Rawang, Nagari Yang Melestarikan Kesenian Minangkabau

45

SENIN, 20 MARET 2017

PADANG — Sanggar Arai Pinang yang berada di Kenagarian Rawang Gunungmalelo, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), merupakan sanggar yang dibentuk oleh sekelompok pemuda/pemudi yang masih peduli dengan sejumlah kesenian Minangkabau yakni Randai dan Rabab Pasisie.

Penampilan Randai dari Sanggar Arai Pinang.

Dalam hal melestarikan Randai dan Rabab Pesisie ini, Sanggar Arai Pinang pun menggelar perlombaan sebagai upaya memicu keinginan generasi Minangkabau untuk tetap mempelajari Randai dan Rabab Pesisie. Ketua Panitia Festival Rabab 2017, Sanggar Arai Pinang, Zul Efendi menjelaskan, tujuan lomba yang digelar tersebut bentuk kepedulian pemuda/pemudi untuk tetap melestarikan kesenian Minangkabau. Untuk itu, dalam iven yang digelar ke enamnya ini, diikuti dari sejumlah daerah dari Kabupaten Pesisir Selatan.

“Yang kita perlombakan itu Rabab Pasisienya yang akan dimulai malam ini dalam rangka ulang tahun

Sangar Arai Pinang ke enam, sedangkan untuk acara pembukanya kita tampilkan Randai dari Sanggar Arai Pinang. Meskipun Randai hanya sebagai acara pembuka, namun dengan adanya Randai ini kita bisa menunjukan bahwa kami pemuda di sini ingin agar kesenian tetap eksis,” ujarnya, ketika dihubungi dari Padang, Senin (20/3/2017).

Zul Efendi menyebutkan, perjuangan para pemuda/pemudi di Rawang Gunungmalelo untuk melestarikan kesenian Minangkabau dilakukan secara bersama dengan cara sukarela, dan tanpa ada perhatian dan dukungan dari pemerintah. Setiap kegiatan yang dilakukan, merupakan inisiatif dari anggota yang tergabung dalam Sanggar Arai Pinang melalui dana kas atau iuran.

Menurutnya, meski tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah, tidak membuat surut semangat para pemuda/pemudi untuk tetap melestarikan kesenian Minangkabau. Apalagi Randai, bisa dikatakan tidak banyak daerah yang mengajarkan Randai, dan bahkan hanya sebagian kecilnya yang masih tetap mengajarkan genarasi muda untuk belajar Randai tesebut.

“Belum lagi Rabab Pasisie nya, bisa dikatakan orang yang mahir bermain Rabab Pasisie itu kalangan bapak-bapak, sementara pemuda/pemudinya belum terlihat tampil dalam memainkan Rabab Pasisienya.

Lomba Rabab Pasisie yang dilakukan ini merupakan harapan agar pemuda/pemudi bisa mempelajari Rabab Pesisie, sehingga di masa depan kesenian Rabab Pasisie akan selalu terdengar, terutama di Pesisir Selatan,” ungkapnya.

Melihat besarnya semangat para pemuda/pemudi di  Rawang Gunungmalelo tersebut, tokoh TP-PKK Pesisir Selatan, Lisda Hendrajoni mengatakan, kegiatan yang dilakukan oleh Sanggar Arai Pinang itu bisa menjadi perhatian pemerintah setempat hendaknya. Karena semangat untuk melestarikan kesenian Minangkabau merupakan hal yang perlu didukung, agar segara tujuan bisa terwujud, dan kesenian Minangkabau pun terus eksis dan akan ada di masa mendatang.

“Saya sangat menginginkan, kedepannya setiap kegiatan anak nagari bisa dimasukan dalam anggaran pemerintah daerah, supaya motivasi anak-anak nagari bisa terpacu mengadakan berbagai peristiwa yang berkaitan untuk kemajuan daerah,” harap Lisda.

Ia berpendapat, jika kegiatan semacam itu didukung oleh pemerintah secara finansial, maka secara tidak langsung pemerintah juga telah turut melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Minangkabau. Tidak hanya itu, dengan adanya dukungan yang penuh dari pemerintah, maka kegiatan yang dilakukan sebagai upaya melestarikan kesenian, bisa dilaksanakan lebih besar lagi dan bahkan bisa dilakukan ditingkat provinsi.

“Terlaksananya acara ini di tingkat Kabupaten Pesisir Selatan sudah bagus, apalagi yang saya dengar peserta untuk Rabab juga ada datang luar dari Pesisir Selatan. Ini yang kita harapkan, agar para pemuda/pemudi terus mempelajari kesenian dan kebudayaan Minangkabau,” tutupnya.

Suasana Latihan Randai dari Sanggar Arai Pinang.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar