Remaja Hindu Bangunrejo Buat Ogoh-ogoh Gotong Royong

160

JUMAT, 24 MARET 2017

LAMPUNG — Puluhan remaja dari kelompok muda mudi Hindu Bali di Dusun Kerti Buana Desa Bangunrejo disibukkan dengan proses penyelesaian pembuatan ogoh-ogoh dan lengkap dengan bambu yang akan digunakan untuk mengarak ogoh-ogoh. 

Ogoh-ogoh yang menyimbolkan Buto Kala.

Proses pembuatan sanan menggunakan bambu hitam dikerjakan dengan proses tali menali menggunakan karet ban dalam dengan pola ikatan yang kuat sehingga bisa diangkat sekitar 20 orang. Tiga ogoh ogoh dengan tokoh raksasa baik dan raksasa jahat juga tengah diselesaikan dengan membuat pakaian terbuat dari kertas dan kain khusus berwarna cerah.

Menurut Ketut Sunantara (40) selaku kreator atau seniman penggagas, proses pembuatan ogoh-ogoh dikerjakan sejak akhir Februari hingga kini bahkan masih dalam tahap penyelesaian secara bergotong royong. Pembuatan ogoh- ogoh dengan tinggi sekitar dua meter dan bobot sekitar 200 kilogram diestimasikan menghabiskan biaya sekitar Rp3 juta hingga selesai.

Ketut  mengungkapkan ide membuat ogoh-ogoh tersebut merupakan kegiatan setiap tahun. Berbekal keahliannya membuat patung di Bali selama hampir lima tahun membuat dirinya selalu dipercaya menjadi kreator atau menciptakan ide ogoh-ogoh yang akan dibuat. Sebelum pembuatan ogoh-ogoh dimulai, dilakukan lebih dahulu musyawarah. 

“Saya kebetulan memang memiliki keahlian seni sehingga dipercaya oleh muda-mudi Hindu di sini untuk menciptakan bentuk tokoh dan akan dibuat dengan cara gotong royong bersama melibatkan seluruh anak-anak muda,” ungkap Ketut Sunantara.

Anak anak muda mengerjakan tugas masing masing sesuai dengan keahliannya. Ada  remaja yang bertugas membuat sanan dan ada yang menyelesaikan pembuatan bagian badan ogoh-ogoh. Sebagian mudi mudi sibuk menyiapkan konsumsi untuk kaum muda yang membuat ogoh-ogoh tersebut. Biaya disediakan donatur dari kalangan umat.

Nyoman Arya Suryadinata (19) yang ditemui Cendana News di Wantilan atau Aula Dusun Kerti Buana, Jumat (24/03/2017), mengungkapkan pembuatan ogoh-ogoh melibatkan sekitar 60 muda-mudi Hindu dari Dusun Kerti Buana Desa Bangunrejo Kecamatan Penengahan.

Proses pembuatan ogoh ogoh yang dimulai dari pembuatan kerangka menggunakan jenis kayu jambu batu sejak satu bulan sebelumnya. Selanjutnya setelah proses pembuatan kerangka dari kayu proses penyempurnaan dilakukan proses pelilitan menggunakan bambu tali dan diperkuat dengan kerangka kawat agar lebih kuat selanjutnya dibuat dari busa sekitar belasan lembar. Terdapat tiga ogoh-ogoh di antaranya tokoh raksasa.

“Raksasa merupakan simbol sifat buruk manusia dan akan diarak pada malam pengrupukan atau malam Nyepi,” ungkap Nyoman.

Prosesi pengrupukan atau pengarakan ogoh ogoh yang rencananya akan dilakukan pada (27/3) malam khusus di Dusun Kerti Buana akan diarak ke Pura Tritunggal selanjutnya diarak ke kantor kecamatan dan akan dibakar menyimbolkan pembersihan desa dari roh roh jahat.

Menurut Nyoman acara sebelum hari Raya Nyepi 1939 dikenal dengan upacara Bhuta Yajnya. Upacara ini memiliki makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan Buta Kala (raksasa jahat) dalam Bahasa Bali dikenal dengan ogoh-ogoh.

Upacara akan dilakukan di setiap banjar atau desa sesuai dengan kondisi masyarakat. Upacara mengarak ogoh ogoh akan dilakukan mulai petang diiringi pembawa obor dantetabuhan dari titik yang ditentukan. Setelah upacara selesai ogoh ogoh akan dibakar menyimbolkan seluruh roh roh jahat yang ada diusir dan dimusnahkan.

Saat hari Raya Nyepi umat Hindu akan melakukan catur brata diantaranya: amati geni atau tidak menyalakan api serta mengobarkan hawa nafsu, amati karya atau tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, amati lelungan atau tidak bepergian dan amati lelaungan atau tidak mengobarkan kesenangan.

Suasana aktivitas gotong royong membuat ogoh-ogoh.

Jurnalis: Henk Widi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Komentar