Seniman Kalimantan Selatan Menggugat Pemerintah Daerah

55

KAMIS, 23 MARET 2017

BANJARMASIN — Para seniman asli Kalimanntan Selatan menuntut Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan beserta 13 pemerintah kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan untuk memperhatikan nasib pekerja seni lukis. Ketua Sanggar Seni Solikin di Taman Budaya Kalsel, Fathurahmy, mengatakan pemerintah daerah masih setengah hati mendukung aktivitas para seniman lukis se-Kalimantan Selatan.

Seniman Kalsel membacakan tuntutan.

“Seniman sangat prihatin karena enggak ada tempat yang representatif menampilkan karya-karya seni rupa. Seharunya ada satu tempat khusus yang representatif dan penikmat seni bisa mengunjungi setiap hari,” kata Fathurahmy saat menyampaikan pernyataan sikap di Rumah Anno 1925, Kamis (23/3/2017). Untuk memajang aneka seni lukis, menurut dia, para seniman masih menumpang tempat di sanggar Solikin yang kondisinya tidak layak sebagai arena pamer. 

Selain itu, ia mendesak pemerintah daerah membuat regulasi bidang kebudayaan untuk penguatan tata kelola seni, budaya, dan pariwisata. Seniman juga meminta pemerintah daerah mendirikan sekolah menengah kejuruan seni rupa dan sekolah tinggi seni Indonesia.

“Pemprov, pemkab, dan pemkot perlu membeli atau mengoleksi lukisan old master karya perupa Banua (Kalimantan Selatan) sebagai hiasan dinding di rumah dinas, rumah pribadi, dan di kantor,” ujar Fathurahmy sambil menambahkan pengusaha hotel dan pelaku bisnis lain mesti melakukan aksi serupa.

Seorang perupa bernama Aswin Noor menambahkan pemerintah Kalimantan Selatan agar menyematkan panggung terbuka di UPTD Taman Budaya dengan nama Panggung Terbuka Bakhtiar Sanderta.

“Merekomendasikan Pemkab Tanah Laut sebagai pelaksana pameran seni rupa Kalimantan Selatan tahun 2018,” Aswin Noor berujar.

Tahun 2017, pameran seni rupa Kalimantan Selatan dipusatkan di Rumah Anno 1925. Pameran lukis sekaligus dalam rangkaian Banjarmasin Sasirangan Festival 2017. Sedikitnya ada 30 perupa se-Kalimantan Selatan yang menampilkan 40 karya lukis di Rumah Anno 1925. Menurut Fathurahmy, karya seni yang tampil punya harga jual bervariasi, mulai ratusan ribu sampai puluhan juta.

“Seniman Kalsel paling banyak aliran realis. Pameran tahun lalu ada yang laku sampai Rp4 juta,” ujar dia. Adapun sejak pameran lukis resmi dibuka pada 17-23 Maret 2017, Aswin sedikit bercanda mengatakan, “Yang melihat banyak, tapi Alhamdullilah belum ada yang beli.”

seorang pengunjung melihat seni lukis karya Abdillah Mubarak yang berjudul: “Ya Rasulullah”.

Jurnalis:Diananta P Sumedi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P Sumedi

Komentar