Sastra adalah Keindahan Tanpa Tepi

0
18

SELASA, 21 MARET 2017

SLAWI — Sastra adalah keindahan tanpa tepi, tanpa batas yang mampu menghipnotis setiap jiwa yang mendengarkan. Begitu kata Moch. Soleh Yusuf, saat pertamakali ditanya tentang sastra. Pria kelahiran 55 tahun silam ini merupakan Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Tegal.

Moch. Soleh Yusuf

Soleh juga mengatakan, sastra itu menyeluruh tentang kehidupan, dengan kemasannya yang sangat indah dan halus, sastra akan bisa hadir di gubug-gubug orang yang kekurangan, di istana megah orang kaya, dan ada pula pada kesabaran orang yang diuji. Karena darinya, akan lahirlah doa, rintihan, harapan, dan itulah hakikatnya sastra. “Sebuah karya yang teramat halus yang lahir dari hati, sehingga saat karya itu dibaca, akan mampu menggetarkan tiang penyangga jiwa pendengarnya,” kata Soleh, penuh semangat.

Soleh mengatakan lagi, sastra tidak saja merupakan sebuah kajian seni. Tapi, banyak dimensinya. Karena perkembangannya, sastra bisa masuk pada dimensi sosial, politik, ekonomi, dan budaya dan agama. Sejak dulu sudah ada karya sastra. Bahkan, karya sastra terindah adalah Al-Qur’an. Bahasa Al-Qur’an sebagian besar adalah bahasa sastra. Tuhan membuat perumpamaan yang sangat indah setiap kali berfirman dalam Al-Qur’an.

Saat sastra memasuki dimensi politik, kata Soleh, lahirlah bahasa pencitraan, yang dalam kajian seni berarti proses membuat indah atau memperindah sesuatu. Bukankah sastra juga merupakan suatu keindahan?

Soleh mengatakan, mantan Bupati Tegal, Agus Riyanto, bahkan seringkali menggunakan sastra untuk merangukul lawan-lawan politiknya. Pementasan puisi olehnya dengan mengundang banyak budayawan nasional, bisa mencairkan suhu panas di pemerintahan yang dipimpinnya.

Keindahan bahasa kampanye, dan janji kampanye pun bagian daripada karya sastra. Begitulah dimensi kesusasteraan yang bisa membuat pencerahan dalam kegiatan politik, sehingga politik tidak terasa panas, mau mati, karena sejatinya politik adalah cara yang dilakukan, sedangkan kekuasaan adalah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan utama, yaitu kesejahteraan rakyat. Dan, sangat indah dan membahagiakan jika melihat rakyat sejahtera.

“Sering kita mendengar lantunan syair Sunan Ampel, ‘lir ilir…lir ilir..penekno blimbing kuwi… lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro…..’. Itu pun menjadi bagian sastra terindah Sang Sunan, yang hingga sekarang belum habis ditafsirkan, meski sudah berabad-abad,” katanya.

Menurut Soleh, sastra juga menjadi bagian penting dan mempunyai peran penting dalam menyebarluaskan budaya dan keyakinan suatu agama. Dalam setiap kali membeli set organ tunggal, maka pasti di situ tertanam instrumen bawaan pabrik ‘marry cristmast’ dan sejenisnya. “Kenapa bukan yang lain? Di sini sastra menjadi sangat halus tak terasa setiap kali kita mendengar hingga berulang kali, maka akan selalu teringat dalam ingatan pendengarnya,” ujar Soleh.
Pria yang kini memanjangkan jenggotnya itu mengatakan lagi, sastra itu sangat fleksibel. Tidak terikat ruang dan waktu, karenanya sebuah karya sastra akan selalu mampu berdiam di mana saja.

Selain sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian, Soleh Yusuf kini juga menjadi Ketua Persatuan Artis Tegal, Forum Komunikasi Media dan Seni Tradisional (FK METRA), Ketua PAPPRI, dan inisiator sekolah anak jalanan. Dan, berikut ini sedikit penggalan puisi karya Soleh Yusuf, berjudul ‘Tuhan Bukan Engkau’.

Maaf, Tuhan …/ Namamu tak terlibat dari awal carita, tapi ada di resume cerita ini/ Karena tak ada celah untuk sisipkan nama-Mu, untuk masuk ke dalam kisah ini/  Karena saat sekarang, bukan Engkau yang tengah diperbincangkan/  Bukan tulisan di kitab-Mu, melainkan syair lagu yang mudah didengar tertanam dalam di kalbu dan jadikan koreksi di kehidupan ini/ Rating trend-Mu masih di urutan yang ke sekian dibanding piranti media sosial dan seisinya/ Investasi dan penawaran kenyamanan baik via SPG langsung atau media on line/

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Komentar