Tanah Bergerak Kembali Terjadi di Ponorogo

154

JUMAT, 17 MARET 2017

PONOROGO — Tanah bergerak kembali terjadi di Ponorogo tepatnya di tanah milik Perhutani di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, pada Jumat (17/3/2017). 

Bencana tanah gerak di lereng gunung

Kejadian tersbut  membuat masyarakat sekitar khawatir. Ketinggian lereng yang mencapai 800 meter sudah retak selebar satu meter dan panjang 150 meter dan mengancam delapan Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung karena tepat berada dibawah lereng.

Anggota Polres Ponorogo, Bripka Aan Indra saat mendatangi lokasi menjelaskan, kejadian ini sudah berlangsung sejak Februari lalu. Terakhir, akibat hujan dengan intensitas sedang pada Kamis (16/3/2017), bencana tanah gerak terjadi lagi dan kini semakin lebar.

“Kami bersama dengan Bhabinkamtibmas Desa Banaran, Polsek Pulung, Polres Ponorogo, dan Kanit Intelkam, Aiptu Sudjatno, Ba Intelkam, Brigadir Andhika Aan Yuniar mendatangi lokasi guna mengetahui kondisi tanah gerak ini secara langsung,” jelasnya kepada Cendana News.

Perangkat Desa Banaran, Sugianto menambahkan delapan KK yang lokasinya tepat berada di bawah lereng, saat ini tengah mendapatkan sosialisasi dan imbauan saat hujan deras harus segera mengungsi ke rumah saudara ataupun tetangga lain yang dianggap lebih aman.

“Kami sudah mengimbau warga untuk segera mengungsi saat hujan deras,” ujarnya.

Salah satu warga Dukuh Tangkil, Giono (44 tahun) mengaku khawatir dengan keselamatan dirinya dan keluarganya. Pasalnya, dalam kurun waktu tiga hari, tanah ambles di sekitar rumahnya sudah mencapai 40 cm.

“Apalagi saat malam hari dan hujan deras, saya khawatir tanah di lereng gunung, longsor dan menimpa rumah kami,” cakapnya.

Tanaman milik Perhutani

Menurutnya, bencana tanah gerak ini sudah terjadi sejak tiga tahun lalu namun dulu masih dalam skala kecil. Akhir-akhir ini menjadi melebar dan mengkhawatirkan. Jika terjadi bencana tanah gerak, dari rumah warga yang berada di bawah lereng terdengar suara gemuruh.

“Kalau sudah ada bunyi gemuruh, kami langsung mengungsi ke rumah warga lain yang lebih aman,” pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Istimewa

Komentar