Rumah Berkonsep Alam di Lampung, Ada Saung dan Kandang Ternak

83

SABTU, 18 MARET 2017

LAMPUNG — Tempat tinggal yang nyaman dan sehat serta bisa memberikan rasa aman bagi penghuninya, sekiranya menjadi impian setiap orang. Namun, tidak banyak orang mampu mendesain rumah pribadi berkonsep alam yang sekaligus diperuntukkan bagi kegiatan beternak, dan bahkan belajar beternak bagi siapa pun yang menginginkannya.

Bagian depan rumah Bambang

Adalah Ir. Bambang Cahyo Murad (56), warga asal Banjarnegara, Jawa Tengah, yang membangun rumah berkonsep alam di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung Selatan. Bersama sang istri, M.R. Mustika Jati (53), Bambang membangun rumah di dekat sebuah embung.

Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang peternakan dan perikanan, tinggal di lahan yang luas dengan tetap bisa mengembangkan hobi beternak, bertani dan budidaya ikan merupakan cita-citanya. Bergelar insinyur membuat dirinya memiliki konsep untuk membagikan ilmu kepada masyarakat untuk pengembangan ternak ayam kalkun, yang hingga kini masih ditekuninya dengan nama Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).

Sebagai langkah awal, ia membangun rumah dengan bahan-bahan yang diperolehnya dari alam, di antaranya kayu kati yang sebagian merupakan tanaman dari kebun yang dibelinya. Sebuah rumah panggung berlantai dua dengan lantai bawah sebagai tempat tinggal keluarga, dan lantai dua digunakan untuk menginap tamu-tamu yang berkunjung menghadap ke lokasi embung yang menyerupai sebuah danau kecil.

“Saya memang suka tinggal di kampung dan menyatu dengan alam. Berbagai tanaman saya tanam, saya punya ternak ayam kalkun dan juga memelihara ikan. Konsep rumah yang saya tinggali pun berarsitektur rumah panggung dan terbuka nyaris tanpa pagar,” ungkap Bambang saat ditemui Cendana News, Sabtu (18/3/2017).

Memiliki lahan yang berada di antara embung, membuat Bambang selayaknya tinggal di sebuah pulau, meski sejatinya banyak tetangga yang tinggal di sekelilingnya, namun karena batas alam berupa embung membuat sebuah jembatan dari kayu menjadi penghubung ke rumahnya. Tak jauh dari rumahnya, sebuah bangunan kayu jati yang kerap digunakan untuk menyepi dan berfungsi sebagai villa, dibangun untuk menginap para tamu dengan bentuk rumah joglo khas Jawa Tengah.

Embung di depan rumah Bambang

Selain menggunakan bahan kayu, arsitektur bangunan yang ada di sekitar bangunan utama, di antaranya beberapa saung, dibuatnya dari bambu dipadukan dengan kayu dan pada bagian lantai bawah digunakan sebagai gudang.

Pemanfaatan ruang seefesien mungkin bahkan ditunjukkan oleh laki-laki yang masih melakukan usaha peternakan kalkun tersebut dengan membuat rumah tak terlalu besar, namun berlantai dua dengan banyak kamar. Selain itu, pemanfaatan lahan juga digunakan untuk membuat saung yang pada bagian bawah berfungsi sebagai gudang pakan ikan. Gudang tersebut merupakan bentuk alami dari kontur tanah asimetris (tak beraturan) yang menyerupai rongga untuk membuat saung menjadi sejajar.

Pola perbukitan yang tersusun secara alami, disiasati dengan membentuk terasering, dengan berbagai tanaman buah sebagai tanaman penahan longsor, di antaranya kelengkeng, mangga, jeruk, serta tanaman buah lainnya.

Arsitektur bangunan utama tersebut bahkan tidak jauh dengan areal peternakan kalkun skala menengah yang tak jauh dari rumahnya. Pola peternakan yang alami membuat kesan sebuah peternakan tak terlihat akibat menyatunya dengan pepohonan pisang, rambutan dan pepohonan lain.

Salah-satu bagian rumah yang menggunakan kayu jati

Bambang mengatakan, untuk mengupayakan budidaya kalkun tersebut, ia menyediakan lahan khusus yang jauh dari perkampungan warga lain, dan membentuk areal yang disebutnya Rumah Kalkun Mitra Alam, yang sekaligus menjadi tempat bagi masyarakat yang akan mengenal lebih dekat tata cara budidaya ayam kalkun, baik bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau masyarakat umum yang secara khusus ingin menekuni budidaya kalkun.

“Awalnya ingin ternak untuk dimanfaatkan sendiri, sekaligus menyajikannya dalam kuliner berbahan daging kalkun. Tapi, lama-kelamaan banyak orang yang juga ingin memelihara kalkun, dan belajar di rumah kalkun dan membeli bibit kalkun di sini,” ungkap Bambang.

Penataan arsitektur rumah yang cukup apik, juga diberlakukan pada penataan beberapa bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu beratapkan genteng berada di sela pohon mangga, kelengkeng, pisang dan kelapa serta kakao yang tumbuh subur meski musim kemarau, sehingga kesan sebuah peternakan nyaris tak terlihat bagi yang pertama kali mendatangi rumah tersebut.

Memiliki rumah yang nyaris menyerupai sebuah villa tersebut, menurut Bambang, merupakan impiannya. Ia bahkan mengaku sebagian anak-anaknya yang sudah bekerja dan kuliah, saat pulang kerap mengajak kawan-kawannya untuk menginap di rumah panggung dan bisa menikmati suasana saung sambil menikmati embung yang juga menjadi lokasi pemancingan berbagai jenis ikan emas, nila, patin, dan lele.

Bambang pun sudah menyiapkan visi ke depan, untuk menjadikan rumah tempat tinggalnya yang dikonsep dengan arsitektur ramah lingkungan dan kini dikenal dengan rumah kalkun sebagai rumah edukasi untuk masyarakat, serta pihak yang ingin belajar beternak kalkun. Selain itu, sasaran bagi para pelajar membuat Bambang terus menata Rumah Kalkun untuk menjadi lokasi Edu-Agrowisata. Sebuah konsep yang sedang berjalan dan terus dilakukan pembenahan.

“Kami tidak hanya beternak kalkun semata, tapi konsep Edu Agrowisata akan menjadi daya tarik untuk berkunjung ke lokasi ini, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa serta masyarakat umum,” ungkap Bambang.

Bambang Cahyo Murad menunjukkan penghargaan bidang peternakan yang pernah diterimanya.

Tak jarang, rumah pribadi yang ditinggali bersama keluarganya tersebut “dipinjam” oleh berbagai organisasi untuk menggelar pertemuan. Selain memiliki beberapa saung, lokasi yang nyaman dengan arsitektur bangunan rumah panggung, beberapa rumah bergaya Jawa, saung serta jembatan dari bambu menjadi tempat untuk mendapatkan angle foto terbaik para pecinta fotografi.

Cendana News yang menyempatkan diri menginap di rumah tersebut bahkan merasakan tinggal di sebuah kampung wisata, meski sejatinya rumah tersebut merupakan rumah pribadi tempat tinggal Bambang sekeluarga. Namun, dengan gaya arsitektur dalam pembuatan bangunan ramah lingkungan, membuat rumah keluarganya terlihat menyatu dengan alam menyerupai tempat wisata.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar