Rumah dari Tanah Liat dan Kotoran Sapi, Masih Ada di Lampung

0
21

MINGGU, 19 MARET 2017

LAMPUNG — Deretan rumah sederhana terbuat dari batu bata merah utuh berukuran besar dengan sebagian berbentuk joglo dan limasan gaya khas Jawa Tengah dan Yogyakarta, masih berdiri kokoh di Dusun Karanganyar, Desa Klaten, serta di Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan. Rumah-rtumah itu dibangun dengan perekat tanah liat dan kotoran sapi.

Tukiyem menunjukkan dinding rumahnya yang direkatkan dengan tanah liat, kotoran sapi dan bahan lain.

Seperti rumah yang ditinggali oleh Tukiyem (60), warga Dusun Karanganyar, Desa Klaten, Penengahan, Lampung Selatan. Ia mengaku sesuai penuturan almarhum suaminya, Kidal, rumah tersebut tidak boleh diubah bentuknya dan hanya boleh direhab dengan memperbaiki beberapa bagian, di antaranya genteng dan proses pemlesteran dinding.

Menurut Tukiyem, bagian dinding bangunan rumahnya itu dibuat dengan cara manual, mulai dari pembuatan batu bata hingga pemasangan batu bata, dan adonan tanah liat yang hingga kini masih terlihat mengkilat hitam di dinding rumah hingga pondasi.

Menurut Tukiyem, proses pembuatan batu bata dikerjakan oleh sang ayah dengan menggunakan campuran tanah liat, dedak padi atau bekatul, kotoran sapi (telepong) serta pasir halus dari Sungai Way Pisang. Terlihat bentuk konstruksi bangunan yang tidak rata pada bagian adonan perekat pengganti semen tersebut, meski tingkat kekokohan bangunan tak perlu diragukan. Terlebih, bangunan yang dibuat dibentuk dua lapis batu bata pada bagian luar dan batu bata pada bagian dalam. Kekuatan yang ditopang oleh batu bata besar dua lapis dengan perekat dari adonan tanah liat tersebut nyaris belum ada yang retak.

“Bahkan saat ada gempa bumi yang pernah menghancurkan beberapa rumah di wilayah Lampung, rumah ini tetap berdiri,” ungkap Tukiyem, saat ditemui Cendana News di Dusun Karanganyar, Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Minggu (19/3/2017).

Mseksi sederhana, rumah batu bata perekat tanah liat tetap kokoh.

Tukiyem juga mengatakan, proses pengerjaan rumah tersebut dikerjakan secara gotong-royong, karena kala itu belum mengenal sistem upah, dan proses pembuatan rumah membutuhkan waktu sekitar satu bulan, karena harus menunggu kering pada beberapa bagian. Penggunaan adonan tanah liat yang diaduk dengan diinjak-injak dan dicampur dengan bahan lain membuat proses pengeringan membutuhkan waktu lama, menunggu pengeringan untuk menjaga kekokohan dinding.

Tukiyem bukan satu-satunya pemilik rumah dengan arsitektur bergaya khas Jawa di daerah tersebut. Kepala Dusun Karanganyar, Sumadi (35), menyebut ada belasan rumah berukuran besar yang masih mempertahankan bentuk aslinya, meski menggunakan dinding yang dikenal dengan “dinding tanah”, karena sebagian perekat dinding menggunakan tanah. Meski demikian, beberapa rumah yang menggunakan dinding tanah liat sebagian dilapisi dengan semen pada saat pemleseteran, sehingga beberapa rumah sudah tidak terlihat bentuk asli adonan tanah liat.

“Selain penggunaan bahan baku dari tanah liat, sebagian rumah dengan arstitektur serupa rata-rata menggunakan kayu berkualitas jenis kayu Merbau dan Kayu Gandri utuh, yang digunakan untuk kusen dan kaso. Selain awet tidak dimakan rayap, kekuatannya pun mampu bertahan puluhan tahun,” ungkap Sumadi.

Proses pembuatannya kala itu, memang sederhana dan untuk rumah zaman sekarang nyaris sudah tak menggunakannya. Sumadi yang mengaku rumah sang kakek juga terbuat dari tanah liat, mengatakan, pembuatan campuran tanah liat, terkadang abu jerami, pasir halus dan kotoran ternak sapi, umum dilakukan oleh pemilik rumah kala itu.

Lapisan demi lapisan dibuat untuk mempertahankan kekuatan dinding, karena produk semen pabrikan belum ada. Selain dimiliki Tukiyem, beberapa rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan dinding tanah liat juga dimiliki oleh Ahmat (45), Radimin (46), Tarni (60), Suli (56) dan Paini (67).

Sumadi mengungkapkan, beberapa rumah tersebut rencananya dalam waktu dekat akan mendapat program bedah rumah bersamaan dengan 280 rumah yang mendapat jatah program tersebut dari Pemerintah. Meski demikian, beberapa pemilik rumah masih akan mempertahankan konstruksi bangunan dan dinding dengan perekat tanah liat dan batu bata besar, yang umumnya sudah jarang ditemui itu.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar