Setu Jatijajar, Wisata Air dan Spiritual di Pinggir Jalan Raya Bogor

58

SABTU, 25 MARET 2017

DEPOK — Di tengah hiruk-pikuk Jalan Raya Bogor, Jakarta, terdapat satu keindahan alam yang bisa membawa kita lebih mengenal kekuasaan Sang Pencipta. Namanya Setu Jatijajar, sebuah telaga alami yang berada di Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat. Luas Setu ini berkisar lima hingga enam hektare.

Wisata Perahu Setu Jatijajar

Salah seorang petugas Setu Jatijar, Iwan, mengatakan,  ada dua obyek wisata di Setu tersebut. Pertama, Wisata Perahu Bebek, dan kedua adalah Wisata Spiritual Petilasan Panji Wanayasa yang berada di belakang mushala, yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para wali, ketika menyebarkan agama Islam di Depok.

Bermain perahu bebek, pengunjung cukup membayar uang sewa perahu bebek sebesar lima belas ribu rupiah untuk lima belas menit. Seorang pengelola wisata perahu bebek, Lulu, mengatakan, saat ini tengah ada upaya dari Pemerintah Kota Depok untuk mengembalikan fungsi Setu yang sebenarnya.

Menurut Lulu, objek  wisata ini buka setiap hari dari pukul delapan pagi hingga enam sore.  Kendati tak bisa memasikan jumlah pengunjung setiap harinnya, Lulu mengatakan, jika di tempat tersebut juga sering dimanfaatkan warga untuk memancing ikan.

Sementara itu, objek wisata kedua, yaitu petilasan Panji Wanayasa. Dua orang peziarah, Anton dari Pati, Jawa Tengah, dan Jakaria dari Sumba, Nusa Tenggara Barat, membenarkan jika di belakang mushala terdapat petilasan tempat bertemunya para wali. Hingga kini, petilasan Pangeran Panji Wanayasa itu sering dikunjungi peziarah. Sedangkan, Jakaria, mengaku sudah dua bulan tinggal di mushala itu. “Saya berkelana, Mas. Di tempat ini saya temukan ketenangan,” ujar Jakaria.

Kika: Jakaria, Annton dan Iwan di petilasan Panji Wanayasa

Bangunan mushala yang terletak di lingkungan petilasan, berukuran sekitar 5 x 6 meter persegi, dengan teras kurang lebih 3 x 6 meter persegi. Memasuki kaawasan petilasan Pangeran Panji Wanayasa ini memang terasa ada satu keteduhan. Hiruk-pikuk Jalan Raya Bogor seperti tereduksi dengan keteduhan petilasan Panji Wanayasa.

Menurut Anton, saat ini ada upaya dari warga setempat dan peziarah, untuk membangun satu pendopo di samping mushala. Namun, pembangunan ini belum bisa dilanjutkan, karena hanya swadaya. Pembangunan pendopo dimaksudkan untuk tempat berdiskusi, karena selama ini sebagian peziarah berdiskusi di teras mushola. Hal ini dianggap bisa mengganggu kekhusukan peziarah lain yang sedang berziarah.

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho

Komentar