Sastra Mengasah Kepekaan Sosial

202

SELASA, 21 MARET 2017
MATARAM — Belajar sastra, terutama puisi, tidak saja terkait dengan kemampuan mengolah kata-kata menjadi kalimat atau kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Sastra juga bisa menjadikan seseorang memiliki kepekaan sosial tinggi, rasa empati, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan sekitar.

Muhammad Safwan

“Belajar sastra seperti puisi itu banyak manfaatnya, selain menambah wawasan dan pengetahuan, dengan sastra membentuk kepribadian seseorang menjadi lebih lembut, bijaksana, mau berbagi dengan sesama serta mengasah kepekaan sosial,” kata sastrawan dan penulis buku puisi Rembulan di Langit Ampenan, Muhammad Safwan, kepada Cendana News di Mataram, Selasa (21/3/2017).

Melalui sastra juga bisa dijadikan sebagai media melakukan kritikan sosial terhadap berbagai fenomena yang berlangsung di tengah masyarakat, baik terkait fenomena budaya maupun politik.

Diakui Safwan, perkembangan dan kemajuan sastra khususnya puisi saat ini cukup menggembirakan, terutama di NTB yang telah banyak melahirkan sastrawan dan penulis karya sastra puisi usia muda. Dalam bentuk buku maupun yang dimuat media lokal maupun nasional, Dengan tema beragam, mulai dari karya sastra puisi bertemakan cinta sampai kritikan sosial.

“Dukungan media sosial juga memiliki peranan penting di balik perkembangan dan kemajuan  puisi di Indonesia, khususnya  di NTB. Orang yang memiliki karya bisa dengan mudah mempromosikan hasil karyanya melalui media sosial Facebook maupun blogger, termasuk mengakses sumber bacaan referensi,” terangnya.

Dengan ketersediaan sumber bacaan berlimpah dan media promosi yang banyak serta mudah diakses banyak orang, seseorang juga bisa dengan mudah dan leluasa mengekspresikan diri melalui karya sastra yang dihasilkan, termasuk  puisi.

Sambil mengerutkan dahi, pria kelahiran Lingkungan Karang Bata, Kelurahan Abian Tubuh, Kota Mataram 1971 tersebut, mengenang di masa kecil tahun 1985 dan 1986, mendapatkan buku sebagai sumber bacaan dan referensi tidak semudah seperti sekarang. Jangankan promosi, dulu untuk mendapatkan buku bacaan sastra, khususnya tentang puisi sejumlah sastrawan terkenal, dalam dan luar negeri, dirinya harus ke perpustakaan dan itu pun belum tentu ada.

“Sekarang mendapatkan buku sastra maupun karya sastra sekelas sastrawan terkenal di Eropa sekalipun bisa dengan mudah didapatkan. Cukup dengan mesin pencarian googling, dalam beberapa menit sudah bisa didapatkan, termasuk publikasi bisa lewat media sosial secara gratis,” kata Safwan.

Lebih lanjut ia menambahkan, kemajuan dan perkembangan sastra terutama puisi ditunjukkan dengan bermunculan dan terbentuknya beragam komunitas sastra, di setiap daerah termasuk di NTB. Baik di media sosial maupun yang secara langsung seperti komunitas Sabtu Sastra yang setiap hari Sabtu mengadakan kegiatan membaca dan membedah puisi di Taman Budaya NTB.

Bapak dua anak tersebut, kini di sela kesibukannya sebagai tenaga pendidik di yayasannya sendiri masih tetap aktif menulis puisi, baik untuk dipublikasikan melalui media massa, blog pribadi maupun membuat buku. Sejumlah buku telah dilahirkan, beberapa di antaranya, Dari Negeri Seribu Masjid, Sang Matahari, Rembulan di Langit Ampenan dan sejumlah buku lain yang telah tersebar di toko buku dan perpustakaan.

“Selain buku, saya terkadang juga membuat lagu-lagu berbahasa daerah yang mengangkat budaya lokal maupun religi,” tutupnya.

Jurnalis: Turmuzi / Editor: Satmoko / Foto: Turmuzi

Komentar