Sistem Penggaduhan Ternak Kambing Bantu Ekonomi Warga Desa Tanjungsari

136

SELASA, 28 MARET 2017

LAMPUNG — Warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan masih menggunakan sistem penggaduhan untuk memelihara ternak kambing terutama jenis kambing rambon, kambing kacang, kambing crossboer, kambing etawa, kambing PE serta beberapa jenis kambing lain.

Srianto, Petani peternak kambing di Desa Tanjungsari dengan sistem penggaduhan.

Salah satu peternak kambing di Desa Tanjungsari,Srianto (41) mengungkapkan usaha ternak kambing yang ditekuninya dimulai sejak 2000 dengan memelihara kambing jenis kacang dan rambon. Kambing yang dibeli dari petani lain rata rata dihargai Rp700 ribu, sementara kambing rambon Rp1juta  dipelihara dengan sistem pembuatan kandang tanpa diliarkan.

Srianto mengungkapkan tekhnik pemeliharaan ternak kambing yang baik tersebut membuat ia dan beberapa petani mendapat bantuan kelompok usaha bersama (Kube) Bina Karya IV yang berupa uang tunai selanjutnya dibelikan sebanyak 10 ekor kambing jenis rambon. Sistem bantuan bergulir dengan sistem penggaduhan tersebut ungkap Srianto dilakukan oleh sebanyak 10 orang yang memelihara kambing dengan jumlah dua hingga tiga ekor.

“Semula kami hanya memelihara sebanyak dua ekor lalu mendapat bantuan kambing dari kelompok usaha bersama setelah jangka sepuluh bulan hingga satu tahun sudah mendapatkan anak yang selanjutnya bibit dipisahkan dengan induk agar bisa dikembangkan lagi,” ungkap Srianto saat ditemui Cendana News di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas,Selasa (28/3/2017)

Sistem penggaduhan atau bagi hasil tersebut diungkapkannya dilakukan dengan dua cara dari mulai bibit kambing muda saat beranak akan menjadi hak bagi pemelihara baik dua atau tiga ekor sementara kambing dalam kondisi sudah dewasa saat beranak akan dibagi dua untuk kelompok dan untuk pemelihara.

Sistem tersebut diakuinya telah mengembangkan ternak kambing dari semula berjumlah 20 ekor menjadi sebanyak 30 ekor dan digulirkan ke petani lain yang bersedia memeliharanya.

Sistem pemeliharaan dengan penggaduhan tersebut diakui Srianto sudah cukup umum bagi pemilik ternak kambing di wilayah tersebut terutama bagi para pemilik modal yang membeli kambing dan menggaduhkan kepada petani yang bersedia memeliharanya. Saat ini Srianto menyebut dari sebanyak 10 ekor, sebagian merupakan hasil proses penggaduhan.

Kemudahan dalam bidang peternakan saat ini diakui oleh Srianto makin dimudahkan dengan adanya petugas inseminasi buatan (IB) atau mantri hewan yang bisa dipanggil sewaktu waktu untuk proses kawin suntik. Saat ini ia mengaku dengan indukan yang pas peternak bisa memilih untuk kawin suntik dengan benih jenis kambing lain.

”Di wilayah kami rata rata petani pemilik ternak mulai menerapkan sistem kawin suntik dan banyak diminati jenis kambing jenis etawa”ungkap Srianto.

Sementara itu petani peternak kambing lainnya di Dusun Banyumas di desa yang sama, Winarso (30) mengeluhkan harga ternak kambing di tingkat petani yang sangat rendah dan belum bisa memberi keuntungan bagi petani meski jumlah ternak banyak. Ia menyebut saat ini harga ternak kambing termasuk cukup rendah sepanjang dirinya memiliki usaha ternak kambing.

Khusus ternak kambing jantan besar hanya dihargai Rp1juta dengan bobot sekitar 150 kilogram padahal sebelumnya pernah mencapai Rp3juta untuk kambing jantan dengan ukuran yang sama. Harga bahkan belum akan menunjukkan kenaikan meski mendekati hari raya dan kenaikan diprediksi hanya akan mencapai Rp1,2 juta atau kenaikan 20 persen.

“Normalnya harga yang pas dan menguntungkan petani peternak seharusnya seharga tiga juta rupiah sebanding dengan biaya pemeliharaan selama satu tahun,” ungkap Winarso.

Rata rata petani peternak di wilayah tersebut ungkap Winarso menjual ternak kambingnya akibat kebutuhan ekonomi sehingga harga yang dijual belum sesuai. Ia bahkan menyebut pernah menjual kambing sebanyak 4 ekor dengan harga Rp3,8 juta sehingga dirata rata hanya Rp900 ribu.

Ia berharap ada perhatian dengan melakukan adanya penyamaan harga atau membuat batas bawah harga kambing dan membuat pasar khusus ternak sehingga petani peternak juga bisa mendapatkan keuntungan dan bisa lebih sejahtera.

Selama ia mengaku selama ini banyak petani yang menjual ternak kambingnya kepada para belantik atau tengkulak dengan harga yang cukup rendah dan kurang menguntungkan bagi petani peternak.

Jurnalis: Henk Widi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Komentar