Posdaya, Hijaukan Dusun Ngijo di Bantul

31

SENIN, 27 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak awal didirikan pada 2009, Posdaya Ngijo, Srimulyo Piyungan, Bantul, terus berupaya memajukan dusun dalam berbagai hal. Di bidang lingkungan, sejumlah program disusun untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang sebelumnya belum tergarap maksimal. 

Kerjabakti warga Dusun Ngijo

Dengan mengoptimalkan sejumlah kegiatan yang sudah berjalan sejak lama, seperti kerja bakti dan bersih desa, Posdaya Ngijo aktif menggerakkan warga untuk membersihkan lingkungan. Kegiatan yang semula berjalan berkala di tiap RT, didorong menjadi lebih rutin dengan skala lebih luas, yakni tingkat dusun.

Selain membersihkan lingkungan, Posdaya Ngijo juga membuat program penghijauan dusun dengan mendorong setiap keluarga menanam tanaman produktif, baik sayur mayur maupun toga di setiap pekarangan rumah. Mulai dari sayuran cabai, terong, tomat hingga tanaman obat herbal seperti daun kelor, sirih merah, lidah buaya, dan sebagainya. “Upaya yang kita lakukan untuk mendorong warga adalah dengan melakukan sosialisasi-sosialisasi di setiap pertemuan dusun. Warga kita undang, lalu kita dorong melalui setiap pengurus RT. Warga yang tidak memiliki lahan pekarangan luas, kita arahkan untuk menanam melalui polybag,” ujar pengurus sekaligus penggerak Posdaya Ngijo bidang lingkungan, Wahyuni.

Berkat kekompakan seluruh warga, dalam waktu relatif singkat Dusun Ngijo mampu meraih prestasi. Mulai dari juara III lomba tanam herbal tingkat kecamatan pada 2009, juara lomba Green and Clean Unilever dua kali berturut-turut pada 2009 dan 2010, hingga juara II lomba lingkungan bersih dan sehat tingkat kabupaten pada 2010.

Wahyuni

Meski telah mendapat berbagi prestasi, Posdaya Ngijo tak lantas berhenti melakukan upaya meningkatkan kualitas lingkungan. Salah satu program yang kemudian dibuat adalah Bank Sampah, yang diberi nama Salim Sari atau Sinau Andandani Lingkungan Masyarakat Sehat Asri Resik Ijo, yang resmi berdiri pada 2011. “Pendirian Bank Sampah ini diawali sejak adanya program pengolahan limbah lingkungan dari pihak Unilever dengan kegiatan Green and Clean pada 2011. Sejak itulah kita mulai merintis pembuatan Bank Sampah dengan melibatkan semua warga, ” ujarnya.

Kegiatan Bank Sampah dilakukan dengan proses pemilahan oleh setiap anggota atau nasabah di rumah masing-masing. Setiap satu minggu sekali, mereka akan menyetorkan sampah tersebut untuk dicatat dan disimpan di Bank Sampah, yang memanfaatkan salah satu gudang milik warga. Setiap tiga bulan sekali, seluruh hasil tabungan sampah kemudian dijual. “Saat ini, ada 86 Kepala Keluarga yang menjadi anggota Bank Sampah. Mereka rutin menyetor sampah. Setiap kita jual itu sampah yang terkumpul cukup banyak. Sekali jual bisa mencapai Rp1 juta. Hasilnya kita kembalikan pada warga yang menyetor, hanya 15 persen disisihkan untuk kas dan biaya operasional,” katanya.

Tak hanya sekedar menjual sampah, Posdaya Ngijo juga mengajarkan pengolahan sampah menjadi sejumlah kerajinan tangan. Ini dilakukan dengan menyebarkan ilmu yang didapat dari pelatihan Pemerintah atau perguruan tinggi kepada pengurus, lantas pengurus menularkannya kepada warga. “Pelatihan ini kita berikan kepada warga yang berminat. Misalnya, membuat vas bunga, hiasan, manik-manik, dan sebagainya. Hasilnya akan kita tampilkan dalam setiap kegiatan yang dilakukan Posdaya. Mulai dari kegiatan rutin Pemerintah hingga kunjungan-kunjungan,” ujarnya.

Kecuali itu, saat ini Posdaya Ngijo juga terus berupaya merintis program-program lain di bidang lingkungan. Mulai dari pengolahan limbah rumah tangga untuk kompos. Hingga pembuatan kandang kelompok yang jauh dari pemukiman, guna meminimalisir keberadaan kandang ternak di sekitar lingkungan rumah-rumah warga.  “Memang ini butuh waktu, karena menyadarkan semua warga itu tidak mudah. Harus pelan-pelan,” Wahyuni.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar