Telaga Ranjeng di Balik Hutan Cagar Alam di Brebes

73

MINGGU, 26 MARET 2017

BREBES — Telaga Ranjeng, merupakan salah satu telaga yang masuk dalam cagar alam Perhutani. Telaga yang luasnya puluhan hektare ini berada di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lokasinya dikelilingi hutan Pinus di area kaki Gunung Slamet, sehingga udara di sekitarnya sejuk dan dingin.

Telaga Ranjeng

Penjaga hutan di kawasan Telaga Ranjeng, Jamal, mengatakan, Telaga Ranjeng termasuk dalam kawasan hutan konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah. Luasnya 48,5 hektare. Sejak 11 tahun lalu, Jamal yang juga merupakan anak juru kunci Telaga Ranjeng bertanggungjawab terhadap segala satwa, hutan dan lain sebagainya di area tersebut.

Menurut Jamal, Telaga Ranjeng ini tidak masuk dalam kawasan wisata umum. Melainkan kawasan cagar alam yang langsung di bawah pengawasan BKSDA Jawa Tengah, sehingga pengunjung yang ingin menyaksikan ikan-ikan penghuni Telaga Ranjeng dan memberinya makan hanya dibolehkan sampai batas pagar. “Dulu, telaga ini sepi pengunjung. Tapi, dengan dibukanya Wisata Kebun Teh Kaligua, banyak pengunjung yang mampir untuk menyaksikan ikan-ikan mitos di telaga tersebut,” katanya.

Jamal

Telaga Ranjeng memang sejak dulu menyimpan banyak kisah mistik yang hingga kini masih dipercaya turun temurun oleh masyarakat sekitar. Salah seorang pedagang di sekitar telaga, Sabar (50), mengatakan jika Telaga Ranjeng ini dihuni oleh ribuan ikan lele yang menjaga telaga. Ribuan ikan lele yang menghuni telaga ini tidak boleh satupun diambil karena dipercaya akan mendatangkan bala. Konon, kata Sabar, pernah ada orang yang mengambil ikan lele itu dan sesampainya di rumah, orang itu sakit-sakitan dan bermimpi jika ikan lele tersebut minta dikembalikan ke telaga. Ada juga orang yang mengambil air dari telaga untuk syarat mengobati berbagai penyakit.

Setiap pengunjung yang datang, biasanya akan melemparkan roti untuk makan ikan-ikan lele yang yang ada di telaga. Dikatakan Sabar, pernah ada kejadian aneh, kira-kira satu bulan sebelum tragedi tsunami Aceh pada 2004, silam. Semua ikan lele penjaga telaga menghilang. Itu terlihat dari banyaknya minyak dan roti yang masih mengapung di telaga, karena tidak ada ikan lele yang memakannya. “Namun yang mengejutkan, setelah enam bulan sama sekali tidak ada ikan di telaga, tiba-tiba muncul ikan emas, ikan wader sebesar kaki orang dewasa. Sedangkan ikan-ikan lele yang biasa menghuni telaga baru muncul beberapa bulan sejak 2017,” kata Sabar.

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Komentar