Suka Duka Kader TB ‘Aisyiyah di Pedalaman Kabupaten Lampung Selatan

43

JUMAT, 24 MARET 2017

LAMPUNG — Upaya pemberantasan penyakit Tuberculosis (TB) dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan organisasi organisasi tertentu yang peduli kepada penderita dan penanganganan penyakit TB. Salah satu peran tersebut dilakukan oleh kader TB ‘Aisyiyah Lampung Selatan yang berada di bawah Community TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Lampung Selatan. 

Siti Zubaedah kader TB ‘Aisyiyah yang bertugas mendata warga di Kecamatan Sragi Lampung Selatan dalam program ketuk 17.000 pintu

Sebagai organisasi komponen persyarikatan Muhammadiyah yang ikut berkiprah dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan tersebut juga diikuti oleh wanita wanita di Kecamatan Sragi sebagai kader TB ‘Aisyiyah.

Salah kader tersebut diantaranya Siti Zubaedah (37), seorang ibu rumah tangga (IRT) di Desa Sumber Agung Kecamatan Sragi yang sudah menjadi kader TB ‘Aisyiyah sejak bulan Maret tahun 2014. Sebagai seorang kader ia juga bertugas bersama kader lain di Kecamatan Sragi di antaranya Epon (37), Neng Aryani (38), Rasiyem (40) yang aktif di pedalaman Kecamatan Sragi. Beberapa kader memiliki tugas yang berbeda meski tetap memiliki tujuan sama dalam hal pencegahan, penanggulangan, penanganan penyakit TB di Lampung Selatan.

Ia mengaku ikut menjadi kader sejak tahun 2014 dimulai dengan proses perekrutan, pelatihan tata cara pendampingan pasien TB, suspek TB serta cara kerja kader. Tugas lain di antaranya mencari suspek TB, menghantar suspek TB untuk melakukan pemeriksaan dan apabila dinyatakan positif oleh petugas medis maka wajib melakukan pengawasan pengobatan selama enam bulan. Selain itu memberi semangat kepada para pasien TB yang positif dengan berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi di lapangan.

Siti Zubaedah memasang stiker TOSS TB

“Saya memposisikan diri saya seperti seorang petugas kesehatan meski saya tak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan dan hanya berbekal keikhlasan sebagai wanita ‘Aisyiyah yang memperjuangkan kesehatan di masyarakat,”ungkap Siti Zubaedah kepada Cendana News, Jumat (23/3/2017).

Mengemban tugas perjuangan sebagai kader TB ‘Aisyiyah, ia mengaku tugas itu menjadi amanah baginya, meski dalam melaksanakan tugas ia kerap mendapat penolakan dari warga yang terindikasi suspek TB dengan karakteristik orang yang beragam. Ia bahkan menyebut terkadang ada yang diajak berobat namun justru menolak bahkan mengusirnya.

Namun meski mengalami berbagai hambatan ia mengaku senang bisa berkumpul dan bertemu dengan orang-orang baru dan mendapat keluarga baru di ‘Aisyiyah. Ia juga mengaku selama menjalankan tugas sebagai kader TB tidak mendapat insentif dari Dinas Kesehatan namun hanya mendapat insentif yang cukup untuk keperluan operasional dari ‘Aisyiyah.

Khusus untuk program ketuk 17.000 pintu, Siti Zubaedah mengungkapkan sesuai tugas bahwa dirinya sebagai kader mengetuk sebanyak 40 rumah, maka untuk wilayah Kecamatan Sragu dengan dua kader berhasil mengetuk 80 pintu/rumah. Selain mengetuk, para kader juga menempelkan stiker di pintu rumah sebagai bukti bahwa rumah tersebut telah didata dan didatagi kader TB  ‘Aisyiyah selain itu memberikan brosur brosur informasi tentang pencegahan dan penanganan penyakit TB. Sementara kader TB’Aisyiyah lainnya diakui oleh Siti Zubaedah ditugaskan melakukan penyuluhan di beberapa lembaga pendidikan, lembaga pemasyarakatan dan pesantren.

Sebagai kader TB ‘Aisyiyah ia mengaku diwajibkan menjadi kader yang handal dalam melakukan penyuluhan TB, menemukan orang yang terduga TB, membawa terduga TB ke Puskesmas, memantau pengobatan sesuai saran petugas kesehatan, melakukan pendampingan dan pembinaan pengawas menelan obat (PMO) hingga tahap pencatatan dan pelaporan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah Kecamatan Sragi dan Lampung Selatan pada umumnya.

“Selama beberapa hari kami telah melakukan tugas kami untuk ketuk 40 pintu dengan harapan program ketuk 17.000 bisa berjalan dengan baik dan selesai program tersebut bertepatan dengan Hari TB sedunia,”terang Ibu rumah tangga yang memiliki satu anak laki laki yang duduk di bangku TK dan suami bekerja sebagai pembuat mebel ini.

Pendataan

Ia mengaku bertugas sebagai TB-HIV Care dan sebagai wanita Aisyiyah dirinya mengaku bahagia bisa terlibat langsung menjadi kader kesehatan yang bergerak dalam pemberantasan HIV-TB. Khusus di Hari TB Internasional yang diperingati setiap tanggal 24 Maret tersebut ia bahkan selalu mengingatkan masyarakat untuk mengingat salam “TOSS’  yaitu “Temukan-Obati-Sampai Sembuh”. Ia bahkan merasa bahagia jika tugas yang diembannya tersebut berjalan dengan baik salah satunya ikut mensukseskan program ketuk 17.000 pintu dan berhasil diselesaikan olehnya dari Minggu (19/3) hingga Kamis sore (23/3) dan data sebanyak 80 pintu yang telah diketuk, diberi stiker, didata dengan form A yang diberikan telah dikumpulkannya ke kordinator kabupaten.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Istimewa

Komentar