disebutkan Asnidar (39) yang juga berprofesi sebagai pedagang hasil bumi di daerah tersebut. Keterbatasan modal menjadi salah satu alasan ia mengurungkan niat untuk mengembangkan usaha. Sebelumnya ia hanya berdagang miso dan gorengan.

“Memang butuh modal, alhamdulillah setelah bergabung dengan Posdaya, saya bisa mengembangkan usaha sebagai pengepul hasil bumi petani,” sebutnya.

Satu lagi pengepul baru yang juga mendapatkan aliran pinjaman dari Tabur Puja, yakni Usmardiati (35). Berkat pinjaman, ia sudah dapat memiliki usaha sendiri yang berdampak pada pendapatan.

“Dengan adanya modal, ada peningkatan perekonomian keluarga,” sebutnya.

Dengan banyaknya pengepul berdampak pada mudahnya petani dalam memasarkan hasil kebun. Mereka tidak harus menempuh jarak yang jauh untuk menjual. Tidak harus mengumpulkan dulu, bahkan dapat dijual kapan saja.

“Sangat terbantu, karena petani tidak harus pergi ke pengepul yang ada di pusat kota, dan tentunya ini dapat lebih cepat dalam hal penjualan,” kata Afdal (50) yang memiliki kebun kakao sekitar dua hektar.

Buk Rus.

Efek domino dari pinjaman Tabur Puja Posdaya sangat berdampak besar dalam peningkatan pendapatan masyarakat. Mulai dari peminjaman yang digunakan untuk membeli hasil pertanian, secara tidak langsung juga ikut memasarkan dan meningkatkan perekonomian petani.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar