Tabur Puja Bantu IRT Buka Usaha Ternak Itik

67

JUMAT, 24 MARET 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Ada yang bilang, pinjaman hanya dapat diberikan kepada orang yang sudah memiliki usaha saja. Apa betul? Ternyata tidak, contohnya di Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Seorang ibu rumah tangga (IRT) bisa mendapatkan kucuran dana pinjaman untuk beternak itik petelur dan membuka warung makanan.

Isdalena di sekretariat Posdaya Jihad.

Isdalena (39), seorang ibu rumah tangga dengan satu anak, tidak memiliki kegiatan lain selain merawat anak pertama. Hari demi hari, selain merawat buah hati juga menyiapkan keperluan suami yang bekerja sebagai sopir.

Meski memiliki niat untuk berusaha, namun karena keterbatasan biaya dan modal, membuatnya mengurungkan niat, hingga Posdaya Jihad masuk dan berdiri di wilayah tersebut. Saat menemui Darmalis (50), admin Posdaya, ia mengutarakan niat untuk memulai usaha di bidang peternakan itik.

Gayung pun bersambut, melihat keseriusan Isdalena, Darmalis menyetujui permohonan pinjaman di Tabur Puja Posdaya Jihad yang berada di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri.

“Tahun pertama Isdalena mendapatkan pinjaman sebesar Rp2 juta,” sebut Darmalis kepada Tim Cendana News yang mengunjungi Posdaya Jihad.

Sesuai niat, dana tersebut digunakan untuk membeli itik petelur sebanyak 15 ekor. Dari hasil penjualan digunakan untuk mengangsur pinjaman dan belanja harian.

“Jumlah telur setiap pagi tidak menentu, namun rata-rata 8 butir per pagi. Jika dikali Rp2 ribu sudah dapat Rp16 ribu per hari. Cukuplah untuk bayar angsuran dan sisanya buat jajan anak,” sebut Isdalena sambil tersenyum.

Melihat tanggung jawab yang baik dalam mengembalikan pinjaman, Posdaya Jihad kembali memberikan pinjaman tahap kedua Rp2 juta. Dana tersebut digunakan untuk membuka warung yang menjual nasi goreng, mie rebus hingga teh taluah (minuman khas Minang).

Sejak membuka warung, perekonomian Isdalena semakin meningkat, lambat-laun usahanya membuahkan hasil dan dapat membantu perekonomian keluarga. Sebelumnya, ia harus menunggu uang dari suami dulu baru berbelanja ke pasar.

“Kini, kalau ka kadai ndak harus manunggu apak anak pulang dari karajo, karanolah ado stok pitih hasil manggaleh,” katanya dalam dialek Minang yang artinya: saat ini kalau untuk berbelanja sudah bisa menggunakan hasil berjualan dari warung.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar