Puan: Peran Muslimat NU Sangat Penting Menjaga NKRI

75

SELASA, 28 MARET 2017

JAKARTA   — Peran dan partisipasi aktif Muslimat NU saat ini sangatlah penting dalam menghadapi persoalan bangsa, terutama dalam menjaga keutuhan NKRI. Muslimat NU terus berkomitmen dalam mengemban tugas dan peran keagamaan dan kemasyarakatan. 

.Menko PMK Puan Maharani,

“Mengingat pentingnya posisi Muslimat NU dalam pembangunan kemanusiaan, saya berharap Muslimat NU tetap menjadi garda terdepan dalam pembangunan manusia menuju yang lebih baik,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani saat memberikan sambutan dalam Pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU)  Masa Khidmat 2016-2021 dan Peringatan Hari lahir ke-71 Muslimat NU yang bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (28/03).

Peranan Muslimat Nahdlatul Ulama bagi pembangunan bangsa Indonesia sangatlah besar. Muslimat NU bukan hanya menjaga keutuhan bangsa, namun ikut mengisi pembangunan dengan banyak langkah nyata secara konsisten.

“Dalam mengisi pembangunan, Muslimat NU punya taman pendidikan Alquran, Taman Kanak-Kanak/Raudlatul Athfal, koperasi, panti asuhan, klinik kesehatan, dan banyak lagi. Ini menunjukkan betapa besarnya peran Muslimat NU bagi masyarakat dan bangsa Indonesia,” ungkap Puan.
 
Lebih lanjut, Puan juga menyatakan peran dan kontribusi NU sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat. NU juga mempunyai kedekatan hubungan dengan Presiden RI yang pertama, Soekarno.

Pada Muktamar Alim Ulama se-Indonesia pada1953 di Cipanas, diputuskan untuk memberi gelar kepada Soekarno sebagai Waliyul Amri Dharuriy bis-Syawkah (Pemimpin Pemerintahan yang berkuasa dan wajib ditaati). Bila dipandang dari sudut nasionalisme, NU dan Soekarno selalu menempatkan kepentingan nasional, kepentingan bangsa di atas kepentingan orang-perorang, kelompok atau golongan.

Dukungan NU kepada Bung Karno juga dicatat dalam sejarah dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di bawah komando KH. Hasyim Asy`ari yang mewajibkan segenap umat Islam, khususnya warga NU untuk berperang melawan sekutu.

Dalam sambutannya, Puan juga mengaku sangat penting bisa ikut hadir dalam Harlah Muslimat NU karena bisa bertemu dengan ribuan ibu-ibu dan kaum perempuan kader Muslimat NU. Selain itu, ikut  merasakan bagaimana Masjid Istiqlal yang agung dan megah dipenuhi para perempuan NU yang kuat dan toleran.

Acara dihadiri sejumlah tokoh diantaranya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa yang juga Menteri Sosial, Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nazarudin Umar, Ketua MUI KH Mar’uf Amin, Istri Presiden RI ke-4 Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, serta lebih dari 20.000 pengurus dan anggota Muslimat NU yang berasal dari seluruh Indonesia. 

Jurnalis: Shomad Aksara/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Shomad Aksara

Komentar