Puluhan ‘Raksasa’ Diarak di Sepanjang Jalan Malioboro

50

SABTU, 25 MARET 2017

YOGYAKARTA — Di bawah naungan awan hitam pekat mendung Kota Yogyakarta, puluhan Ogoh-ogoh berbagai bentuk dan ukuran diarak dalam pawai budaya Festival Ogoh-ohoh di sepanjang Jalan Malioboro, Sabtu (25/3/2017) sore. Ribuan warga baik peserta maupun warga masyarakat dari berbagai kalangan tampak berbaur untuk menyaksikan festival tersebut.

Suasana Festival Ogoh-ogoh di Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Digelar dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh yang diarak tersebut berasal dari berbagai lembaga atau paguyuban yang ada di DIY. Mulai dari kelompok keagamaan, akademi militer, hingga kelompok kesenian tradisional dari berbagai wilayah Kabupaten dan Kota di DI Yogyakarta. Uniknya, festival ini tak hanya diikuti kaum Hindu saja, namun juga unsur umat agama lain, seperti Islam, Kristiani, dan lainnya.

Panitia Festival Ogoh-ogoh, I Komang Adiputra, menyebut ada dua festival ogoh-ogoh yang digelar hampir bersamaan di DIY pada hari ini. Yakni di Kabupaten Sleman, yang dimulai dari Monumen Jogja Kembali hingga Jembatan UGM dan festival ogoh-ogoh di sepanjang Jalan Malioboro. “Untuk yang di Sleman, diikuti sekitar 40 ogoh-ogoh. Sedang yang di Malioboro ini diikuti sekitar 60 ogoh-ogoh,” katanya.

Menurut I Komang, ogoh-ogoh merupakan boneka yang dibuat sebagai manifestasi buta atau raksaksa yang melambangkan sifat-sifat jahat angkara murka. Karena itu, ogoh-ogoh dibuat dengan bentuk yang seram. Baik itu berupa perwujudan binatang, setan, dan sebagainya. “Melalui Festival Ogoh-ogoh inilah sifat jahat itu kita sucikan dengan ritual upacara arak-arakan,” katanya.

I Komang Adiputra

Seminggu sebelumnya, sejumlah umat Hindu di DIY telah melangsungkan upacara Melasti atau pengambilan air suci di Pantai Selatan. Upacara ini biasa dilakukan umat Hindu sebelum hari raya Nyepi sebagai bentuk perwujudan menyebarkan kesejahteraan bagi alam semesta.

Selain dalam rangka menyemarakkan hari raya Nyepi bagi umat Hindu, kegiatan rutin tahunan ini juga digelar sebagai upaya melestarikan adat dan tradisi warisan leluhur dari berbagai daerah. Termasuk juga dalam mendukung dunia pariwisata di DIY. Yakni untuk menarik para wisatawan berkunjung ke Kota Yogyakarta. “Selain mendukung dunia pariwisata DIY, kita juga berharap acara ini dapat semakin menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama,” pungkas I Komang.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar