Tabur Puja Berantas Rentenir di X Koto Diateh Solok

25

SELASA, 21 MARET 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sebelum hadirnya Program Tabur Puja (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera) di daerah Tanjung Balik, X (sepuluh) Koto Diateh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, warga setempat sangat akrab dengan lintah darat atau rentenir.

Cendana News sedang berdialog dengan pengurus Posdaya Tanjung Balik X Koto Diateh.

Hampir setiap hari, ada saja masyarakat yang menggantungkan harapan dari uang pinjaman tersebut. Sejumlah alasan menjadi pilihan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang kecil, petani, dan pelaku usaha. Proses pencairan yang cepat menjadi salah satu alasan warga untuk meminjam.

“Pinjamannya cepat cair, dalam hitungan hari bahkan jam dapat cair,” sebut Ketua Posdaya Tanjung Balik, X Koto Diateh, Yen Nova Wirza (42), saat dikunjungi Tim Cendana News, Selasa (21/3/2017).

Selain itu, kurangnya pemahaman dan terdesak keadaan diduga menjadi penyebab. Wilayah yang sangat jauh dari pusat pemerintahan, lebih kurang 30 kilometer atau dua jam perjalanan dari pusat pemerintahan yang berada di Arosuka juga menjadi alasan lain masyarakat menjadi memilih rentenir.

Namun, bukannya memberi untung, pinjaman pada rentenir hanya memberikan “kelapangan” sesaat. Karena beberapa hari berikutnya, rentenir mendatangi rumah atau tempat berjualan peminjam untuk segera mengembalikan pinjaman dengan bunga yang tinggi.

“Bahkan hampir tiap hari didatangi hingga utang dianggap lunas,”sebut Nova menceritakan sekelumit kisah yang terjadi beberapa tahun lalu di daerah tersebut yang juga diamini Radiatul Haida, admin, dan Beddy Nilfa Fitri, kasir Tabur Puja.

Namun, pada Mei 2014, Tabur Puja mulai masuk ke pelosok nagari tersebut. Hadir dengan sistem pencairan yang mudah dan tanpa agunan, bagaikan magnet yang menarik hati masyarakat kecil, pedagang, petani hingga pelaku industri rumahan.

“Kami mulai mengarahkan masyarakat untuk memanfaatkan Tabur Puja. Melihat sistem yang mudah dan tidak memberatkan, masyarakat mulai beralih dan meninggalkan rentenir,” jelasnya.

Di awal hadirnya, dua kelompok yang terdiri dari beberapa orang menjadi yang pertama menggunakan layanan tersebut. Setelah merasakan langsung, masyarakat mulai beralih ke Tabur Puja dan meninggalkan metode peminjaman kepada rentenir.

“Yang sudah masuk ke Tabur Puja sudah tidak lagi melakukan pinjaman ke rentenir, karena terlampau banyak bunganya hingga beberapa kali lipat,” sebut Nova.

Informasi dari mulut ke mulut menjadikan Tabur Puja populer di masyarakat. Dalam tiga tahun belakangan, yang awalnya hanya dua kelompok, meningkat tajam menjadi 17 kelompok.

“Saat ini tercatat 389 orang anggota yang tergabung dalam 17 kelompok,” katanya.

Bahkan dengan banyaknya anggota, perputaran uang Tabur Puja sudah mendekati angka Rp1 miliar dalam jangka waktu tiga tahun terakhir. Hal positif lainnya dengan hadirnya Tabur Puja di daerah tersebut, rentenir yang bagaikan jamur di musim hujan perlahan tapi pasti mulai tersingkir.

Yen Nova Wirza [kiri], Radiatul Haida [tengah] dan Beddy Nilfa Fitri [kanan].

“Dulu sangat banyak di sini, namun sejak ada Tabur Puja, masyarakat lebih memilih Tabur Puja,” tutupnya.

Jurnalis: Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa

Komentar