Seribu Doa dari Tegal untuk Ibu Patmi

90

KAMIS, 30 MARET 2017

TEGAL — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tegal menggelar aksi solidaritas atas meninggalnya Bu Patmi yang berjuang melawan ketidakadilan di Kendeng, Rabu malam (29/3/2017). Aksi yang digelar di halaman balaikota lama Kota Tegal berbagai acara, antara lain mengaji bersama, tanda tangan petisi, aksi menyalakan seribu lilin serta seribu doa dari Tegal untuk Ibu Patmi.

Mulyo (bertopi) memerankan petani Kendeng.

Gugurnya pejuang dari tanah Kendeng tersebut sangat menyita perhatian dari berbagai daerah. Mulyo, selaku koordinator aksi, mengatakan, bahwa berdasarkan kajian mendalam, pembangunan pabrik semen telah melanggar berbagai aturan perundangan, dibuktikan dengan tiga kali petani Kendeng memenangkan dalam pengadilan PTUN Jawa Tengah.

Aksi yang digelar sangat khidmat. Lirih suara orang mengaji yang diperuntukkan khusus untuk Ibu Patmi cukup menggetarkan hati setiap orang yang hadir. Tak hanya itu, aksi teatrikal penindasan rezim penguasa terhadap petani Kendeng pun menambah ironisnya penegakan hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Tanda tangan petisi pun dibubuhkan oleh massa aksi sebagai bukti bahwa aktivis Tegal mendukung perjuangan petani Kendeng.

Tanda tangan petisi dukungan untuk petani Kendeng.

Acara aksi solidaritas ini ditutup dengan menyalakan ratusan lilin dan seribu doa yang menambah rasa haru atas perjuangan petani Kendeng mempertahankan hak. Mulyo juga mengatakan, ada ribuan doa dari Tegal untuk petani Kendeng, semoga semangat aksi solidaritas, keprihatinan, dan kepedulian yang digelar akan turut menyebar ke berbagai ormas, organisasi kepemudaan lainnya, untuk turut serta melakukan aksi serupa sebagai bukti dukungan terhadap perjuangan petani tanah Kendeng.

“Kami mendukung perjuangan petani Kendeng untuk melawan pabrik semen. Semoga kepergian Bu Patmi akan terus teringat dan harum sehingga menjadi penyemangat yang akan memperluas aksi solidaritas kita menyelamatkan pegunungan Kendeng atas sikap ketidakadilan pemerintah yang hanya menonton melihat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Kendeng,” kata Sudarmono, Ketua HMI yang studi di Universitas Pancasakti (UPS) Tegal.

Sudarmono (kaos merah berjaket).

Sudarmono juga menambahkan, bahwa selama ini pemerintah tidak konsisten melaksanakan amanat UU. Karena sudah jelas, bahwa pembangunan pabrik semen sesuai kajian Amdal sangat merusak lingkungan, tapi kenapa hendak diteruskan?

“Bukankah selama ini pemerintah mengkampanyekan pula untuk tidak merusak lingkungan?” pungkas Sudarmono.

Jurnalis: Adi Purwanto / Editor: Satmoko / Foto: Adi Purwanto

Komentar