Satu Lagi Kuliner Santan di Semarang, Nasi Liwet Bu Yono

72

SABTU, 25 MARET 2017

SEMARANG — Jika Mangut Kepala Manyung Bu Fat mempunyai porsi besar, maka untuk mencari kuliner bersantan sekedar untuk pengganjal perut atau sarapan, silahkan datang ke Jalan Menteri Supeno, tepatnya di belakang Kantor Gubernuran.

Nasi Liwet Bu Yono

Di bawah pohon yang asri, Yatmi biasa meladeni konsumen yang datang untuk makan Nasi Liwet Bu Yoto yang sudah berjualan selama 50 tahun. Yatmi adalah anak dari Bu Yoto. Awalnya, Ibu Yoto berjualan di kawasan Simpang Lima pada 1960, tetapi sejak 2006 memutuskan pindah ke kawasan Gubernuran.

Bahan-bahan untuk membuat nasi liwet sama seperti biasanya. Beras, daun Salam, dan garam dikukus, sementara sayur jipang, bawang merah, bawang putih, salam lengkuas, cabe merah, cabai rawit, garam, gula merah dan santan. Sedangkan untuk opor ayam, bumbunya adalah santan, daun jeruk, serai, lengkuas, gula merah dan garam. “Yang membuat berbeda dengan warung nasi liwet lainnya adalah tangan yang mengolah dan takaran bumbunya,” jelas Yatmi.

Menurut Yatmi, bumbu-bumbu yang dipakai untuk membuat Nasi Liwet Bu Yoto takarannya lebih banyak, sehingga aromanya lebih terasa. Berbeda dengan Mangut Kepala Manyung Bu Fat yang menggunakan santan sebagai penguat rasa pedas, pada Nasi Liwet Bu Yoto ini santan digunakan sebagai penyeimbang pedas, karena rasa tersebut sudah diwakili oleh sayur jipang dan rambak.

Menantu Bu Yoto, Handono, yang juga dipasrahi untuk mengelola warung, menambahkan, santan dijadikan sebagai bahan opor agar rasanya juga asin. Biasanya, santan tersebut dituang di atas suwiran ayam, sehingga rasanya sangat gurih. Konsumen pun bisa memilih sendiri keasinan santan untuk di makan, karena di warung tersebut menyajikan dua macam jenis santan murni, yaitu santan encer dan kental. “Bagi yang ingin pedas asin, bisa memilih santan kental, tapi jika ingin pedasnya mendominasi pakainya santan encer,” tukasnya.

Suasana asri juga menjadi daya tarik tersendiri. Pohon rindang yang digunakan sebagai peneduh juga sering membuat konsumen setelah makan tidak langsung beranjak pergi. Mereka akan berbincang-bincang sejenak sambil melepaskan lelah. Selain itu, porsi nasi liwet juga dibuat sedikit sehingga setelah makan, pengunjung bisa melakukan aktivitasnya kembali. Karena itu Nasi Liwet Bu Yoto paling cocok dimakan pagi hari, sebelum bekerja. Untuk menambah variasi menu utama juga disediakan lauk tambahan, yaitu tahu, tempe bacem dan sate ampela dan hati.

Yatmi sedang meladeni pelanggan

Handono mengaku, dalam sehari dibutuhkan beras sebanyak 15 kilogram untuk membuat 250-300 piring nasi liwet yang dihargai Rp 10.000 per porsi. Keluarga Bu Yoto mulai memasak bumbu pada sore hari setelah berjualan, sementara untuk nasi liwet mulai dikukus jam 03.00 WIB, dini hari.

Penjualan akan semakin meningkat ketika hari Minggu, saat acara Car Free Day dilaksanakan di Jalan Pahlawan, karena lokasi berjualan persis dengan lokasi parkir kendaraan. Karena ramainya, seringkali pembeli makan sambil berdiri karena kehabisan tempat duduk. “Pak Ganjar (Gubernur Jateng) kalau santai sering makan di sini, juga Anie Avantie (desainer nasional asal Semarang), jika pulang kampung pasti ke sini,” jelasnya.

Karena suwiran ayamnya yang gurih, tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga sering mengajak orangtuanya untuk makan di sini. Dirinya mempunyai seorang pelanggan anak kecil yang setiap hari makan di sini, padahal sebelumnya anak tersebut hanya mau makan mie. Tetapi, suatu hari dia mengikuti kakaknya untuk makan di Warung Nasi Liwet Bu Yoto. Karena melihat kakaknya makan dengan lahap, anak kecil tersebut kemudian tertarik untuk mencicipi dan akhirnya ketagihan. Warung Nasi liwet Bu Yoto buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB dan tutup jika dagangannya mulai habis.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar