Setiyo Bardono, Si Penyair Kereta Listrik

44

RABU, 22 MARET 2017

DEPOK — Setiyo Bardono, terkenal dengan puisi-puisinya yang berbau perjalanan Kereta Listrik. Pria pengguna jasa angkutan KRL ini telah menghasilkan ratusan puisi tentang KRL, yang diterbitkannya ke dalam tiga antologi.

Setiyo Bardono

Saat ditemui di tengah perjalanan di atas gerbong kereta listirk jurusan Depok-Gondangdia, Tiyo, sapaan akrabnya, mengaku sulit untuk menjelaskan kenapa ia menyukai puisi. “Mungkin seperti jatuh cinta yang sulit jika harus menerangkan karena apa?,” ujarnya.

Pria kelahiran 15 Oktober 1975, ini mengatakan ada beberapa sastrawan yang puisinya memberi kesan mendalam, hingga menggerakannya untuk mencoba menulis puisi seperti Chairil Anwar, Sutardji hingga Joko Pinurbo. “Kalau sastrawan luar belum ada, soalnya puisinya pakai bahasa asing,” katanya.

Ayah satu anak ini mengaku menulis puisi sejak SMA untuk dipasang di majalah dinding atau untuk membahagiakan pacar. Sudah ada ratusan puisi mengenai KRL yang sudah terangkum dalam tiga antologi puisinya, di antaranya ‘Mengering Basah’, ‘Mimpi Kereta di Pucuk Cemara’ dan ‘Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta’.

Setiyo yang mengaku “nyaris” terkenal di kancah perkereta-listrikan Jabodetabek ini mempelajari puisi dari buku-buku dan kadang juga menciptakan polanya tersendiri. Ia pun tidak hanya menulis puisi, namun juga novel dan cerpen. Novel karya Setiyo di antaranya berjudul ‘Koin Cinta’, dan ‘Separuh Kaku’. Pria asli Purworejo, Jawa Tengah, ini juga menulis karya-karya non fiksi. “Saya juga menulis non fiksi dengan beberapa rekan yang tergabung dalam masyarakat penulis Iptek/Mapiptek,” katanya.

Setiyo yang mengaku selalu menulis puisi ketika melihat peristiwa yang berkesan, itu berharap, agar sastra bisa terus berkembang dan menyuarakan kondisi masyarakat.

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho

Komentar