Posdaya Ngijo Perluas Kemanfaatan Kegiatan Masjid

57

SENIN, 27 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Posdaya Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul, tak hanya pada bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan dan ekonomi, saja. Namun, juga pada bidang keagamaan berbasis masjid.

Masjid Assalaam, Ngijo

Melalui pemberdayaan di bidang keagamaan, Posdaya Ngijo memaksimalkan potensi warga yang mayoritas beragama Islam, untuk kemanfaatan di berbagai bidang lainnya. Penasehat Posdaya Ngijo yang juga Takmir Masjid Assalaam Ngijo, Rahmadianto, menuturkan dengan adanya Posdaya itu program kegiatan keagamaan yang digerakkan oleh takmir masjid diperluas. “Tidak lagi hanya menyangkut peribadatan saja, namun juga menyasar bidang-bidang kemasyarakatan lainnya,“ katanya.

Salah satu program baru di bidang keagamaan yang dibentuk pasca adanya Posdaya adalah Zakat Infaq Sodaqoh (ZIS). Program ini menjadi motor penggerak berbagai macam program lainnya di Dusun Ngijo. ZIS merupakan program yang mewadahi berbagai kegiatan zakat, infaq maupun sodaqoh seluruh warga. Melalui ZIS, kegiatan tersebut dikelola secara lebih baik dan tertata. “Awalnya, ZIS ini hanya dilakukan oleh para pengurus takmir saja. Tujuannya agar pengurus yang kebanyakan pegawai bisa belajar menyisihkan 2,5 persen hartanya untuk zakat, infaq dan sodaqoh. Namun, kemudian warga lain banyak yang ikut. Dari situlah berkembang,” ujar Rahmadianto, saat ditemui, belum lama ini.

Menurut Rahmadianto, pengumpulan dana ZIS biasanya dilakukan saat pertemuan rutin satu bulan sekali. Sekali pertemuan, dana ZIS yang terkumpul bisa mencapai Rp500.000. Saat bulan Ramadhan, dana ZIS bahkan meningkat drastis hingga mencapai Rp30 juta setiap bulannya. Dana ZIS inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dusun.

Rahmadianto

Sejumlah kegiatan yang bersumber dari dana ZIS, itu antara lain pemberian santunan kepada warga jompo, beasiswa rutin bagi warga usia sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, SMK dengan besaran berbeda-beda. Termasuk juga beasiswa bagi warga yang hendak melanjutkan kuliah, namun secara ekonomi kurang mampu. Selain itu, dana ZIS ini juga dimanfaatkan untuk bantuan modal usaha kecil warga. “Sejak adanya Posdaya, kita berpikir untuk memanfaatkan dana ZIS secara lebih meluas, yakni untuk kepentingan masyarakat. Namun, untuk peningkatan di bidang keagamaan juga tetap jalan,” tuturnya.

Khusus untuk bidang keagamaan, pemanfaatan dana ZIS juga beragam. Antara lain, untuk meningkatkan minat ibadah warga dengan menyediakan doorprice bagi yang berangkat sholat subuh berjamaah. Hingga santunan pemberian kain mori gratis saat ada warga yang meninggal dunia.

Tak hanya itu, dana ZIS juga dimanfaatkan untuk membangun sarana ibadah yakni masjid, serta Gedung TPA. Rahmadianto menceritakan, pembangunan Masjid maupun Gedung TPA dilakukan bergotong-royong antar semua warga. Setiap warga tidak dibebani, melainkan secara sukarela menyumbang, baik tenaga maupun sebagian hartanya untuk pembangunan tersebut. “Kita semua gotong-royong dengan melibatkan dua desa. Ada warga yang menyumbang batu bata, konsumsi, atau tenaga. Semua sesuai kemampuan dan keikhlasan warga. Tidak ada paksaan. Hebatnya, masjid yang awalnya kita rencanakan dibangun bertahap, di luar dugaan bisa langsung jadi sekaligus, ini berkat kekompakkan warga,” katanya.

Hingga kini, upaya untuk meningkatkan kesadaran warga agar tergerak menyisihkan sebagian hartanya untuk ZIS masih terus dilakukan. Di antaranya dengan berbagai kegiatan, baik pengajian-pengajian maupun pertemuan-pertemuan rutin dusun. Pasalnya, memunculkan kesadaran warga untuk mau berinfaq shodaqoh tidak bisa dipaksakan, karena berdasarkan hati nurani masing-masing. “Untuk kegiatan pengajian, secara rutin digelar setiap minggu. Mulai dari pengajian bapak-bapak, ibu-ibu, hingga remaja,” ujar Rahmadianto.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar